Menurut
dokumentasi Cina, pada abad ke-7 Timor sudah dikenal dengan sumber kayu cendana
terbaiknya yang mungkin sudah diperdagangkan di Indonesia barat bahkan hingga
ke India pada tahun 100 atau 200 M. [2] Menurut Tome Pires, para
pedagang India sudah memasuki Timor untuk mencari kayu cendana, lilin, dan
rempah-rempah sebelum orang-orang Portugis berlayar ke Timor.[3] Masuknya kekristenan di
Nusatenggara Timur diawali oleh suatu ketertarikan di dalam perniagaan terhadap
kayu cendana yang dibutuhkan oleh negara tetangga yaitu India dan Tiongkok.
Jenis kayu ini sangat digemari oleh mereka sehingga membuat orang-orang
Portugis ingin menguasai NTT.
Pada
tahun 1550, banyak kapal Portugis berdatangan setiap tahunnya untuk mengambil
kayu cendana dan yang menjadi pusatnya ialah Solor, sebelah timur pulau Flores.
Sejarah gereja di NTT dimulai oleh pater Antonio Taveira yang berasal dari ordo
Dominikan pada tahun 1556 yang membaptis 5.000 orang di Timor dan banyak orang
di Larantuka. Dua langkah yang diambil untuk kelanjutan kekristenan di sini
yaitu mengutus dua orang pemuda ke Malaka untuk mendapat pendidikan di sana
agar mereka dapat mengajar bangsa mereka sendiri. Yang kedua yaitu para pater
membangun benteng di Solor untuk melindungi diri dari serangan orang Makassar
dan Jawa. Pater bertindak sebagai kepala negara di daerah benteng itu dan ada
seorang panglima yang diangkat untuk membantunya. Selain itu dibangun juga
benteng di Ende di bawah pimpinan para pater itu.
Orang-orang
Kristen berkembang menjadi 25.000 jiwa yang berpusat di Solor pada akhir abad
ke-16. Juga terdapat perkampungan Portugis dan orang asing yang berjumlah
sekitar 2.000 jiwa, 1.000 jiwa pribumi Katolik. Jemaat ini merupakan
Kristen-Portugis yang dipimpin oleh ordo Dominikan. Para pemuda yang diutus ke
Malaka menjadi murtad setelah mereka kembali ke kampung. Terjadi perpecahan di
dalam kampung itu menjadi dua golongan yaitu Demon dan Paji. Pemimpin dari Paji
ditahan oleh Portugis namun mendapat perlawanan dari golongan ini karena rakyat
menderita karena beban pajak dan kerja rodi yang diberikan. Banyak jemaat
menjadi murtad dan beberapa pastor yang dibunuh. Jumlah orang Kristen semakin
berkurang.
Orang
Belanda datang ke sana pada tahun 1613 dan merebut benteng di Solor. Kelompok
Paji yang sudah murtad ke agama suku dan Islam berpihak kepada Belanda.
Sedangkan kelompok Demon yang beragama Katolik berpihak kepada Portugis.
Selanjutnya, terjadilah perebutan NTT di antara orang Portugis dan Belanda yang
menyerupai keadaan Maluku selama abad ke-17.
Ketika
Belanda cukup menguasai Nusantara, mereka mengusir Portugis dan menyudutkannya
meskipun orang Portugis tetap berusaha mempertahankan "negara"
Portugis dengan ibukota berada di Larantuka, ujung pulau Flores. Orang Belanda
yang hendak membeli kayu cendana harus bertransaksi dengan "para pembesar
imam" di Larantuka. Hasil keuntungannya menjadi penyokong pekerjaan Misi.
Di sisi lain, kehidupan para pater Dominikan ini menjadi kehidupan duniawi,
tidak menghiraukan janji selibat dan menjadi kaya raya. Hal ini serupa dengan
kehidupan para paus di Abad Pertengahan.
Orang-orang
Belanda merebut benteng di Solor pada tahun 1613 lalu mengirim dua orang
pendeta untuk memimpin ribuan orang Kristen yang telah ada di sana. Namun dua
pater tetap diizinkan berada di sana sehingga tetap terdapat Katolik yang
anti-Belanda. Hal ini karena pulau Solor tidak sepenting Maluku dari segi
ekonomi sehingga kurang mendapat perhatian Belanda. Pada tahun 1670 seorang
pendeta dikirim oleh Belanda untuk menetap di benteng yang telah dibangun oleh
mereka di Kupang. Pada tahun 1687 dikirim seorang pendeta yang menggantikan
pendeta sebelumnya karena telah meninggal, namun tak lama kemudian juga ia meninggal
dalam waktu yang singkat. Hal ini kerap terjadi sehingga mengganggu pekerjaan
gereja VOC. Meskipun demikian hal tersebut membuahkan hasil karena agama
Kristen Protestan mulai masuk dan diterima di Timor dan beberapa raja agar
mereka dan para pengikutnya dibaptis sehingga jumlah pengikut Kristen menjadi
50-80 jiwa. Pendeta hanya mengunjungi mereka sesekali saja dan memberikan
sakramen, tercatat hanya ada delapan kali sakramen antara tahun 1688-1730.
Para
penghibur orang-orang sakit yang bekerja di benteng berpindah ke pihak Portugis
sehingga orang Belanda mengangkat seorang guru pribumi yang bernama Paulus
Kupang. Ia menjalankan tugasnya dengan begitu baik kemudian diangkat menjadi penghibur
orang-orang sakit. Setelah ia meninggal, diangkatlah orang lain dari Ambon
bernama Amos Thenu yang mampu berbahasa Belanda dengan sangat baik. Penghibur
orang-orang sakit berkebangsaan Belanda diangkat sesudah Amos. Jumlah orang
Kristen yang di bawah pimpinan Belanda mulai bertambah dari 84 jiwa hingga 460
jiwa (tahun 1719) dan terus berkembang hingga 1300-an jiwa (tahun 1753).
Sekitar tahun 1740-an terjadi pertambahan jumlah orang Kristen secara massal di
pulau Roti sebanyak ribuan orang yang dipelopori oleh seorang raja. Hal ini
membuat Belanda mengirim seorang pendeta ke Kupang. Pelayanan secara teratur
dapat diselenggarakan selama tahun 1753-1763 di Timor. Pada masa ini terjadi
juga kegerakan kekristenan di pulau Sawu.
Ada nya persamaan corak
berpikir antara lingkukan Portugis-Katolik dan Belanda-Protestan. Pada tahun
1749, orang Portugis menyerang kupang dengan tentara yang kuat. Orang Belanda
dan sekutu terkejut, namun di tempat itu pendeta berbicara dengan bernubuat
dari Kitab Hakim-Hakim 7:9. Dan menurut laporan nya, ketika Portugis menyerang,
bala tentara itu menjadi kacau balau. Kemenangan ini membuat wibawa dan wibawa
agama orang-orang Belanda naik, dan justru pada tahun itu mulai meluas.
Zaman VOC
Namun perluasan itu datang
terlambat. Setelah tahun 1770, tidak ada lagi pendeta menetap di Kupang dan
kungjungan pendeta pun berhenti. Ternyata agama Kristen Protestan sudah
dimasukkan dan dipelihari dengan setia, tetapi belum betul-betul meresap.
Ringkasan
Agama Kristen dibawa ke
Nusatenggara Timur mulai tahun 1556 oleh Portugis dan Belanda. Gereja Katolik-Roma
maupun gereja Protestan mempunyai pangkalan di NTT. Tetapi perkembangan nya
yang lebih luas baru pada abad ke-19 dan ke-20.
Gereja
di Timor dan sekitarnya sampai NZG menarik diri (±1800-1860)
Di Nusatenggara Timur, orang
belanda hanya menguasai beberapa daerah di pulau Timor, dengan kota kupang
sebagai pusat, dan ada pulau Rote.
Disana, agama Kristen belum
berakar kuat. Jemaat Protestan di Kupang, Babau (Timor Barat), dan di pulau
Rote adalah hamper sepuluh ribu orang. Jemaat ini dikunjungin pendeta pada
tahun 1802-1819, dan sebelum itu mereka jarang sekali mendapat pelayanan. Dan
jemaat Katolik-Roma di Timor Portugis dan di Flores kira-kira sama dengan
jumlah orang Protestan.
Di Maluku, Minahasa, dan di
Timor, pemerintah Hindia-belanda baru measa bertanggungjawab atas jemaat
Kristen yang merupakan warisan dari zaman VOC waktu itu. Pada tahun 1819,
pemerintah mengangkat R. Le Brujin,
menjadi pekabar Injil di Maluku, menjadi pejabat-pejabat di Kupang. Ia
melakukan berbagai pelayanan terutama jemaat di Kupang, dengan kotbah,
pertemuan doa, katekisasi, mendirikan sekolah, dan menyediakan bacaan Kristen.
Dan ia juga menerjemahkan nyanyian “kabaran Injil” dalam bahasa melayu dan
bukan bahasa daerah (bahasa Rote, ataupun bahasa orang Timor asli).
Maksudnya adalah supaya jemaat
Kristen di Kupang menjadi pangkalan untuk pekabaran Injil. Ia juga mendirikan
pula sebuah “lembapa PI pembantu”, dan kepada NZG, Ia terus meminta tenaga
pembantu. Akhirnya dikirim lima orang Timor. Di banyak tempat uga didirikan
sekolah-sekolah. Di kupang sendiri, Le Brujin mengabarkan Injil di kalangan
budak-budak.
Pekabaran Injil mulai
mengalami banyak rintangan, Le brujin meninggal tidak lama sesudah utusan baru
mulai bekerja (1829). Ia digantikan oleh Terlinden, dan Terlinder pun meninggal
sesudah tiga tahun. Penggantinya adalah orang yang kurang bijaksana dan suka
bertengkar. Dari 15 orang yang di utus
NZG ke timor dalam tahun 1829-1850, semuanya tidak bekerja dengan baik. Para
pekerja di pulau Barat Daya dan zendeling di Rote, mereka semua mengalami
banyak bencana alam. Di Timor sendiri orang tidak bekerja di kalangan suku
Timor-asli, mungkin karena tenaga tidak mencukupi; dan pekerjaan di daerah
Kupang dan Babau yang sempit itupun dihalangi oleh peperangan antar-suku dan
oleh sikap orang-orang Eropa. Akhirnya NZG tidak mau lagi membuang tenaga dan
uang untuk Timor.
Di Timor, ada pengaruh agama
kafir dalam jemaat dan kemerosotan taraf hidup rohani. Di lain pihak, ada pula
berita mengenai orang-orang perorangan yang menerima dan menghayati iman
Kristen seperti yang diberitakan oleh Le
Brujin dan kawan-kawan.
I.
Tokoh Penting Pertama
Nama : R. Le Brujin
Peran : dari buku Chatolics in Indonesia 1808-1900,
diantara 1765-1820 jemaat Kristen di kupang hanya dikunjungi oleh sedikit
sekali Pelayan dati Batavia. Inisiatif baru dimulai oleh Le Brujin ini untuk
menginjil atas nama Netherlandsc Zendelinggenootschap
( Dutch Missionary Society) dan pada akhirnya Le Brujin berhasil mengembangkan
Pelayanan Gereja Protestan di Indonesia.[4]
Tenaga Pribumi dimanfaatkan sebagai pengajar
Harus diketahui
bahwa jumlah jemaat yang harus dilayani pendeta pembantu /zendeling di NTT
kecil saja. Di tahun 1899 terdapat 34 jemaat dengan jumlah sekitar 15.000 orang
kristen, 3.500 di Timor, sekitar 8.000
di Rote dan sekitar 4.000 di Sawu. Berlainan dengan keadaan di Maluku dan di
Minahasa , di Timor tidak diperlukan sepasukan besar guru dan pendeta
Indonesia, dan selama abad ke-19 belum dianggap perlu mendirikan sebuah lembaga
pendidikan bagi mereka. Mereka dididik di rumah pendeta Belanda, atau dikirim
ke luar daerah (pada tahun 1895, 5 pemuda Sawu dikirim ke Tomohon). Pada tahun
1902 barulah didirikan pendidikan pendeta pribumi berkhusus empat tahun di Ba’a
( Rote, 1920 dipindahkan ke kupang, 1936 di SoE). Harus diketahui bahwa
para pendeta pribumi ini memimpin kebaktian hari minggu dan kumpulan (bidston)
di kampung-kampung yang termasuk jemaatnya; mereka juga pergi menengok orang
sakit dan pada pagi hari mereka merangkap guru sekolah. Pada kenyataannya
sekolah itu adalah sekolah gereja. Tetapi pada tahun 1858 pemerintah telah
mengambil ahli semua sekolah zending, dan GPI secara resmi tidak boleh memegang
sekolah . Namun, demi kepentingan penginjilan, di banyak tempat gereja tersebut
mendirikan sekolah-sekolah, yang dibiayai oleh jemaat Kupang dan yang gurunya
ialah pendeta pribumi setempat.
Metode PI.
Meskipun
pendeta Belanda yang membaptis orang-orang Kristen baru itu, tetapi usaha PI
terutama dilakukan oleh tenaga Indonesia . Mereka memakai berbagai cara untuk
menarik orang kafir ke dalam agama Kristen. Umpamanya,
1.
mereka mengunjungi di rumah-rumah mereka. Orang yang dikunjungi itu
tentu tidak langsung masuk Kristen, tetapi kini ia mengetahui bahwa ada agama
baru. Lalu misalnya di rumah itu ada
yang jatuh sakit, dan orang mau mengadakan percobaan : sang pendeta dipanggil
untuk berdoa. Kalau si sakit sembuh maka kemungkinan besar dia bersama
keluarganya bertobat.
2.
Kesempatan lain muncul pada waktu orang mengadakan pesta ( yang di
Timor sering terjadi). Sementara orang menunggu hidangan disajikan, penginjil
dapat berbicara mengenai kebaikan dan kejahatan , mengenai kehidupan di
seberang maut (khususnya pada pesta kematian), mengenai roh-roh serta
dewa-dewa, dan seterusnya, sambil mengemukakan pandangan Kristen.
3.
Bisa juga, kalau penginjil ( yang kebanyakan orang Rote) sudah
menguasai bahasa daerah, ia pada malam hari duduk-duduk bersama dengan orang
setempat, yang sudah Kristen dan menganut agama suku, omong-omong mengenai hal
agama.
4.
Sekolah merupakan sarana PI yang penting.
5.
seseorang yang menjalajahi daerah NTT. setelah menjadi Kristen, ia
pasti akan menyebarkan kisah agama-agama ke mana-mana. misalnya, ada orang dari
pulau Ndao, yang menjalajahi daerah NTT selaku pandai emas dan perak. Setelah
menjadi Kristen, mereka pun membawa kisah agama ke mana-mana.
Baptisal Massal.
Perluasan yang secepat itu ditampung
dengan metode pembaptisan massal. Ciri Massal dalam upacara pembaptisan itu
begitu menonjol, sehingga kadang kala sang pendeta Belanda sibuk melayankan
baptisan sampai dua hari lamanya di satu tempat. Konon pernah tugas yang
melelahkan itu mau dijadikan lebih ringan : para calon dikumpulkan dan disirami
air , sementara rumus trinitaris diucapkan. Soalnya, sampai tahun 1926 hanya
tenaga belanda yang boleh membaptis orang. Syarat-syarat baptisan sangat
ringan. Cukuplah kalau orang menyerahkan benda-benda yang berkaitan dengan
agama mereka yang lama dan menghafal Doa Bapa kami ( bisanya dalam bahasa
melayu).
Kehidupan Jemaat
Akibat pemakain
metode yang digambarkan di atas, pelajaran agama bagi orang yang sudah dibaptis
itu menjadi sangat penting . Ada berita tentang seorang penghantar jemaat yang
tua pada tahun 1920-an, yang mengadakan pelajaran Alkitab tiap pagi dan soreh
di kampung-kampung yang dilayaninya, disamping berkhotbah pada hari minggu, Di
ketekisasi ia mengajari calon baptisan dan calon sidi; ia mengajarkan
agama-agama di sekolah; selain itu, penghantar jemaat itu memimpin paduan
suara, berkunjung ke rumah orang Kristen dan yang bukan orang Kristen ,
memimpin kebaktrian penguburan serta perkawinan, mengunjungi serta mendoakan
orang sakit, mendamaikan perselisihan, dan seterusnya. Di tengah orang yang baru menjadi kristen
itu, disiplin dipertahankan dengan cukup ketat. Kalau orang yang melakukan
pelanggaran tidak boleh mengambil nagian dalam Perjamuan Kudus. Kalau pelanggar
itu belum sidi, ia diancam tak akan mendapat penguburan secara Kristen kalau
penyembah berhala terus atau tidak setia mengikuti kebaktian. Ancaman itu
biasanya dihiraukan juga, karena penguburan kristen itu dianggap membuka pintu
sorga bagi si mati. Orang yang beristri lebih dari satu atau yang menikah hanya
secara adat, sehingga mereka itu seakan-akan kena hukuman disiplin seumur hidup, mulai dari saat mereka
dibaptis. Anak-anak yang lahir di luar
nikah tidak dilayani baptisan. Berlainan dengan di Minahasa, di Timor aturan
ini bisa dipertahankan, kerena belum ada persaingan yang berarti dari pihak
misi.
Kegiatan P. Middelkoop
Dalam melakukan kegiatan-kegiatan
itu biasanya memakai bahasa melayu, namun di daerah suku Timor monopoli bahasa
melayu itu ditentang dengan gigih oleh pendeta bantu resort Timor Tengah
Selatan, yaitu P. Middelkoop (1922-1957 di Timor). Pada waktu menerima
pendidikan di NZS, Middelkoop ingin menjadi seorang pekabar Injil, namun ia
kecewa ketika ia diutus selaku pendeta bantu GPI. Kemudian Middelkoop mendalami
bahasa daerah (bahasa Timor atau Dawan). Ia mempelajari bahasa sehari-hari dan
bahasa tinggi, kebudayaan, agama, dam sejarah suku Timor, dengan maksud supaya
Kabar Baik disalin kedalam bahasa dan kedalam pola berpikir orang Timor. Pada
tahun 1928 konferensi pendeta-pendeta bantu di Timor mengizinkan penerbitan
buku cerita-cerita Alkitab dalam bahasa Timor. Pada tahun 1937, pengurus GPI
malah memberinya tugas untuk mengupayakan terbitan-terbitan dalam bahasa Timor.
Mulai tahun 1924 ia juga mengubah nyanyian-nyanyian rohani ke dalam bahasa
Timor. Dalam usaha menggarap terjemahan Alkitab, Middelkoop didampingin oleh
orang-orang Timor, seperti Pdt. T. Benoefinit dan guru T. Toto. Kemudian semasa
Middelkoop hidup di Timor Tengah Selatan, jumlah orang Kristen bertambah dari
500 orang menjadi 80.000 orang.
Perluasan dan
Organisasi
Di NTT,
perluasan gereja yang pesat menyebabkan tangga hierarki bertambah panjang.
Penatua dan diaken diangkat oleh pendeta (kecuali di jemaat yang lama).
Beberapa anggota jemaat ditetapkan menjadi pembantu agama. Fungsi ini tetap
ada, meskipun kemudian dijemaat yang bersangkutan ada majelis. Maka ketiga
jabatan tersebut merupakan anak-anak tangga yang paling bawah.
II.
Tokoh Penting Kedua

Nama : Dr. P. Middlekoop
Peran : Karya penerjemahan
Alkitab di pulau Timor pada tahun 1925-1947 akan dikenang selalu oleh warga
gereja di pulau Timor. Alkitab PB dalam Uab Meto’ menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari masyarakat Atoni’ di Timor pedalaman. Orang akan selalu
mengenang Dr. P. Middelkoop yang tulisannya tentang Atoni Pah Meto’ dan
tulisan-tulisan lainnya, tentu terutama dan teristimewa Perjanjian Baru dalam
Uab Meto’. Apakah orang tahu bahwa Tuan Middelkoop telah menyelesaikan seluruh
Alkitab dalam usaha menerjemahkannya? Usaha untuk menyelesaikan penerjemahan
seluruh alkitab tidak berhenti oleh Tuan Middelkoop, namun belum sampai
selesai. Dalam satu rapat (19/02/2016) di kantor Unit Bahasa dan Budaya Kupang,
karya-karya Dr. P. Middlekoop ditunjukkan kepada para peserta rapat. Menurut
Prof. Charles Grimes, sebagai orang yang diberi kepercayaan, dokumen-dokumen
itu adalah asli ketikan dari Tuan Middlekoop sendiri. Prof. Charles Grimes
menyebut Dr. P. Middelkoop dengan sebutan Tuan Middelkoop. Menurut Prof.
Grimes, sebelumnya buku-buku itu diserahkan oleh Tuan Middlekoop kepada Prof.
James Fox.[5]
Penerjemahan Perjanjian Baru ke bahasa Lokal merupakan jasa yang besar
dan perlu di apresiasi. Oleh sebab itu Dr Middlekoop masuk ke dalam salah satu
tokoh penting dalam penyebaran Kekristenan di daerah NTT.
GMIT sejak tahun 1947
Selama tahun 1947-1950, ketua Sinode
tetap seorang pendeta Belanda, dan biaya kehidupan gereja ditanggung oleh
pemerintah. Tetapi pada tahun 1950 perubahan mulai terasa benar. Tempat ketua
Sinode diduduki seorang Indonesia (yaitu Pdt. J.L. Ch. Abineno), dan pemerintah
mengakhiri pembayaran gaji serta sokongan lain yang masih tersisah dari zaman
gereja negara. Dengan demikian GMIT benar-benar berdiri sendiri.
Perluasan
Tanggung jawab GMIT sendiri ialah
karya pengabaran Injil kepada penduduk Nusa Tenggara Timur yang belum
mengenalnya. Dalam tahun-tahun 1950-an, pertumbuhan gereja tidak banyak
melebihi laju pertambahan penduduk. Menurut kesaksian pemimpin gereja sendiri,
pada masa itu dikalangan anggota jemaat terdapat kelesuan dan sikap masa bodoh
terdapat kewajiban perkabaran Injil. Keadaan ini merupakan akibat suasana yang
terdapat sebelum tahun 1947, ketika pemimpin gereja bangsa Belanda bertanggung
jawab atas segala kegiatan gereja. Sebaliknya, dalam dasawarsa berikutnya
jumlah anggota GMIT bertambah dengan pesat, sehingga dalam waktu beberapa tahun
hampir berlipat dua. Sebabnya adalah peristiwa tahun 1965, yang menyebabkan
banyak orang mengalir ke gereja agar terlindung dan terhibur. Lalu faktor lain
adalah adanya pengaruh dari Institut Injili di Indonesia (I.I.I) di Batu
Malang. Diantara para siswa Institus itu yang terbanyak adalah anak dari Nusa
Tenggara Timur. Kemudian setelah itu, mereka membentuk tim-tim penginjil,
dengan pusat di Soe. Mereka berupaya untuk menampung arus orang yang
berbondong-bondong masuk ke gereja. Akibat kedua faktor ini, jumlah anggota
gereja pada tahun 1948 berkisar sekitar 200.000, dan pada tahun 1971, naik
menjadi 517.000, kemudian warga GMIT dikatakan telah berjumlah 1.075.000.
III.
Tokoh Penting Ketiga.

Nama : J. L. Ch. Abineno
Peran : Perkembangan pokok di
masa 1947-1950
a)
Mendidik jemaat-jemaat yang telah biasa
hidup dalam suasana Indische Kerk tentang apa artinya gereja yang berdiri
sendiri dibidang pelayanan, tanggung jawab keuangan, administrasi, dan
lain-lain.
b)
Tata gereja yang dipakai ialah boleh
dikatakan modifikasi dari praktek pada waktu itu dengan warisan dari
periode-periode yang lalu.
c)
Dalam periode ini terjadi perpisahan
finansial antara gereja dan negara.
Masa 1950-1975 ditandai oleh pimpinan yang baru dan situasi yang baru
pula
Masa ini diawali oleh pengangkatan tenaga-tenaga luar negeri. Hanya Dr.
Middelkoop yang tinggal di Soe, khususnya untuk pekerjaan penterjemahan Alkitab
dalam bahasa Timor. Hal ini memberikan kesempatan bagi GMIT agar dengan bebas
mengusahakan pola-pola dan bentuk-bentuk pelayanan sendiri. Usaha pertama ialah
menyusun tata gereja baru, yang Theologis dapat lebih dipertanggungjawabkan
tata gereja ini yang disyahkan pada tahun 1952 kemudian 1972 diperluas tapi
isinya tetap sama. Pada waktu itu banyak pekerjaan di bidang liturgi. Juga ada
studi dan percakapan tentang apa itu perjamuan, apa itu perkawinan, apa itu
disiplin gereja.
Pimpinan sinode masa itu:
1950 – 1952 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. A.J. Toelle
1952 – 1953 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. B. Meroekh
1954 – 1956 : ketua Pdt. M. Bolla; sekretaris Pdt. L. Radja Haba
1956 – 1958 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. L. Radja Haba
1958 – 1960 : ketua Pdt. J.L. Ch. Abineno; sekretaris Pdt. A. Dethan
Masa 1960 – 1970 suatu periode dimana dicoba cara ini dan itu mengatasi
kesulitan, khususnya kekurangan keuangan, tetapi ciri utama nampaknya kelemahan
dalam perkembangan GMIT. Masa ini dapat dibagi dalam dua sub periode.
a. 1960 – 1965 keadaan
masyarakat, politik ekonomi yang semakin ambruk, berakhir dalam Nasakom yang
pengaruhnya agak besar di beberapa daerah GMIT dan G30S PKI.
b. 1960 – 1970 periode ini
meliputi gerakan Roh yang berpusat di Soe dan TTS umumnya, pada satu pihak dan
permulaan masa pembangunan di lain pihak.
Tidak terdapat angka yang lengkap dan dapat dipercayai untuk tahun 1974
akan tetapi untuk 1953 jumlah anggota 253.501 dan untuk 1972 yaitu 517.779
Maka disini kita dapat melihat peran dari Ch Abineno, yaitu memimpin
GMIT selama kurang Lebih 10 tahun untuk melakukan pembaharuan bagi gereja di
NTT. Perlu diapresiasi juga kerja sama dengan Dr. Middlekoop, yang memang
memiliki hati untuk NTT.
Kehidupan gereja
Dalam hal
pekabaran injil, dan dalam hal organisasi dan keuangan gereja
sangat terlihat pengaruh warisan dari zaman Belanda. Dalam GPI, gereja terdiri
dari pejabat-pejabat gereja dan bukan dari majelis-majelis yang beranggota kaum
awam. Akibatnya dalam lingkungan GPI komunikasinya tetap berjalan lancar,
tetapi anggota jemaat kurang terlatih untuk beroganisasi. Pada tahun 1947, GMIT
memperoleh oraganisai persbiterial, dengan jaringan berupa Majelis jemaat,
Majelis Klasik, Majelis Sinode. Namun karena kurang berpengalaman, hubungan
antara ketiga jenis itu tidak berjalan lancar. Misalnya, badan-badan pusat
tidak tahu berapa jumlah anggota jemaat dan jumlah tenaga yang ada. Dipihak
lain jemaat tidak peduli akan posisi dan kewajiban yang telah ditetapkan secara
bersama dalam sidang sinode, yaitu untuk mengirim 10% dari seluruh pendapatan
kas jemaat kepada sinode. Pemimpin GMIT
berupaya untuk mengisi kas yang kosong
dengan mendirikan pusat latihan Kader kesejahteraan, yang diharapkan, menjadi
pusat pembagian, akan menghasilkan uang bagi kas sinode. Tetapi usaha itu
gagal, di tingkat jemaat juga terdapat kesulitan keuangan , sebab slama masa
Belanda anggota jemaat tidak diajarkan untuk menanggung gaji pengajar jemaat
dan biaya lainnya, sampai sekarang, GMIT belum berhasil menangani
kesulitan-kesulitan secara tuntas.
Selama tahun
1965-1969 berlangsung gerakan kebangunan rohani di Timor dan di pulau-pulau
sekitarnya. Gerakan itu demikian kuat, sehingga menghebohkan GMIT dan gereja
lain yang di dalam maupun yang di luar
negeri, sebenarnya gerakan itu bukanlah gejala yang baru di Timor. Tetapi
selain gerakan Roh yang telah berlangsung di kisar pada tahun 1921, telah
menjadi gerakan yang serupa dengan yang dialami di Timor pada tahun 1943 jaunya
lebih luas dan dalam. Kenyataan itu bersumber pada kesulitan yang di alami oleh
rakyat di Timor pada umumnya dan pada gereja-gereja Kristen yang khusunya
selama masa menjelang peristiwa G3OS-PKI, (partai komunis), pada waktu itu
dipengaruhi oleh partai komunis serta organisasi-organisasi yang berkembang
pesat dan gereja tedesak. Pada masa itu juga Timor mengalami masa kekeringan
dan kekurangan makanan yang menjadi langka, dan di akhir tahun 1965 keadaan
sudah kembali mengalami perubahan yang dramatis.
Sehingga pada masa itulah masa kebangkitan rohani diantara pemuda di Soe,
baik yang belajar di SGA dan SMA maupun yang sudah bekerja, mereka tetap
mengadakan pertemuan doa, penelaahan Alkitab, dan paduan suara dan pembentuikan
kelompok-kelompok dan mengadakan pekabaran injil, sekitar 70-90 kelompok di SoE
dan di sekitarnya. Pekerjaannya berdasarkan
penglihatan yang membuat mereka merasa di panggil oleh Roh kudus untuk
melakukan kegiatan di tempat terentu. Sasarannya orang yang beragama lain, dan
juga orang beragama kristen stastistik,
mereka mengajak orang-orang agar menyerahkan jimatnya untuk di
binasakan, mereka membawa orang-orang kepada pengakuan dosa-dosanya dan ke
pertobatan. Mereka memberi kesaksian tentang kekuasaan Allah dalam hidup mereka
sendiri dan juga orang lain dan mereka membuktikan kekuasaan Allah itu dengan
menyembuhkan orang sakit , mengusir setan, memperdamaikan orang yang
beselisihan. Hal-hal ini dilakukan sama seperti yang di lakukan di perjanjian
Baru. Mereka memberitahukan kepada orang-orang bahwa mereka mengalami
mukjizat-mukjizat seperti yang diberitahukan dalam kitab Injil.
Gerakan Roh dan gereja
Di kalangan
pimpinan GMIT dari semula terdapat sikap yang waswas. Bahkan pertentangan,
berhadapan dengan kegerakan kebangunan itu. Salah satu faktor gerakan itu di
selengarakan oleh para pemuda “awam” berdasarkan wibawa yang berifat kharisma (
karunia Roh) bukan jabatan gereja. Suasana inilah yang dianggap tidak cocok
dengan suasana Hervomd Belanda yang di wariskan kepada GMIT dengan perantara
gereja Protestan (indische kerk ). Ekses-ekses yang terjadi memperkuat pertentangan oleh pejabat gereja.dan
meyebab banyak orang kehilangan
kepercayaan pada tahun 1969. Derah Timur Tengah Selatan yang paling banyak
terpengaruh oleh gerakan Roh, di tahun 1970 islam masuk dan dan mereka mencatat
bahwa pada waktu itu gerakan kebangunan itu ke keretakan GMIT.
Kesimpulannya
Sampai tahun
1997, gereja di NTT tidak berhasil menembus batas-batas daerah yang sudah
berlaku sejak abad-18. Masa 1910 -1940 merupakan masa perluasan, dipualu-pulau
dan di Timur dan Alor (Minahasa
1840-1880, Maluku Selatan 1910-1940) dan
perluasan ini meningkat dari semangatnya PI dalam GPI lainnya. Dan polanya juga
berlaku di setiap GPI lainya: baptisasn massal, pemisahan sakramen, dan juga
tindakan-tindakan yang membuat gereja menjadi mandiri. Dan akibatnya pada tahun
1947 GMIT berdiri ssendiri secara lahir , tetap belum siap secara batin dan
gerakan Roh pada tahun 1965-1969 merupakan peritiwa yang penting dalam
kehidupan GMIT, khususnya di darah Timur Tengah Selatan. Tetapi gerakan itu
tidak banyak membantu gereja mengatasi kesulitan yang dialaminya.
[2] David Hicks,
"Tetum
Ghosts and Kin: Fertility and Gender in East Timor, Second Edition", (Illinois,
USA: Waveland Press, 2003), hlm. 4.
[5] https://infontt.com/2016/02/19/karya-tuan-middelkoop/ diakses pada 1 October 2017 pada pukul 15:30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar