Rabu, 28 November 2018

TOKOH PENTING DALAM PENYEBARAN GEREJA DI Nusa Tenggara Timur (NTT)

                    I.         Latar Belakang Masuknya Kekristenan di NTT[1]
Menurut dokumentasi Cina, pada abad ke-7 Timor sudah dikenal dengan sumber kayu cendana terbaiknya yang mungkin sudah diperdagangkan di Indonesia barat bahkan hingga ke India pada tahun 100 atau 200 M. [2] Menurut Tome Pires, para pedagang India sudah memasuki Timor untuk mencari kayu cendana, lilin, dan rempah-rempah sebelum orang-orang Portugis berlayar ke Timor.[3] Masuknya kekristenan di Nusatenggara Timur diawali oleh suatu ketertarikan di dalam perniagaan terhadap kayu cendana yang dibutuhkan oleh negara tetangga yaitu India dan Tiongkok. Jenis kayu ini sangat digemari oleh mereka sehingga membuat orang-orang Portugis ingin menguasai NTT.
Pada tahun 1550, banyak kapal Portugis berdatangan setiap tahunnya untuk mengambil kayu cendana dan yang menjadi pusatnya ialah Solor, sebelah timur pulau Flores. Sejarah gereja di NTT dimulai oleh pater Antonio Taveira yang berasal dari ordo Dominikan pada tahun 1556 yang membaptis 5.000 orang di Timor dan banyak orang di Larantuka. Dua langkah yang diambil untuk kelanjutan kekristenan di sini yaitu mengutus dua orang pemuda ke Malaka untuk mendapat pendidikan di sana agar mereka dapat mengajar bangsa mereka sendiri. Yang kedua yaitu para pater membangun benteng di Solor untuk melindungi diri dari serangan orang Makassar dan Jawa. Pater bertindak sebagai kepala negara di daerah benteng itu dan ada seorang panglima yang diangkat untuk membantunya. Selain itu dibangun juga benteng di Ende di bawah pimpinan para pater itu.
Orang-orang Kristen berkembang menjadi 25.000 jiwa yang berpusat di Solor pada akhir abad ke-16. Juga terdapat perkampungan Portugis dan orang asing yang berjumlah sekitar 2.000 jiwa, 1.000 jiwa pribumi Katolik. Jemaat ini merupakan Kristen-Portugis yang dipimpin oleh ordo Dominikan. Para pemuda yang diutus ke Malaka menjadi murtad setelah mereka kembali ke kampung. Terjadi perpecahan di dalam kampung itu menjadi dua golongan yaitu Demon dan Paji. Pemimpin dari Paji ditahan oleh Portugis namun mendapat perlawanan dari golongan ini karena rakyat menderita karena beban pajak dan kerja rodi yang diberikan. Banyak jemaat menjadi murtad dan beberapa pastor yang dibunuh. Jumlah orang Kristen semakin berkurang.
Orang Belanda datang ke sana pada tahun 1613 dan merebut benteng di Solor. Kelompok Paji yang sudah murtad ke agama suku dan Islam berpihak kepada Belanda. Sedangkan kelompok Demon yang beragama Katolik berpihak kepada Portugis. Selanjutnya, terjadilah perebutan NTT di antara orang Portugis dan Belanda yang menyerupai keadaan Maluku selama abad ke-17.
Ketika Belanda cukup menguasai Nusantara, mereka mengusir Portugis dan menyudutkannya meskipun orang Portugis tetap berusaha mempertahankan "negara" Portugis dengan ibukota berada di Larantuka, ujung pulau Flores. Orang Belanda yang hendak membeli kayu cendana harus bertransaksi dengan "para pembesar imam" di Larantuka. Hasil keuntungannya menjadi penyokong pekerjaan Misi. Di sisi lain, kehidupan para pater Dominikan ini menjadi kehidupan duniawi, tidak menghiraukan janji selibat dan menjadi kaya raya. Hal ini serupa dengan kehidupan para paus di Abad Pertengahan.
Orang-orang Belanda merebut benteng di Solor pada tahun 1613 lalu mengirim dua orang pendeta untuk memimpin ribuan orang Kristen yang telah ada di sana. Namun dua pater tetap diizinkan berada di sana sehingga tetap terdapat Katolik yang anti-Belanda. Hal ini karena pulau Solor tidak sepenting Maluku dari segi ekonomi sehingga kurang mendapat perhatian Belanda. Pada tahun 1670 seorang pendeta dikirim oleh Belanda untuk menetap di benteng yang telah dibangun oleh mereka di Kupang. Pada tahun 1687 dikirim seorang pendeta yang menggantikan pendeta sebelumnya karena telah meninggal, namun tak lama kemudian juga ia meninggal dalam waktu yang singkat. Hal ini kerap terjadi sehingga mengganggu pekerjaan gereja VOC. Meskipun demikian hal tersebut membuahkan hasil karena agama Kristen Protestan mulai masuk dan diterima di Timor dan beberapa raja agar mereka dan para pengikutnya dibaptis sehingga jumlah pengikut Kristen menjadi 50-80 jiwa. Pendeta hanya mengunjungi mereka sesekali saja dan memberikan sakramen, tercatat hanya ada delapan kali sakramen antara tahun 1688-1730.
Para penghibur orang-orang sakit yang bekerja di benteng berpindah ke pihak Portugis sehingga orang Belanda mengangkat seorang guru pribumi yang bernama Paulus Kupang. Ia menjalankan tugasnya dengan begitu baik kemudian diangkat menjadi penghibur orang-orang sakit. Setelah ia meninggal, diangkatlah orang lain dari Ambon bernama Amos Thenu yang mampu berbahasa Belanda dengan sangat baik. Penghibur orang-orang sakit berkebangsaan Belanda diangkat sesudah Amos. Jumlah orang Kristen yang di bawah pimpinan Belanda mulai bertambah dari 84 jiwa hingga 460 jiwa (tahun 1719) dan terus berkembang hingga 1300-an jiwa (tahun 1753). Sekitar tahun 1740-an terjadi pertambahan jumlah orang Kristen secara massal di pulau Roti sebanyak ribuan orang yang dipelopori oleh seorang raja. Hal ini membuat Belanda mengirim seorang pendeta ke Kupang. Pelayanan secara teratur dapat diselenggarakan selama tahun 1753-1763 di Timor. Pada masa ini terjadi juga kegerakan kekristenan di pulau Sawu.

Ada nya persamaan corak berpikir antara lingkukan Portugis-Katolik dan Belanda-Protestan. Pada tahun 1749, orang Portugis menyerang kupang dengan tentara yang kuat. Orang Belanda dan sekutu terkejut, namun di tempat itu pendeta berbicara dengan bernubuat dari Kitab Hakim-Hakim 7:9. Dan menurut laporan nya, ketika Portugis menyerang, bala tentara itu menjadi kacau balau. Kemenangan ini membuat wibawa dan wibawa agama orang-orang Belanda naik, dan justru pada tahun itu mulai meluas.

Zaman VOC
Namun perluasan itu datang terlambat. Setelah tahun 1770, tidak ada lagi pendeta menetap di Kupang dan kungjungan pendeta pun berhenti. Ternyata agama Kristen Protestan sudah dimasukkan dan dipelihari dengan setia, tetapi belum betul-betul meresap.

Ringkasan
Agama Kristen dibawa ke Nusatenggara Timur mulai tahun 1556 oleh Portugis dan Belanda. Gereja Katolik-Roma maupun gereja Protestan mempunyai pangkalan di NTT. Tetapi perkembangan nya yang lebih luas baru pada abad ke-19 dan ke-20.

Gereja di Timor dan sekitarnya sampai NZG menarik diri (±1800-1860)
Di Nusatenggara Timur, orang belanda hanya menguasai beberapa daerah di pulau Timor, dengan kota kupang sebagai pusat, dan ada pulau Rote.
Disana, agama Kristen belum berakar kuat. Jemaat Protestan di Kupang, Babau (Timor Barat), dan di pulau Rote adalah hamper sepuluh ribu orang. Jemaat ini dikunjungin pendeta pada tahun 1802-1819, dan sebelum itu mereka jarang sekali mendapat pelayanan. Dan jemaat Katolik-Roma di Timor Portugis dan di Flores kira-kira sama dengan jumlah orang Protestan.
Di Maluku, Minahasa, dan di Timor, pemerintah Hindia-belanda baru measa bertanggungjawab atas jemaat Kristen yang merupakan warisan dari zaman VOC waktu itu. Pada tahun 1819, pemerintah mengangkat R. Le Brujin, menjadi pekabar Injil di Maluku, menjadi pejabat-pejabat di Kupang. Ia melakukan berbagai pelayanan terutama jemaat di Kupang, dengan kotbah, pertemuan doa, katekisasi, mendirikan sekolah, dan menyediakan bacaan Kristen. Dan ia juga menerjemahkan nyanyian “kabaran Injil” dalam bahasa melayu dan bukan bahasa daerah (bahasa Rote, ataupun bahasa orang Timor asli).
Maksudnya adalah supaya jemaat Kristen di Kupang menjadi pangkalan untuk pekabaran Injil. Ia juga mendirikan pula sebuah “lembapa PI pembantu”, dan kepada NZG, Ia terus meminta tenaga pembantu. Akhirnya dikirim lima orang Timor. Di banyak tempat uga didirikan sekolah-sekolah. Di kupang sendiri, Le Brujin mengabarkan Injil di kalangan budak-budak.
Pekabaran Injil mulai mengalami banyak rintangan, Le brujin meninggal tidak lama sesudah utusan baru mulai bekerja (1829). Ia digantikan oleh Terlinden, dan Terlinder pun meninggal sesudah tiga tahun. Penggantinya adalah orang yang kurang bijaksana dan suka bertengkar. Dari  15 orang yang di utus NZG ke timor dalam tahun 1829-1850, semuanya tidak bekerja dengan baik. Para pekerja di pulau Barat Daya dan zendeling di Rote, mereka semua mengalami banyak bencana alam. Di Timor sendiri orang tidak bekerja di kalangan suku Timor-asli, mungkin karena tenaga tidak mencukupi; dan pekerjaan di daerah Kupang dan Babau yang sempit itupun dihalangi oleh peperangan antar-suku dan oleh sikap orang-orang Eropa. Akhirnya NZG tidak mau lagi membuang tenaga dan uang untuk Timor.
Di Timor, ada pengaruh agama kafir dalam jemaat dan kemerosotan taraf hidup rohani. Di lain pihak, ada pula berita mengenai orang-orang perorangan yang menerima dan menghayati iman Kristen seperti yang diberitakan oleh Le Brujin dan kawan-kawan.

     I.         Tokoh Penting Pertama
Nama   : R. Le Brujin
Peran   : dari buku Chatolics in Indonesia 1808-1900, diantara 1765-1820 jemaat Kristen di kupang hanya dikunjungi oleh sedikit sekali Pelayan dati Batavia. Inisiatif baru dimulai oleh Le Brujin ini untuk menginjil atas nama Netherlandsc Zendelinggenootschap ( Dutch Missionary Society) dan pada akhirnya Le Brujin berhasil mengembangkan Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia.[4]


Tenaga Pribumi dimanfaatkan sebagai pengajar
Harus diketahui bahwa jumlah jemaat yang harus dilayani pendeta pembantu /zendeling di NTT kecil saja. Di tahun 1899 terdapat 34 jemaat dengan jumlah sekitar 15.000 orang kristen,  3.500 di Timor, sekitar 8.000 di Rote dan sekitar 4.000 di Sawu. Berlainan dengan keadaan di Maluku dan di Minahasa , di Timor tidak diperlukan sepasukan besar guru dan pendeta Indonesia, dan selama abad ke-19 belum dianggap perlu mendirikan sebuah lembaga pendidikan bagi mereka. Mereka dididik di rumah pendeta Belanda, atau dikirim ke luar daerah (pada tahun 1895, 5 pemuda Sawu dikirim ke Tomohon). Pada tahun 1902 barulah didirikan pendidikan pendeta pribumi berkhusus empat tahun  di Ba’a  ( Rote, 1920 dipindahkan ke kupang, 1936 di SoE). Harus diketahui bahwa para pendeta pribumi ini memimpin kebaktian hari minggu dan kumpulan (bidston) di kampung-kampung yang termasuk jemaatnya; mereka juga pergi menengok orang sakit dan pada pagi hari mereka merangkap guru sekolah. Pada kenyataannya sekolah itu adalah sekolah gereja. Tetapi pada tahun 1858 pemerintah telah mengambil ahli semua sekolah zending, dan GPI secara resmi tidak boleh memegang sekolah . Namun, demi kepentingan penginjilan, di banyak tempat gereja tersebut mendirikan sekolah-sekolah, yang dibiayai oleh jemaat Kupang dan yang gurunya ialah pendeta pribumi setempat.

Metode PI.
Meskipun pendeta Belanda yang membaptis orang-orang Kristen baru itu, tetapi usaha PI terutama dilakukan oleh tenaga Indonesia . Mereka memakai berbagai cara untuk menarik orang kafir ke dalam agama Kristen. Umpamanya,
1.     mereka mengunjungi di rumah-rumah mereka. Orang yang dikunjungi itu tentu tidak langsung masuk Kristen, tetapi kini ia mengetahui bahwa ada agama baru.  Lalu misalnya di rumah itu ada yang jatuh sakit, dan orang mau mengadakan percobaan : sang pendeta dipanggil untuk berdoa. Kalau si sakit sembuh maka kemungkinan besar dia bersama keluarganya bertobat.
2.     Kesempatan lain muncul pada waktu orang mengadakan pesta ( yang di Timor sering terjadi). Sementara orang menunggu hidangan disajikan, penginjil dapat berbicara mengenai kebaikan dan kejahatan , mengenai kehidupan di seberang maut (khususnya pada pesta kematian), mengenai roh-roh serta dewa-dewa, dan seterusnya, sambil mengemukakan pandangan Kristen.
3.     Bisa juga, kalau penginjil ( yang kebanyakan orang Rote) sudah menguasai bahasa daerah, ia pada malam hari duduk-duduk bersama dengan orang setempat, yang sudah Kristen dan menganut agama suku, omong-omong mengenai hal agama.
4.     Sekolah merupakan sarana PI yang penting.
5.     seseorang yang menjalajahi daerah NTT. setelah menjadi Kristen, ia pasti akan menyebarkan kisah agama-agama ke mana-mana. misalnya, ada orang dari pulau Ndao, yang menjalajahi daerah NTT selaku pandai emas dan perak. Setelah menjadi Kristen, mereka pun membawa kisah agama ke mana-mana.

Baptisal Massal.
            Perluasan yang secepat itu ditampung dengan metode pembaptisan massal. Ciri Massal dalam upacara pembaptisan itu begitu menonjol, sehingga kadang kala sang pendeta Belanda sibuk melayankan baptisan sampai dua hari lamanya di satu tempat. Konon pernah tugas yang melelahkan itu mau dijadikan lebih ringan : para calon dikumpulkan dan disirami air , sementara rumus trinitaris diucapkan. Soalnya, sampai tahun 1926 hanya tenaga belanda yang boleh membaptis orang. Syarat-syarat baptisan sangat ringan. Cukuplah kalau orang menyerahkan benda-benda yang berkaitan dengan agama mereka yang lama dan menghafal Doa Bapa kami ( bisanya dalam bahasa melayu).

Kehidupan Jemaat
Akibat pemakain metode yang digambarkan di atas, pelajaran agama bagi orang yang sudah dibaptis itu menjadi sangat penting . Ada berita tentang seorang penghantar jemaat yang tua pada tahun 1920-an, yang mengadakan pelajaran Alkitab tiap pagi dan soreh di kampung-kampung yang dilayaninya, disamping berkhotbah pada hari minggu, Di ketekisasi ia mengajari calon baptisan dan calon sidi; ia mengajarkan agama-agama di sekolah; selain itu, penghantar jemaat itu memimpin paduan suara, berkunjung ke rumah orang Kristen dan yang bukan orang Kristen , memimpin kebaktrian penguburan serta perkawinan, mengunjungi serta mendoakan orang sakit, mendamaikan perselisihan, dan seterusnya.  Di tengah orang yang baru menjadi kristen itu, disiplin dipertahankan dengan cukup ketat. Kalau orang yang melakukan pelanggaran tidak boleh mengambil nagian dalam Perjamuan Kudus. Kalau pelanggar itu belum sidi, ia diancam tak akan mendapat penguburan secara Kristen kalau penyembah berhala terus atau tidak setia mengikuti kebaktian. Ancaman itu biasanya dihiraukan juga, karena penguburan kristen itu dianggap membuka pintu sorga bagi si mati. Orang yang beristri lebih dari satu atau yang menikah hanya secara adat, sehingga mereka itu seakan-akan kena hukuman  disiplin seumur hidup, mulai dari saat mereka dibaptis.  Anak-anak yang lahir di luar nikah tidak dilayani baptisan. Berlainan dengan di Minahasa, di Timor aturan ini bisa dipertahankan, kerena belum ada persaingan yang berarti dari pihak misi.

Kegiatan P. Middelkoop
            Dalam melakukan kegiatan-kegiatan itu biasanya memakai bahasa melayu, namun di daerah suku Timor monopoli bahasa melayu itu ditentang dengan gigih oleh pendeta bantu resort Timor Tengah Selatan, yaitu P. Middelkoop (1922-1957 di Timor). Pada waktu menerima pendidikan di NZS, Middelkoop ingin menjadi seorang pekabar Injil, namun ia kecewa ketika ia diutus selaku pendeta bantu GPI. Kemudian Middelkoop mendalami bahasa daerah (bahasa Timor atau Dawan). Ia mempelajari bahasa sehari-hari dan bahasa tinggi, kebudayaan, agama, dam sejarah suku Timor, dengan maksud supaya Kabar Baik disalin kedalam bahasa dan kedalam pola berpikir orang Timor. Pada tahun 1928 konferensi pendeta-pendeta bantu di Timor mengizinkan penerbitan buku cerita-cerita Alkitab dalam bahasa Timor. Pada tahun 1937, pengurus GPI malah memberinya tugas untuk mengupayakan terbitan-terbitan dalam bahasa Timor. Mulai tahun 1924 ia juga mengubah nyanyian-nyanyian rohani ke dalam bahasa Timor. Dalam usaha menggarap terjemahan Alkitab, Middelkoop didampingin oleh orang-orang Timor, seperti Pdt. T. Benoefinit dan guru T. Toto. Kemudian semasa Middelkoop hidup di Timor Tengah Selatan, jumlah orang Kristen bertambah dari 500 orang menjadi 80.000 orang.
Perluasan dan Organisasi
Di NTT, perluasan gereja yang pesat menyebabkan tangga hierarki bertambah panjang. Penatua dan diaken diangkat oleh pendeta (kecuali di jemaat yang lama). Beberapa anggota jemaat ditetapkan menjadi pembantu agama. Fungsi ini tetap ada, meskipun kemudian dijemaat yang bersangkutan ada majelis. Maka ketiga jabatan tersebut merupakan anak-anak tangga yang paling bawah.

   II.         https://i1.wp.com/infontt.com/wp-content/uploads/2016/02/Dr.-P.-Middelkoop-e1455876343802.jpgTokoh Penting Kedua
Nama   : Dr. P. Middlekoop
Peran   : Karya penerjemahan Alkitab di pulau Timor pada tahun 1925-1947 akan dikenang selalu oleh warga gereja di pulau Timor. Alkitab PB dalam Uab Meto’ menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Atoni’ di Timor pedalaman. Orang akan selalu mengenang Dr. P. Middelkoop yang tulisannya tentang Atoni Pah Meto’ dan tulisan-tulisan lainnya, tentu terutama dan teristimewa Perjanjian Baru dalam Uab Meto’. Apakah orang tahu bahwa Tuan Middelkoop telah menyelesaikan seluruh Alkitab dalam usaha menerjemahkannya? Usaha untuk menyelesaikan penerjemahan seluruh alkitab tidak berhenti oleh Tuan Middelkoop, namun belum sampai selesai. Dalam satu rapat (19/02/2016) di kantor Unit Bahasa dan Budaya Kupang, karya-karya Dr. P. Middlekoop ditunjukkan kepada para peserta rapat. Menurut Prof. Charles Grimes, sebagai orang yang diberi kepercayaan, dokumen-dokumen itu adalah asli ketikan dari Tuan Middlekoop sendiri. Prof. Charles Grimes menyebut Dr. P. Middelkoop dengan sebutan Tuan Middelkoop. Menurut Prof. Grimes, sebelumnya buku-buku itu diserahkan oleh Tuan Middlekoop kepada Prof. James Fox.[5]
Penerjemahan Perjanjian Baru ke bahasa Lokal merupakan jasa yang besar dan perlu di apresiasi. Oleh sebab itu Dr Middlekoop masuk ke dalam salah satu tokoh penting dalam penyebaran Kekristenan di daerah NTT.

GMIT sejak tahun 1947
            Selama tahun 1947-1950, ketua Sinode tetap seorang pendeta Belanda, dan biaya kehidupan gereja ditanggung oleh pemerintah. Tetapi pada tahun 1950 perubahan mulai terasa benar. Tempat ketua Sinode diduduki seorang Indonesia (yaitu Pdt. J.L. Ch. Abineno), dan pemerintah mengakhiri pembayaran gaji serta sokongan lain yang masih tersisah dari zaman gereja negara. Dengan demikian GMIT benar-benar berdiri sendiri.
Perluasan
            Tanggung jawab GMIT sendiri ialah karya pengabaran Injil kepada penduduk Nusa Tenggara Timur yang belum mengenalnya. Dalam tahun-tahun 1950-an, pertumbuhan gereja tidak banyak melebihi laju pertambahan penduduk. Menurut kesaksian pemimpin gereja sendiri, pada masa itu dikalangan anggota jemaat terdapat kelesuan dan sikap masa bodoh terdapat kewajiban perkabaran Injil. Keadaan ini merupakan akibat suasana yang terdapat sebelum tahun 1947, ketika pemimpin gereja bangsa Belanda bertanggung jawab atas segala kegiatan gereja. Sebaliknya, dalam dasawarsa berikutnya jumlah anggota GMIT bertambah dengan pesat, sehingga dalam waktu beberapa tahun hampir berlipat dua. Sebabnya adalah peristiwa tahun 1965, yang menyebabkan banyak orang mengalir ke gereja agar terlindung dan terhibur. Lalu faktor lain adalah adanya pengaruh dari Institut Injili di Indonesia (I.I.I) di Batu Malang. Diantara para siswa Institus itu yang terbanyak adalah anak dari Nusa Tenggara Timur. Kemudian setelah itu, mereka membentuk tim-tim penginjil, dengan pusat di Soe. Mereka berupaya untuk menampung arus orang yang berbondong-bondong masuk ke gereja. Akibat kedua faktor ini, jumlah anggota gereja pada tahun 1948 berkisar sekitar 200.000, dan pada tahun 1971, naik menjadi 517.000, kemudian warga GMIT dikatakan telah berjumlah 1.075.000.

III.         Tokoh Penting Ketiga.
Nama   : J. L. Ch. Abineno
Peran   : Perkembangan pokok di masa 1947-1950
a)     Mendidik jemaat-jemaat yang telah biasa hidup dalam suasana Indische Kerk tentang apa artinya gereja yang berdiri sendiri dibidang pelayanan, tanggung jawab keuangan, administrasi, dan lain-lain.
b)    Tata gereja yang dipakai ialah boleh dikatakan modifikasi dari praktek pada waktu itu dengan warisan dari periode-periode yang lalu.
c)     Dalam periode ini terjadi perpisahan finansial antara gereja dan negara.

Masa 1950-1975 ditandai oleh pimpinan yang baru dan situasi yang baru pula
Masa ini diawali oleh pengangkatan tenaga-tenaga luar negeri. Hanya Dr. Middelkoop yang tinggal di Soe, khususnya untuk pekerjaan penterjemahan Alkitab dalam bahasa Timor. Hal ini memberikan kesempatan bagi GMIT agar dengan bebas mengusahakan pola-pola dan bentuk-bentuk pelayanan sendiri. Usaha pertama ialah menyusun tata gereja baru, yang Theologis dapat lebih dipertanggungjawabkan tata gereja ini yang disyahkan pada tahun 1952 kemudian 1972 diperluas tapi isinya tetap sama. Pada waktu itu banyak pekerjaan di bidang liturgi. Juga ada studi dan percakapan tentang apa itu perjamuan, apa itu perkawinan, apa itu disiplin gereja.
Pimpinan sinode masa itu:
1950 – 1952 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. A.J. Toelle
1952 – 1953 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. B. Meroekh
1954 – 1956 : ketua Pdt. M. Bolla; sekretaris Pdt. L. Radja Haba
1956 – 1958 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. L. Radja Haba
1958 – 1960 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. A. Dethan
Masa 1960 – 1970 suatu periode dimana dicoba cara ini dan itu mengatasi kesulitan, khususnya kekurangan keuangan, tetapi ciri utama nampaknya kelemahan dalam perkembangan GMIT. Masa ini dapat dibagi dalam dua sub periode.
a.    1960 – 1965 keadaan masyarakat, politik ekonomi yang semakin ambruk, berakhir dalam Nasakom yang pengaruhnya agak besar di beberapa daerah GMIT dan G30S PKI.
b.    1960 – 1970 periode ini meliputi gerakan Roh yang berpusat di Soe dan TTS umumnya, pada satu pihak dan permulaan masa pembangunan di lain pihak.
Tidak terdapat angka yang lengkap dan dapat dipercayai untuk tahun 1974 akan tetapi untuk 1953 jumlah anggota 253.501 dan untuk 1972 yaitu 517.779
Maka disini kita dapat melihat peran dari Ch Abineno, yaitu memimpin GMIT selama kurang Lebih 10 tahun untuk melakukan pembaharuan bagi gereja di NTT. Perlu diapresiasi juga kerja sama dengan Dr. Middlekoop, yang memang memiliki hati untuk NTT.

Kehidupan gereja
Dalam hal pekabaran injil, dan dalam hal organisasi dan keuangan gereja sangat terlihat pengaruh warisan dari zaman Belanda. Dalam GPI, gereja terdiri dari pejabat-pejabat gereja dan bukan dari majelis-majelis yang beranggota kaum awam. Akibatnya dalam lingkungan GPI komunikasinya tetap berjalan lancar, tetapi anggota jemaat kurang terlatih untuk beroganisasi. Pada tahun 1947, GMIT memperoleh oraganisai persbiterial, dengan jaringan berupa Majelis jemaat, Majelis Klasik, Majelis Sinode. Namun karena kurang berpengalaman, hubungan antara ketiga jenis itu tidak berjalan lancar. Misalnya, badan-badan pusat tidak tahu berapa jumlah anggota jemaat dan jumlah tenaga yang ada. Dipihak lain jemaat tidak peduli akan posisi dan kewajiban yang telah ditetapkan secara bersama dalam sidang sinode, yaitu untuk mengirim 10% dari seluruh pendapatan kas  jemaat kepada sinode. Pemimpin GMIT berupaya untuk mengisi  kas yang kosong dengan mendirikan pusat latihan Kader kesejahteraan, yang diharapkan, menjadi pusat pembagian, akan menghasilkan uang bagi kas sinode. Tetapi usaha itu gagal, di tingkat jemaat juga terdapat kesulitan keuangan , sebab slama masa Belanda anggota jemaat tidak diajarkan untuk menanggung gaji pengajar jemaat dan biaya lainnya, sampai sekarang, GMIT belum berhasil menangani kesulitan-kesulitan secara tuntas.
Selama tahun 1965-1969 berlangsung gerakan kebangunan rohani di Timor dan di pulau-pulau sekitarnya. Gerakan itu demikian kuat, sehingga menghebohkan GMIT dan gereja lain  yang di dalam maupun yang di luar negeri, sebenarnya gerakan itu bukanlah gejala yang baru di Timor. Tetapi selain gerakan Roh yang telah berlangsung di kisar pada tahun 1921, telah menjadi gerakan yang serupa dengan yang dialami di Timor pada tahun 1943 jaunya lebih luas dan dalam. Kenyataan itu bersumber pada kesulitan yang di alami oleh rakyat di Timor pada umumnya dan pada gereja-gereja Kristen yang khusunya selama masa menjelang peristiwa G3OS-PKI, (partai komunis), pada waktu itu dipengaruhi oleh partai komunis serta organisasi-organisasi yang berkembang pesat dan gereja tedesak. Pada masa itu juga Timor mengalami masa kekeringan dan kekurangan makanan yang menjadi langka, dan di akhir tahun 1965 keadaan sudah kembali mengalami perubahan yang dramatis.

 Sehingga pada masa itulah masa  kebangkitan rohani diantara pemuda di Soe, baik yang belajar di SGA dan SMA maupun yang sudah bekerja, mereka tetap mengadakan pertemuan doa, penelaahan Alkitab, dan paduan suara dan pembentuikan kelompok-kelompok dan mengadakan pekabaran injil, sekitar 70-90 kelompok di SoE dan di sekitarnya. Pekerjaannya berdasarkan  penglihatan yang membuat mereka merasa di panggil oleh Roh kudus untuk melakukan kegiatan di tempat terentu. Sasarannya orang yang beragama lain, dan juga orang beragama kristen stastistik,  mereka mengajak orang-orang agar menyerahkan jimatnya untuk di binasakan, mereka membawa orang-orang kepada pengakuan dosa-dosanya dan ke pertobatan. Mereka memberi kesaksian tentang kekuasaan Allah dalam hidup mereka sendiri dan juga orang lain dan mereka membuktikan kekuasaan Allah itu dengan menyembuhkan orang sakit , mengusir setan, memperdamaikan orang yang beselisihan. Hal-hal ini dilakukan sama seperti yang di lakukan di perjanjian Baru. Mereka memberitahukan kepada orang-orang bahwa mereka mengalami mukjizat-mukjizat seperti yang diberitahukan dalam kitab Injil.

Gerakan Roh dan gereja
Di kalangan pimpinan GMIT dari semula terdapat sikap yang waswas. Bahkan pertentangan, berhadapan dengan kegerakan kebangunan itu. Salah satu faktor gerakan itu di selengarakan oleh para pemuda “awam” berdasarkan wibawa yang berifat kharisma ( karunia Roh) bukan jabatan gereja. Suasana inilah yang dianggap tidak cocok dengan suasana Hervomd Belanda yang di wariskan kepada GMIT dengan perantara gereja Protestan (indische kerk ). Ekses-ekses yang terjadi memperkuat   pertentangan oleh pejabat gereja.dan meyebab  banyak orang kehilangan kepercayaan pada tahun 1969. Derah Timur Tengah Selatan yang paling banyak terpengaruh oleh gerakan Roh, di tahun 1970 islam masuk dan dan mereka mencatat bahwa pada waktu itu gerakan kebangunan itu ke keretakan GMIT.

Kesimpulannya
Sampai tahun 1997, gereja di NTT tidak berhasil menembus batas-batas daerah yang sudah berlaku sejak abad-18. Masa 1910 -1940 merupakan masa perluasan, dipualu-pulau dan di Timur dan Alor  (Minahasa 1840-1880, Maluku Selatan  1910-1940) dan perluasan ini meningkat dari semangatnya PI dalam GPI lainnya. Dan polanya juga berlaku di setiap GPI lainya: baptisasn massal, pemisahan sakramen, dan juga tindakan-tindakan yang membuat gereja menjadi mandiri. Dan akibatnya pada tahun 1947 GMIT berdiri ssendiri secara lahir , tetap belum siap secara batin dan gerakan Roh pada tahun 1965-1969 merupakan peritiwa yang penting dalam kehidupan GMIT, khususnya di darah Timur Tengah Selatan. Tetapi gerakan itu tidak banyak membantu gereja mengatasi kesulitan yang dialaminya.



[1] Dr. Th. van den End, "Ragi Carita 1", (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 87-92)
[2] David Hicks, "Tetum Ghosts and Kin: Fertility and Gender in East Timor, Second Edition", (Illinois, USA: Waveland Press, 2003), hlm. 4.
[3] David Hicks, Ibid.

[4] Karel Steenbrink, Chatolics in Indonesia 1808-1900, (Dutch: KITLV Press, 2002) 11.
[5] https://infontt.com/2016/02/19/karya-tuan-middelkoop/ diakses pada 1 October 2017 pada pukul 15:30 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar