Rabu, 28 November 2018

HOMILETIKA - PERTANYAAN DAN JAWABAN MENGENAI HOMILETIKA

1.     Apakah Homiletika itu? Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan di mimbar? defenisikan secara lengkap!
a.     Pengertian Homiletika
Kata Homeletika adalah kata yang agak asing di telingga jemaat awam, namun sanggat populer di kalangan mahasiswa theologi dan siswa-siswa di sekolah Alkitab. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang kata dasarnya adalah Homilia, sebuah kata pergaulan atau sebuah kata perckapan dengan ramah, yang juga mempunyai kata-kata yang indah atau  elok sedangkan kata kerjannya adalah Homilein, yang dalam bahasa inggris di terjemahkan to talk atu to converse; berbicara atau bercakap-cakap. Kata ini muncul 4 kali dalam dalam perjanjian Baru (luk 24:14-15, kis. 20:11;24:26) kata benda homelia diketemukan satu kali saja dengan arti yang negatif, yaitu 1 Kor. 15 : 33.
b.    yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan di mimbar

2.     Jelaskan secara detail prinsip dasar dalam berkhotbah!
Theologi pembritaan Firman Tuhan mencakup dua bagian yang  sanggat erat, yaitu ;
a.     Alkitab adalah dasar pembritaan Firman
Sebagai  seorang pengkhotbah harus selalu menjadikan Alkitab sebagai dasar   utama pembritaaan Firman Allah atau Khotbahnya, saat berkotbah hendaklah mengguanakan kata-kata tentang Allah dan kesaksian tentang penyertaan Allah yangb terdapat dalam Alkitab. Alkitab juga sebagai buku penyataan Allah dan juga menjdi dasar khotbah karena sifatnya yang jelas, cukup, berwibawa dan mutlak di perlukan atau di beritakan. Akitab juga adalah jelas yang dimaksudkan dapat dimengerti dan dipahami oleh semua orang terutama yang berkenan dengan keslamatan dan kehidupan kekal. Alkitab juga sebagai penyataan Allah yng cukup berarti yang bisa dijadikan pegangan iman nyang normatif intuk iman dn praktek hidup sehari-hari. Alkitab mempunyai wibawa atau kuasa dari dalam dirinya sendiri (autopistos,; membuktikan diriya sebagai  Firman Allah yang berwibawa dan penuh kuasa). Alkitab mutlak diperlukan karena sanggup menyelamatkan orang yang tersesat dn terhilang, merupakan makanan rohani, senjata orang kristen dapat memberikan petunjuk kehidupan, pedoman disaat pergumulan, dasar pengharapan, dasar pengajaran kegirangan dan semangat baru, dasar untuk mengenal Tuhan, dasar iman yang teguh dan prinsip-prinsip hidup yang lain.
b.     Yesus Kristus adalah pusat pemberitaan Firman.
Seorang  pengkhotbah dalam penyampaiaan Firman Tuhan harus berpusatkan pada Yesus Kristus, Yang oleh-Nya Allah mendamaikn dunia, din dalam anak-Nya Ia mengunjunggi manusia,  berskutu, mengampuni dan memanggil manusia kepada hidup yang baru. Intisari khotbah yang sebenarnya yaitu kabar kesukaan dimana Kirstus telah mati dan bangkit bagi kita supaya kita tidak hidup untuk diri kita sendiri tetapi hidup untuk Dia. Yang telah mati dan yang telah hidup untuk kita (II Kor. 5:15) tidak ada jalan lain  selain melalui Yesus Kristus  (Kis 4: 12, Yoh 14: 6). Itulh sebabnya dialah yang menjadi pusat Khotbah, karena selain itu tidak ada.
Tujuan khotbah adalah supaya percaya dan di selamatkan, dalam berkotbah tentunya pengkhotbah dipimpin oleh Roh Kudus.
3.     Bagaimana agar kita menjadi pengkotbah yang berhasil? Apa yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan seorang pengkhotbah ?
a.     Pengkhotbah yang berhasil
Tergantung  pada  penghotbah yang berhubungan dengan isi khotbahnya
IsI
Ø  khotbah dimulai dari hermeunetik yang baik
Ø  Judul khotbah (8 tipe)
Ø  Pendahuluan (7 tipe)
Ø  Isi/ garis
Ø  Penutup khotbah (6-7 tipe)
Ø  Dijelaskan menurut hermeunetik, multi khotbahnya
Ø  Menggunakan ilustrasi untuk Menemukan isi khotbah dngan memilih kesaksian dalam pribadi atau orang lain.
Ø  Menggunakan stastistik dalam negeri dan luar negeri
Ø  Menggunakan sejarah mendukung seluruh isi khotbah.
Ø  Menggunakan audio visual.
TEKNIK  ketrampilan dalam penyampaian
Ø  Gunakan mimik muka yang sopan, bergairah dan lain-lain.
Ø  Gerak yang efektif (ada 4)
Ø  Pergunakan anggota tubuh.
Ø  Pergunakan alat peraga  (barang atau benda dan orang)
Ø  Menganalisa teknik suara (ada 12).
Ø  Perhatikan tinggi dan rendahnya suara.
Ø  Perhatikan bahasa yang  digunakan.
Ø  Percaya diri.
Ø  Perhatikan cara berpakaian, contoh gunakan baju yang longgar agar dapat brgerak bebas saat berkotbah dan sesuaikan warna baju yang digunakan minimal 3 warna, ada baiknya gunakan baju warna hitam atau batik. Bagi yang cowo gunakan dasi jangan terlalu panjang atau pendek, dasinya harus pas pada  ikat pinggang.
KUASA
·      Harus penuh dengn kuasa Roh Kudus
·      Harus punya jam doa (1 jam)
·      Sudah memiliki urapan sejak dalam kandungan, yang merupakan karakter dasar ( internal ; Daud, eksternal ; saul)
·      Kebenaran : (baca Alkitab, taat, saat Teduh).
·      Menjaga kekudusan agar tetap dipakai Tuhan dengan memiliki hati yang suci pasti punya kuasa.
·      Memiliki Kasih yaitu hidup dalam Kasih karena semakin besar Kasih kita maka semakin besar ladang pelayanan kita.
·      Memiliki iman karena semakin besar iman seseorang maka semakin besar juga kehidupan khotbahnya (contohnya Musa).  

b.    Pengaruh Keberhasilan dan kegagalan seorang pengkhotbah
1.     Kebenaran yang di sampaikan pengkhotbah tidak realistis
2.     isi pengkhotabah tidak berbobot dan alur pikiran pengkhotbah tidak jelas.
3.     Tidak mempunyai teknik atau ketrampilan dalam berkhotbah
4.     Khotbahnya kering dan tidak punnya kuasa 
4.     Apa  tujuan khotbah, dan bagaimana caranya agar tujuan khotbah dapat tercapai?

Menurut Dr. H. Rothlisberger ada dua tujun dalam berkotbah;
1.     Supaya percaya dan dibaptis, 2. Supaya bertumbuh dalam kedewasaan iman.
Menurut khotbah dalam Alkitab yaitu
1.     Membawa orang keluar dari gelap kepada terang, membawa orang dari kuasa iblis kapad kuasa Allah (Kis 26: 16-19),
2.     Meruntuhkan benteng-benteng ; melepaskan mereka yang terbelenggu  karena dosa (II Kor. 10: 4-5),
3.     Untuk pertumbuhan Rohani menuju kedewasaan, menjadi murid dan pengajaran penuh  (Efs. 4:11-13; Mat. 28:19-20).
Menurut Lukas Tjandra, untuk mencapai tujuan Khotbah, maka ada 3 hal yaitu:
1.     Agar pendengar dapat memehami Firman Tuhan yang diberitakan.
2.     Agar meninggalkan kesan yang dalam bagi pendengar tergerak untuk segera merealisasikan  kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan khotbah secara umum, sedang secara khusus dalam setiap khotbah masing-masing mempunyai tujuan yang ingin di capai sesuai dengan kebutuhan jemaat yang di layani.
5.     Jelaskan syarat seorang pengkhotbah yang efektif!
Seorang pengkhotbah adalah seorang yang menjadi menyambung lidah Allah. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang suci sebab yang disampaikan adalah Firmn Allah. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa syarat menjeadi pengkhotbh yang baik, yaitu:

a.     Lahir baru
Seorang pengkhotbh harus lahir baru dan sudah harus bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi, dan memiliki sifat dan karakter Ilahi yang terus bertumbuh kearah Kristus. Seperti anak rajawali yang menetas dan bertumbuh semakin hari semakin nampak menuju kepada rajwali dewasa. Adapun beberapa ciri mutlak seorang yang telah baru lahir.
·      Sadar bahwa ia telah menjadi anak Allah. (Yoh 1: 12; Rom 8:14-16)
·      Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi (dengan mulut dan hati, Roma 10:9-10)
·      Meninggalkan sifat manusia lama, memiliki pandangan baru (iman), tujuan baru (menetap bersama Allah), motivasi baru (berkenan kepada Allah), dasar hidup baru (Kasih), cita-cita baru (hidup untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri), penilaian baru (ukuran ilahi) (II Kor 5: 17).
·      Bebas dari ikatan okultisme dll, ( Rom. 5:1)
·      Buah Roh yang terus-menerus nampak. (Gal 55:22-23)
b.     Kedewasaan Rohani
·      Seorang pelayanan pengkhotbah harus memiliki standart moral, kesalehan, kesucian dan punya pergaulan karib dengan Allah, yang lebih dari jemaatnya, harus memiliki buah roh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga mencpai kedewavaan rohani.
·      Harus menjadi teladan kehidupan secara konkrit bagi jemaat. (Flp 3:17 “ikutilah teladanku”) yang akan menjadi mimbar hidup, suara mimbar hidup kita harus lebih keras dari mimbar di gereja.
·      Harus memiliki hidup yang benar di hadapan Tuhan agar dapat diterima oleh jemaat. Dan juga memiliki integritas diri dan juga kecakapan hidup dan kontrol hidup dalam setiap keadan hidup.
·      Seorang yang dewasa rohani pastinya harus dipenuhi oleh Roh Kudus adalah buah kesucian dari hidup dan juga harus memiliki kepekaan hati sehingga tetap dalam tuntunan Roh Kudus.
c.     Panggilan khusus sebagai pembuicara
d.     Pengetahuan dan ketrampilan
e.     Kepercayaan diri yang positif
·      Memberi pengaruh kepada jemaat
·      Terhadap penghotbah sendiri
·      Dapat menyampaikan firman Tuhan dengan auntisias
1)    Kerendahan hati
2)    Sikap yang berdiri tegak
3)    Gerakan yang rileks
4)    Berani menatap jemaat
5)    Berani berbicara dengan tidak berbuat-buat.
6)    Gunakan kata-kata dan gerakan yang harmonis
7)    Mampu menguasai kata dengan situasi yang ada
     

6.     Bagaimana langkah-langkah untuk mengatasi kegugupan ?
Untuk nmengatasi kegugupan neruasvous ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pengkhotbah yaitu
1.     Memilih tema khotbah yang menarik bagi pengkhotbah maupun jemaat
2.     Mengusai dan mempelajari sedalam-dalamnya pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan kepada jemaat.
3.     Meningkatkan jam terbang dengan sering tampil berbicara saat diberi kesempatan untuk tampil.
4.     Fokuskan perhtian kepada jemaat
5.     Menerima ketegangan sebagai hal yang wajar (biasa) bagi seorang pengkhotbah
6.     Tidak menyerah ketik menghadapi situasi yang sulit.
7.     Bagaimana seharusnya kehidupan seorang pengkhotbah? Jika ia jatuh bagaimana bangkit kembali?
Suatu khotbah tergantung pada si pengkhotbahnya; bagaimana hidupnya apa yang dibuatnya , pa yang dipirkannya dan dirasakannya, antara lain;
1.     Kebiasaan cara kerja pengkhotbah
a.     Terimalah kenyataan bahwa sebagai pengkhotbah, pekerjaan memerlukan banyak waktu.
b.     Sediakan waktu yang teratur untuk belajar
c.     Kita harus belajar secara sistematis
d.     Jangan menunda-nunda tugas
e.     Delegasikan tugas yang dapat di laksanakan orang lain
f.      Belajarlah untuk berkata tidak
2.     Kebiasaan mental dan kesehatan tubuhnya
3.     Charakter yang terus menerus dibangun
4.     Pengalaman pribadi yang semakin bertumbuh
5.     Dedikasi dan sukacita dalam panggilan  
8.     Apa saja dan bagaimana memperoleh benih khotbah yang baik?
1.     Tujuan khotbah haruslah terbangun dari sebuah kebenaran Alkitab
2.     Tujuan khotbah harus khusus dan tajam
3.     Tujuan khotbah harus relevan dengan kebutuhan jemaat yang dihadapi.  
9.     Buatlah garis besar khotbah dari lukas 19:1-10, kemampun homileika yang anda miliki.
10.  Buatlah garis besar khotbah dari lukas 19:1-10, kemampun homileika yang anda miliki.
judul : Pertobatan Zakheus
Pendahuluan
ada banyak orang yang mengalami pertobatan dalam iman kepada Kristus  namun tidak terdapat dalam Alkitab, namun ada beberapa orang yang mengalami pertobatan yang sangat luar biasa seperti peristiwa yang di alami oleh Zakheus. Dapat dilihat di ayat 1 bahwa Yesus masuk ke kota itu, kota itu dibanggun dibawah kutukkan, namun Yesus menghargai kota itu dengan kehadirannya di kota itu karena lewat injil dapat melenyapkan kutuk tersebut. Walaupun kota itu sebenarnya tidak boleh dibangun, tetpai tidak menjadi masalah kalau tinggal di dalamnya. Dalam perjalanan Yesus dari seberang sungai Yordan menuju ke Betani, yang dekat dengan Yerusalem dengfan tujuan untuk membengkitkan Lazarus yng sudah mati. Namun dalam perjalanan dengann tujuan melakukan hal yang baik, sehingga Yesus ingin setiap perjalanan-Nya. Ia melakukan kebaikan kepada jiwa dan raga orang-orang, saat itu yang dapat dilihat dari satu contoh yang mengenai kebaikan-Nya terhadap jiwa yaitu:
I.   Perlunya kita mengetaui siapa dan apa pekerjaan Zakheus
Namanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang Yahudi. Zaccai adalah sebuah nama yang umum dipakai di antara orang-orang Yahudi. Ada juga seorang rabbi Yahudi terkenal yang hidup kira-kira pada masa yang sama dengan nama yang sama. Panggilan hidupnya dan kedudukan yang dipegangnya: Ia seorang kepala pemungut cukai, seorang pimpinan, yang mengepalai semua pemungut-pemungut cukai yang lain. Dia adalah seorang pemungut cukai, seperti kata sebagian orang. Kita sering membaca mengenai pemungut cukai yang datang kepada Yesus namun yang ada di sini adalah seorang kepala pemungut cukai, yang berkuasa, yang datang mencari-Nya. Allah memang memiliki sisa-sisa umat-Nya dari berbagai macam orang. Yesus datang bahkan untuk menyelamatkan seorang kepala pemungut cukai.
Keadaannya di dunia ini sungguh terhormat: Ia seorang yang kaya. Para pemungut cukai umumnya adalah orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dan statusnya rendah di dunia ini. Namun, si kepala pemungut cukai ini telah mengumpulkan harta yang banyak. Belum lama berselang Yesus menunjukkan betapa sukarnya bagi orang yang beruang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, namun sekarang Ia memberikan contoh mengenai seorang kaya yang tersesat namun ditemukan kembali, bukan sebagai seorang anak hilang yang jatuh miskin.
Bagaimana ia menemui Kristus di jalan-Nya, dan apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan-Nya.

Ia mempunyai rasa keingintahuan yang besar untuk melihat Yesus, untuk mengetahui orang seperti apakah Dia, karena telah mendengar banyak hal yang hebat mengenai diri-Nya (ay. 3). Bukanlah hal yang aneh bagi kita untuk bertemu, jika bisa, dengan orang-orang terkenal yang sering kita dengar karena kita cenderung berpikir bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam penampilan mereka. Setidaknya setelah itu kita dapat berkata bahwa kita telah melihat orang-orang besar yang seperti ini atau itu. Akan tetapi, mata tidak dipuaskan dengan melihat. Sekarang ini kita harus berusaha melihat Yesus dengan mata iman, untuk melihat siapa Dia sebenarnya. Dengan kudus kita harus mengarahkan diri kita kepada Dia, dan kita akan melihat Yesus.
II.        Ia tidak dapat memuaskan rasa penasarannya karena badannya pendek, dan orang-orang sangat ramai di situ.
 Kristus tidak mencoba untuk menarik perhatian, Ia tidak dipikul di atas pundak orang supaya semua orang dapat melihat-Nya. Baik Dia maupun kerajaan-Nya datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Ia tidak menunggangi kereta kuda yang terbuka layaknya pangeran-pangeran, namun, sebagai salah satu dari kita, Ia membaur dalam kerumunan orang, karena hari itu adalah hari ketika Ia akan mendapat penghinaan. Zakheus badannya pendek dan dihalangi oleh orang-orang yang lebih tinggi darinya sehingga ia tidak dapat melihat Yesus. Banyak orang yang badannya kecil mempunyai jiwa yang besar dan semangat yang hidup. Siapa yang tidak ingin lebih menjadi seperti Zakheus daripada Saul, walaupun dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya? Janganlah mereka yang badannya kecil ingin menambahkan sehasta ke atas diri mereka.
Karena ia tidak ingin rasa penasarannya tidak terpuaskan, ia melupakan harga dirinya sebagai kepala pemungut cukai, dan berlarilah ia mendahului orang banyak, seperti seorang anak kecil, dan memanjat pohon ara, untuk melihat Yesus. Perhatikanlah, mereka yang dengan tulus ingin melihat Kristus akan menggunakan cara yang tepat untuk melihat-Nya dan akan menerjang segala kesulitan dan tantangan dan rela menderita untuk melihat-Nya. Mereka yang merasa dirinya kecil harus menggunakan segala kesempatan yang mereka dapatkan untuk meninggikan diri mereka agar dapat melihat Kristus, dan tidak merasa malu untuk mengakui bahwa mereka membutuhkan-Nya, dan sekecil apa pun yang kita lakukan, cukuplah itu. Janganlah kita berputus asa, karena dengan pertolongan yang tepat, kita harus menentukan tujuan-tujuan yang tinggi supaya dapat mencapai tempat-tempat yang tinggi.

III.         Kristus melihatnya dan memanggilnya untuk berkenalan lebih jauh dengannya (ay. 5) dan hasil dari panggilan tersebut (ay. 6).
Kristus mengundang diri-Nya sendiri untuk berkunjung ke rumah Zakheus, tanpa meragukan kesediaan Zakheus untuk menyambut-Nya dengan hati yang terbuka. Ya, ke mana pun Kristus pergi, Ia membawa serta penghiburan bersama diri-Nya, dan juga sambutan atas diri-Nya sendiri. Ia membuka hati orang dan mencondongkannya untuk menerima Dia. Kristus memandang ke atas pohon, dan melihat Zakheus. Ia datang untuk melihat Kristus dan bertekad untuk secara khusus memperhatikan Dia, namun tidak pernah menyangka bahwa Kristus akan memperhatikannya. Ini suatu kehormatan yang terlalu besar dan jauh melebihi apa yang layak ia dapatkan, jauh melebihi apa yang pernah dipikirkannya. Lihatlah bagaimana Kristus mendahului Zakheus dengan berkat-berkat kebaikan-Nya dan bertindak melampaui harapan-harapannya. Lihatlah juga bagaimana Ia membesarkan hati orang-orang yang baru mulai dan membantu mereka untuk maju. Mereka yang berniat untuk mengenal Kristus akan dikenal oleh-Nya. Mereka yang hanya sekadar ingin melihat-Nya akan disambut untuk berbincang-bincang dengan-Nya. Perhatikanlah, mereka yang setia dalam perkara kecil, akan dipercayakan dengan sesuatu yang lebih besar lagi. Kadang-kadang mereka yang datang untuk mendengar firman Kristus sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka, seperti yang dilakukan Zakheus, tanpa pernah mereka duga, hati nurani mereka malah dibangunkan, dan hati mereka diubahkan. Kristus memanggilnya dengan namanya, Zakheus, karena Ia mengenal orang-orang pilihan-Nya dengan nama mereka; bukankah semuanya sudah dicatat? Zakheus mungkin bertanya, seperti halnya Nathanel (Yoh. 1:48), "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Akan tetapi, sebelum ia memanjat pohon ara, Kristus sudah melihatnya dan mengenalnya. Ia menyuruhnya segera turun. Mereka yang dipanggil oleh Kristus harus turun, harus merendahkan diri mereka, dan tidak berpikir untuk naik ke sorga dengan mengandalkan kebenaran mereka sendiri. Mereka harus bergegas untuk turun, karena bahaya jika ditunda-tunda. Zakheus tidak boleh ragu-ragu, tetapi bergegas. Ia tahu bahwa tidak perlu menimbang-nimbang apakah mau menyambut tamu yang demikian atau tidak ke dalam rumahnya. Ia harus turun, karena Kristus pada hari tersebut berniat untuk menumpang di rumahnya, dan berada di situ satu atau dua jam lamanya. Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetok.
Zakheus sangat bersukacita mendapat kehormatan sedemikian besar atas rumahnya (ay. 6): Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Sambutan yang diberikan Zakheus kepada Kristus untuk masuk ke dalam rumahnya merupakan awal dan tanda bahwa ia menerima Kristus ke dalam hatinya. Perhatikanlah, ketika Kristus memanggil kita, kita harus bergegas menjawab panggilan-Nya dan ketika Ia datang kepada kita, kita harus menerima-Nya dengan sukacita. Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang. Kita dapat menerima-Nya dengan suka cita karena Ia membawa serta segala kebaikan dalam diri-Nya, dan ketika Ia memenangkan satu jiwa, mata air sukacita akan terbuka dan terus mengalir tanpa putus. Betapa seringnya Kristus memberi tahu kita, Bukalah pintu, karena kita selalu banyak alasan dengan kekasih kita! (Kid. 5:2-3). Keterbukaan Zakheus dalam menerima Kristus akan membuat kita malu. Memang sekarang kita tidak memiliki Kristus lagi untuk menjamu Dia di dalam rumah kita, namun kita memiliki murid-murid-Nya, dan apa yang kita lakukan bagi mereka akan diperhitungkan Kristus sebagai sesuatu yang dilakukan bagi diri-Nya sendiri.

IV.          Rasa tidak senang orang-orang akan sambutan hangat yang diberikan Kristus kepada Zakheus.
Orang-orang Yahudi yang berhati picik dan suka menghakimi itu bersungut-sungut dan berkata bahwa Ia telah menumpang di rumah orang berdosa, para hamartōlō andri -- dengan orang yang berdosa. Namun, bukankah mereka sendiri juga orang-orang berdosa? Bukankan tujuan Kristus datang ke dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang adalah orang-orang berdosa? Akan tetapi, Zakheus dianggap sebagai pendosa besar di antara semua yang tinggal di Yerikho, seorang pendosa yang bahkan tidak layak untuk disapa. Dalam hal ini, sangatlah tidak adil untuk menyalahkan Kristus karena pergi ke rumahnya, sebab:
Walaupun ia adalah seorang pemungut cukai, dan banyak dari mereka adalah orang-orang yang busuk, tidaklah berarti bahwa dengan demikian mereka semua sama. Kita harus waspada agar jangan sampai mengecam orang menurut kelompoknya, atau menurut pandangan umum, karena dalam pengadilan Allah semua orang akan diadili sesuai dengan keadaan dirinya masing-masing.
Walaupun Zakheus dulu seorang pendosa, tidak berarti bahwa sekarang ia sama busuknya dengan keadaannya yang sebelumnya. Walaupun orang-orang mengetahui bahwa kehidupan masa lalunya jelek, Kristus bisa mengetahui bahwa tabiatnya yang sekarang baik. Allah memberikan ruang untuk pertobatan, sehingga kita juga harus berbuat demikian.
Walaupun Zakheus sekarang seorang pendosa, mereka tidak boleh menyalahkan Kristus karena datang kepadanya, karena Ia tidak terancam bahaya disakiti oleh seorang pendosa, sebaliknya Ia memiliki harapan yang besar untuk melakukan kebaikan kepada seorang pendosa. Kepada siapakah seorang tabib akan pergi selain kepada orang sakit? Namun lihatlah bagaimana niat yang baik sering direka-reka menjadi hal yang jelek.

1.     Kesaksian yang Zakheus perlihatkan secara terbuka adalah bahwa, walaupun dulunya ia seorang pendosa, ia kini menyesal dan benar-benar bertobat \\
2.     (ay. 8). Ia tidak berharap untuk mendapat pembenaran melalui perbuatannya layaknya orang Farisi yang selalu menyombongkan apa yang telah ia lakukan. Sebaliknya, melalui pekerjaan-pekerjaan baik, dengan anugerah Allah, ia akan membuktikan ketulusan iman dan pertobatannya. Dan, memang ia menyatakan kebulatan hatinya itu. Ia berdiri dan membuat pernyataannya itu, supaya dapat dilihat dan didengar oleh mereka yang bersungut-sungut kepada Kristus karena datang ke rumahnya. Dengan mulut orang mengakui pertobatan dan iman mereka. Ia berdiri, yang berarti bahwa ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan khusyuk, seperti bersumpah di hadapan Allah. Ia mengarahkan dirinya kepada Kristus ketika berbuat demikian, bukan kepada orang banyak (mereka bukan hakimnya), namun kepada Tuhan. Ia berdiri seakan-akan di hadapan pengadilan-Nya. Apa pun perbuatan baik kita, harus kita lakukan layaknya bagi-Nya. Kita harus memohon kepada-Nya dan membuktikan diri untuk mendapat perkenanan-Nya dalam keutuhan atau integritas kita, dalam segala niat dan tekad baik kita. Zakheus memperlihatkan bahwa ada perubahan dalam hatinya (dan inilah pertobatan itu), karena ada perubahan dalam cara hidupnya. Tekadnya adalah untuk menaati perintah-perintah Allah pada loh batu kedua, karena Kristus dalam segala kesempatan selalu menegaskan hal-hal tersebut. Perintah-perintah ini sangat cocok dengan keadaannya dan tabiatnya, karena dengan memenuhi perintah-perintah tersebut akan tampak sekali kesungguhan pertobatan kita.
Zakheus mempunyai banyak harta. Jika ia sebelumnya mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri sehingga membawa penderitaan bagi dirinya, sekarang ia bertekad bahwa ke depan ia hanya akan mencari Allah dan melakukan kebaikan bagi orang lain dengan hartanya: Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin. Ia tidak berkata, "Aku akan memberikannya nanti ketika aku meninggal," tetapi, "Aku akan memberikannya sekarang juga." Mungkin ia telah mendengar mengenai perintah dalam ujian yang Kristus berikan kepada seorang kaya yang lain agar ia menjual apa yang dimilikinya dan memberikannya kepada orang miskin (Mat. 19:21), dan bagaimana ia meninggalkan Kristus dalam hal tersebut. "Tetapi aku tidak akan berbuat demikian," kata Zakheus; "Aku setuju semuanya, walaupun sampai saat ini aku tidak berbelas kasih kepada mereka yang miskin, sekarang aku akan memberikan kelegaan kepada mereka dan memberikan lebih banyak lagi karena telah mengabaikan kewajibanku begitu lama, bahkan setengah dari milikku." Ini adalah jumlah yang sangat besar untuk digunakan bagi perbuatan saleh dan amal. Dulu orang-orang Yahudi biasanya berkata bahwa seperlima dari pendapatan tahunan seseorang sangat pantas diberikan untuk hal-hal saleh, dan hukum Taurat juga menyebut jumlah yang kira-kira sebanyak itu. Akan tetapi, Zakheus berbuat lebih jauh lagi dengan memberikan setengah hartanya kepada orang miskin, yang akan membuatnya mengurangi segala pengeluarannya yang boros, karena dengan begitu ia akan lebih dapat memberikan kelegaan bagi banyak orang melalui kelimpahannya. Jika saja kita hidup lebih sederhana dan dapat menyangkal diri, kita akan dapat lebih beramal, dan jika kita dapat merasa puas dengan tidak hidup berlebihan, kita akan punya lebih banyak lagi untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Zakheus menyebutkan hal ini sebagai buah pertobatannya. Perhatikanlah, orang yang benar-benar bertobat kepada Allah adalah mereka yang berbuat amal kepada orang yang miskin.
Zakheus sadar sendiri bahwa ia tidak memperoleh semua hartanya dengan jujur dan adil, tetapi sebagiannya diperoleh dengan cara-cara yang curang dan melawan hukum. Mengenai apa yang ia dapatkan dengan cara-cara demikian, ia berjanji untuk menggantinya: "Jika ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, atau jika aku telah merugikan siapa pun dalam pekerjaanku sebagai pemungut cukai, mengambil lebih dari apa yang seharusnya, aku berjanji untuk mengganti empat kali lipat." Ini adalah ganti rugi yang harus diberikan oleh seorang pencuri (Kel. 22:1). Zakheus sadar sendiri bahwa ia tidak memperoleh semua hartanya dengan jujur dan adil, tetapi sebagiannya diperoleh dengan cara-cara yang curang dan melawan hukum. Mengenai apa yang ia dapatkan dengan cara-cara demikian, ia berjanji untuk menggantinya: "Jika ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, atau jika aku telah merugikan siapa pun dalam pekerjaanku sebagai pemungut cukai, mengambil lebih dari apa yang seharusnya, aku berjanji untuk mengganti empat kali lipat." Ini adalah ganti rugi yang harus diberikan oleh seorang pencuri (Kel. 22:1).
(1)   Zakheus tampaknya dengan terbuka mengakui bahwa ia telah berbuat salah. Jabatannya sebagai seorang pemungut cukai memberinya kesempatan untuk berlaku tidak adil dengan mengambil keuntungan dari para pedagang untuk menyenangkan hati penguasa. Mereka yang sungguh-sungguh menyesal tidak hanya akan mengakui kesalahan-kesalahan umum yang mereka lakukan di hadapan Allah, namun akan secara khusus bercermin dari pelanggaran yang mereka sendiri lakukan, karena alasan tugas dan pekerjaan mereka di dunia ini mudah memberikan masalah bagi mereka.
(2)  Bahwa ia telah berbuat tidak adil dengan memeras. Inilah hal yang sering menjadi godaan bagi pemungut cukai, yang secara khusus telah diperingatkan kepada mereka oleh Yohanes Pembaptis (Luk. 3:14). Mereka adalah telinga bagi penguasa dan apa pun akan dilakukan demi meningkatkan pemasukan, sehingga memberikan mereka kesempatan untuk memuaskan dendam mereka jika mereka punya niat jahat tertentu terhadap seseorang.
(3)  Ia berjanji untuk mengganti empat kali lipat, sejauh ia dapat mengingat atau menemukan dalam catatannya bahwa ia telah berbuat tidak adil kepada seseorang. Ia tidak berkata, "Jika aku dituntut dan terpaksa membayar, aku akan menggantinya" (sebagian orang menjadi jujur ketika mereka tidak dapat menghindar), sebaliknya, ia akan melakukannya dengan sukarela: Ini akan menjadi tindakanku dan perbuatanku sendiri. Perhatikanlah, mereka yang sudah diyakinkan telah berbuat curang tidak tahan untuk memperlihatkan ketulusan pertobatan mereka itu kecuali dengan memberikan ganti rugi. Perhatikanlah, Zakheus tidak menganggap bahwa memberikan sebagian hartanya kepada orang miskin akan menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Tuhan membenci perampasan dan kecurangan, sehingga kita harus pertama-tama bertindak adil, baru kemudian mencintai kesetiaan. Jika kita memberikan apa yang bukan milik kita, itu bukanlah amal, melainkan kemunafikan. Kita tidak boleh menganggap hal-hal yang kita peroleh dengan tidak jujur sebagai milik kita sendiri. Tidak juga selama semua utang-utang kita dibayar dan ganti rugi diberikan atas segala ketidakadilan kita.

V.            Pujian dan penerimaan Kristus terhadap pertobatan Zakheus.
Dengan tindakan ini pula Kristus membersihkan segala tuduhan yang dialamatkan kepada-Nya dengan menjadi tamunya (ay. 9-10).
Zakheus sekarang dinyatakan sebagai orang yang berbahagia. Ia sekarang telah berpaling dari dosa kepada Allah. Ia telah mengundang Kristus masuk ke dalam rumahnya, dan menjadi orang yang jujur, penuh amal, dan baik hati: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini. Sekarang setelah ia dipertobatkan, ia juga dengan demikian diselamatkan; diselamatkan dari dosa-dosanya, dari rasa bersalah akibat dosa-dosa tersebut, dan dari kuasa dosa. Segala manfaat dari keselamatan telah menjadi miliknya. Kristus telah datang ke rumahnya, dan ke mana pun Kristus datang, Ia membawa serta keselamatan dengan-Nya. Ia adalah, dan akan selalu menjadi Sumber keselamatan kekal bagi semua yang mengakui-Nya, seperti yang dilakukan Zakheus. Namun semua ini belumlah cukup. Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini.
1.     Ketika Zakheus bertobat, ia akan menjadi berkat bagi rumahnya, lebih dari yang sudah-sudah. Ia akan membawa sumber anugerah dan keselamatan ke dalam rumahnya, karena ia sekarang benar-benar anak Abraham. Oleh karena itu, seperti halnya Abraham, ia akan mengajar rumah tangganya untuk hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, dan membawa kutukan ke atasnya (Hab. 2:9), namun ia yang bermurah hati kepada yang miskin membawa kebaikan ke atas rumahnya sendiri, serta berkat ke atasnya dan keselamatan ke dalamnya, setidaknya untuk sementara selama di dunia ini (Mzm. 112:3).
2.     Ketika Zakheus sendiri berpaling kepada Kristus, keluarganya juga menjadi bagian dalam Kristus, dan anak-anaknya diakui sebagai anggota jemaat-Nya, sehingga keselamatan terjadi kepada rumahnya. Oleh karena ia adalah anak Abraham, ia juga menjadi bagian dari kovenan Allah dengan Abraham, yaitu bahwa berkat Abraham akan turun ke atas para pemungut cukai, ke atas orang-orang bukan-Yahudi melalui iman, bahwa Allah akan menjadi Allah bagi mereka dan keturunan mereka. Oleh karena itu, ketika ia percaya, keselamatan datang ke atas rumahnya, seperti yang dikatakan kepada si kepala penjara itu: Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu (Kis. 16:31). Menurut kelahiran, Zakheus adalah anak Abraham, namun dengan menjadi seorang pemungut cukai, dia dipandang sebagai orang kafir, sehingga diberi cap tertentu (Mat. 18:17). Oleh karena itulah, orang-orang Yahudi malu untuk berbicara dengannya, dan berharap bahwa Kristus juga hendaknya berbuat demikian. Namun Ia menunjukkan bahwa, dengan menjadi seorang yang benar-benar menyesal, Zakheus telah menjadi rectus in curia -- benar di hadapan hukum, sama baiknya sebagai anak Abraham, seakan-akan ia tidak pernah menjadi seorang pemungut cukai, sebutan yang hendaknya tidak dilontarkan lagi kepadanya.
Apa yang telah dilakukan Kristus secara khusus untuk menjadikannya seorang yang berbahagia adalah sesuai dengan rencana besar-Nya dan maksud kedatangan-Nya ke dunia (ay. 10). Dengan dasar yang sama ini pula Kristus sebelumnya telah membenarkan pergaulan-Nya dengan para pemungut cukai (Mat. 9:13). Pada waktu itu Ia mengimbau bahwa Ia datang untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat, sekarang ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
                                                      PENUTUP
Kemalangan anak-anak manusia: mereka tersesat. Di sini seluruh umat manusia dibicarakan sebagai satu tubuh. Perhatikanlah, dunia manusia secara keseluruhan, setelah kejatuhan dalam dosa, telah menjadi dunia yang tersesat, seperti kota yang hilang yang jatuh ke dalam tangan pemberontak, seperti seorang pengelana yang kehilangan arah di padang belantara, seperti seorang sakit yang hilang karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan, seperti seorang penjahat yang hilang ketika hukuman dijatuhkan ke atasnya.
Rencana Anak Allah yang penuh anugerah: Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan, mencari untuk menyelamatkan. Ia datang dari sorga ke bumi (sebuah perjalanan yang jauh), untuk mencari yang tersesat (yang sudah berkelana jauh dan sesat) dan membawanya kembali (Mat. 18:11-12), serta menyelamatkan yang hilang, yang sedang binasa, yang hancur dan dicampakkan. Kristus rela menanggung akibat bagi yang tersesat: Ia berusaha membawa mereka kembali kepada diri mereka sendiri, yang telah tersesat dan kehilangan Allah dan segala kebaikan. Perhatikanlah, Kristus datang ke dunia yang tersesat ini untuk mencari dan menyelamatkannya. Rancangan-Nya adalah untuk menyelamatkan, ketika keselamatan tidak ada di dalam siapa pun. Dalam menjalankan rancangan-Nya tersebut, Ia mencari, menggunakan segala cara yang mungkin untuk mewujudkan keselamatan tersebut. Ia mencari mereka yang tidak layak dicari, Ia mencari mereka yang tidak mencari-Nya dan tidak mengharapkan-Nya, seperti halnya Zakheus di sini.
Renungan : anugerah Allah yang besar itu juga diberikan identitas kepada kita yang sama juga diberikan kepada Zakheus, dapat disimpulkan bahwa ada banyak orang di muka bumi ini yang mengalami hal yang sama seperti Zakheus namun akan tetap ada keberhasilan yang akan tuntaskan di muka bumi ini.

11.  Apa yang anda dapat pelajari dari khotbah gembala anda, di mana anda melayani?   
1.     Kehidupan gembala yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan lewat doa dan pujian, penyembahan.
2.     Persiapan khotbahnya mengarahkan kepada kehidupan jemaat.
3.     Penampilannya disesuaikan dengan situasi yang ada dan tidak terlalu mencolok tetapi sederhana atau apa adanya.
4.     Isi khotbahnya benar-benar dapat dimengerti dan dipahami oleh setiap orang yang mendengarkannya.
5.     Gairah yang dimilikinya yaitu semangat yang tak terpdampakan.
6.     Kepercayaan dirinya ketika berdiri di depan umum sangat menyakinkan
7.     Suara dan bahasa yang digunakannya  sangat jelas dan dapat dimengerti

8.     Memiliki urapan yang penuh kuasa dari Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar