Rabu, 28 November 2018

RESENSI BUKU: William Dyrness dan Burggmann

RESENSI BUKU William Dyrness, Tema-tema di dalam Perjanjian Lama. Malang : Gandung Mas, 2013 & Bruggmann, Teologi Perjanjian Lama  (Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan). Maumere : Ledalero,2009.


PENCIPTAAN
            Brugmann menyajikan penjelasan mengenai penciptaan dimulai dari penjelasan tentang kata-kata kerja diantaranya ada kata YHWH dan kata penciptaan itu sendiri yaitu bara. Sedangkan W.Dyrness dalam bukunya tentang “Tema-tema PL” memulai dengan perbuatan dan pekerjaan Allah beserta firman-Nya.
             Dalam penjelasan mengenai kata kerja dalam masa penciptaan, memberitahukan bahwa kedaulatan yang dimiliki YHWH adalah kedaulatan yang penuh kuasa yang melalui ucapan firman-Nya semuanya bisa terlaksanakan. Dalam hal ini, Allah menciptakan dengan firman yang keluar dari-Nya menekankan pada sifat Allah yang transenden. Inilah yang di pahami oleh bangsa Israel bahwa YHWH menciptkan bumi dengan berfirman dan dengan titah rajawi, serta perbuatan yang penuh kuasa.
            Kata penciptaan dalam kejadian memakai kata bara, dan ini menunjukan bahwa penciptaan ini adalah penciptaan ilahi. Penciptaan ini hanya bisa dilakukan oleh Sang Pencipta yaitu Allah sendiri, dimana Allah menjadikan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Beberapa ahli menyatakan keyakinan mereka bahwa Allah tidak memakai bahan yang sudah ada sebelumnya untuk menciptakan dunia. Tetapi Israel tampaknya tidak mengatakan hal-hal demikian dan tidak juga menggagaskannya. Mungkin kita dapat katakan bahwa Israel meyakinkan bahwa penciptaan Allah akan dunia diambil dari “bahan khaos” atau dari bahan yang sudah ada sebelumnya. Tetapi dalam hal ini Israel tidak mempunyai minat untuk mencari tahu mengenai asal-mula bahan ciptaan itu. Bahan itu memang sudah ada begitu saja dan kemudian tinggal di atur seturut cara-Nya sendiri sebagai Allah.
            Dalam hal ini, penciptaan ini tidak lepas dari iman Israel, dimana kesaksian Israel tentang Allah yang menciptakan dunia (Yes.40:28-31). Ini berangkat dari masa pembuangan bangsa Israel. Iman penciptaan inilah yang digunakan bangsa Israel untuk menolak klaim allah-allah lain. Dalam hal ini juga bangsa Israel meyakini bahwa Allah juga telah menciptakan Israel sebagai objek khusus kesetiaan Allah yang penuh perhatian. Banyak juga ayat-ayat yang mendukung mengenai penciptaan sehingga iman penciptaan Israel terbentuk, dan salah satu ayat terdapat dalam Mazmur 33:6,9 “Oleh firman Tuhan langi telah dijadikan, oleh napas dari mulut-Nya segala tetaranya … Sebab Ia berfirman, maka semuanya jadi: Ia memberi perintah, maka semuanya ada.” Dalam hal ini, firman Allah bukan hanya sekedar perintah yang penuh kuasa ilahi, tetapi firman Allah ini juga mengandung suatu tindakan yang memiliki kualitas perjanjian. Sang Pencipta menciptakan karena berkomitmen pada kesetiaan, kebenaran, keadilan, dan kasih setia-Nya, sebab dalam Mazmur 33:4-5 dikatakan “sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hokum; bumi penuh dengan kasih setia Tuhan.” Inilah tindakan penciptaan yang memberi jaminan bagi bangsa Israel dan kepada orang-orang yang berpegang dan bergantung kepada YHWH, dan dari Isrel bersaksi tentang pencipataan.
            Kita bisa melihat bahwa kejatuhan dalam dosa menjadikan kesempurnaan dunia ternodai. Tetapi dalam PL tidak ada petunjuk bahwa ciptaan ini tidak sempurna karena bersiafat kebendaan. Dalam hal ini, dunia dicpitakan untuk menyatakan kemuliaan Allah dan menunjukan Kemahakuasaan-Nya dalam penciptaan dan ini mencerminkan kebaikan-Nya. Apa yang Allah ciptakan bukan hanya mencerminkan kebaikan-Nya, tetapi juga ciptaan-Nya diciptakan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan Allah, dalam hal ini Allah mermaksud menyatakan kemuliaan-Nya. Meskipun tujuan akhir dalam penciptaan adalah kemuliaan-Nya, tetapi semuanya ditujukan untuk manusia. Edmond Jacob berkata “Ia (Allah) telah menciptakannya bagi perjanjanjian, artinya karena kasih dan penyelamatan bagi umat manusia melalui Israel.” Manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia dan melalui mereka maksud dan tujuan Allah menciptakan dunia ini diwujudkan.

Kesimpulan

            Jadi kesimpulannya adalah penciptaan hanya bisa dilakukan oleh Allah. Penciptaan yang dimaksud adalah penciptaan yang dihasilkan dari yang tidak ada menjadi ada, artinya penciptaan yang terjadi seketika. Tetapi keyakinan Israel tidak demikian, melainkan di bentuk dari yang sudah ada. Hal ini tidak terlalu penting. Yang paling penting dan yang utama dalam pembahasan ini adalah bagaimana Sang Pencipta melakukan perbuatan-Nya yang ajaib dan penuh kuasa sehingga bisa menciptkan sesuatu yang baik dan menakjubkan diluar kemampuan manusia, dengan kata lain hanya Allah saja yang dapat melakukan hal-hal demikian. Dalam hal ini Allah adalah Allah yang transenden.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar