1.
Apakah
Homiletika itu? Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan di mimbar?
defenisikan secara lengkap!
a.
Pengertian
Homiletika
Kata Homeletika adalah kata
yang agak asing di telingga jemaat awam, namun sanggat populer di kalangan
mahasiswa theologi dan siswa-siswa di sekolah Alkitab. Istilah ini berasal dari
bahasa Yunani yang kata dasarnya adalah Homilia, sebuah kata pergaulan atau
sebuah kata perckapan dengan ramah, yang juga mempunyai kata-kata yang indah
atau elok sedangkan kata kerjannya
adalah Homilein, yang dalam bahasa inggris di terjemahkan to talk atu to
converse; berbicara atau bercakap-cakap. Kata ini muncul 4 kali dalam dalam
perjanjian Baru (luk 24:14-15, kis. 20:11;24:26) kata benda homelia diketemukan
satu kali saja dengan arti yang negatif, yaitu 1 Kor. 15 : 33.
b.
yang
boleh dan yang tidak boleh dilakukan di mimbar
2.
Jelaskan
secara detail prinsip dasar dalam berkhotbah!
Theologi pembritaan Firman
Tuhan mencakup dua bagian yang sanggat
erat, yaitu ;
a. Alkitab
adalah dasar pembritaan Firman
Sebagai seorang pengkhotbah harus selalu menjadikan
Alkitab sebagai dasar utama pembritaaan
Firman Allah atau Khotbahnya, saat berkotbah hendaklah mengguanakan kata-kata
tentang Allah dan kesaksian tentang penyertaan Allah yangb terdapat dalam
Alkitab. Alkitab juga sebagai buku penyataan Allah dan juga menjdi dasar
khotbah karena sifatnya yang jelas, cukup, berwibawa dan mutlak di perlukan
atau di beritakan. Akitab juga adalah jelas yang dimaksudkan dapat dimengerti
dan dipahami oleh semua orang terutama yang berkenan dengan keslamatan dan
kehidupan kekal. Alkitab juga sebagai penyataan Allah yng cukup berarti yang
bisa dijadikan pegangan iman nyang normatif intuk iman dn praktek hidup
sehari-hari. Alkitab mempunyai wibawa atau kuasa dari dalam dirinya sendiri
(autopistos,; membuktikan diriya sebagai
Firman Allah yang berwibawa dan penuh kuasa). Alkitab mutlak diperlukan
karena sanggup menyelamatkan orang yang tersesat dn terhilang, merupakan
makanan rohani, senjata orang kristen dapat memberikan petunjuk kehidupan,
pedoman disaat pergumulan, dasar pengharapan, dasar pengajaran kegirangan dan
semangat baru, dasar untuk mengenal Tuhan, dasar iman yang teguh dan
prinsip-prinsip hidup yang lain.
b. Yesus
Kristus adalah pusat pemberitaan Firman.
Seorang
pengkhotbah dalam penyampaiaan Firman Tuhan harus berpusatkan pada Yesus
Kristus, Yang oleh-Nya Allah mendamaikn dunia, din dalam anak-Nya Ia
mengunjunggi manusia, berskutu,
mengampuni dan memanggil manusia kepada hidup yang baru. Intisari khotbah yang
sebenarnya yaitu kabar kesukaan dimana Kirstus telah mati dan bangkit bagi kita
supaya kita tidak hidup untuk diri kita sendiri tetapi hidup untuk Dia. Yang
telah mati dan yang telah hidup untuk kita (II Kor. 5:15) tidak ada jalan
lain selain melalui Yesus Kristus (Kis 4: 12, Yoh 14: 6). Itulh sebabnya dialah
yang menjadi pusat Khotbah, karena selain itu tidak ada.
Tujuan khotbah adalah supaya percaya dan di
selamatkan, dalam berkotbah tentunya pengkhotbah dipimpin oleh Roh Kudus.
3.
Bagaimana
agar kita menjadi pengkotbah yang berhasil? Apa yang mempengaruhi keberhasilan
dan kegagalan seorang pengkhotbah ?
a.
Pengkhotbah
yang berhasil
Tergantung pada
penghotbah yang berhubungan dengan isi khotbahnya
IsI
Ø khotbah
dimulai dari hermeunetik yang baik
Ø Judul
khotbah (8 tipe)
Ø Pendahuluan
(7 tipe)
Ø Isi/
garis
Ø Penutup
khotbah (6-7 tipe)
Ø Dijelaskan
menurut hermeunetik, multi khotbahnya
Ø Menggunakan
ilustrasi untuk Menemukan isi khotbah dngan memilih kesaksian dalam pribadi
atau orang lain.
Ø Menggunakan
stastistik dalam negeri dan luar negeri
Ø Menggunakan
sejarah mendukung seluruh isi khotbah.
Ø Menggunakan
audio visual.
TEKNIK ketrampilan dalam
penyampaian
Ø Gunakan
mimik muka yang sopan, bergairah dan
lain-lain.
Ø Gerak
yang efektif (ada 4)
Ø Pergunakan
anggota tubuh.
Ø Pergunakan
alat peraga (barang atau benda dan
orang)
Ø Menganalisa
teknik suara (ada 12).
Ø Perhatikan
tinggi dan rendahnya suara.
Ø Perhatikan
bahasa yang digunakan.
Ø Percaya
diri.
Ø Perhatikan
cara berpakaian, contoh gunakan baju yang longgar agar dapat brgerak bebas saat
berkotbah dan sesuaikan warna baju yang digunakan minimal 3 warna, ada baiknya
gunakan baju warna hitam atau batik. Bagi yang cowo gunakan dasi jangan terlalu
panjang atau pendek, dasinya harus pas pada
ikat pinggang.
KUASA
· Harus
penuh dengn kuasa Roh Kudus
· Harus
punya jam doa (1 jam)
· Sudah
memiliki urapan sejak dalam kandungan, yang merupakan karakter dasar ( internal
; Daud, eksternal ; saul)
· Kebenaran
: (baca Alkitab, taat, saat Teduh).
· Menjaga
kekudusan agar tetap dipakai Tuhan dengan memiliki hati yang suci pasti punya
kuasa.
· Memiliki
Kasih yaitu hidup dalam Kasih karena semakin besar Kasih kita maka semakin
besar ladang pelayanan kita.
· Memiliki
iman karena semakin besar iman seseorang maka semakin besar juga kehidupan
khotbahnya (contohnya Musa).
b.
Pengaruh
Keberhasilan dan kegagalan seorang pengkhotbah
1. Kebenaran
yang di sampaikan pengkhotbah tidak realistis
2. isi
pengkhotabah tidak berbobot dan alur pikiran pengkhotbah tidak jelas.
3. Tidak
mempunyai teknik atau ketrampilan dalam berkhotbah
4. Khotbahnya
kering dan tidak punnya kuasa
4.
Apa tujuan khotbah, dan bagaimana caranya agar
tujuan khotbah dapat tercapai?
Menurut Dr. H. Rothlisberger
ada dua tujun dalam berkotbah;
1. Supaya
percaya dan dibaptis, 2. Supaya bertumbuh dalam kedewasaan iman.
Menurut khotbah dalam Alkitab
yaitu
1. Membawa
orang keluar dari gelap kepada terang, membawa orang dari kuasa iblis kapad
kuasa Allah (Kis 26: 16-19),
2. Meruntuhkan
benteng-benteng ; melepaskan mereka yang terbelenggu karena dosa (II Kor. 10: 4-5),
3. Untuk
pertumbuhan Rohani menuju kedewasaan, menjadi murid dan pengajaran penuh (Efs. 4:11-13; Mat. 28:19-20).
Menurut
Lukas Tjandra, untuk mencapai tujuan Khotbah, maka ada 3 hal yaitu:
1. Agar
pendengar dapat memehami Firman Tuhan yang diberitakan.
2. Agar
meninggalkan kesan yang dalam bagi pendengar tergerak untuk segera
merealisasikan kebenaran itu dalam
kehidupan sehari-hari.
Tujuan
khotbah secara umum, sedang secara khusus dalam setiap khotbah masing-masing
mempunyai tujuan yang ingin di capai sesuai dengan kebutuhan jemaat yang di
layani.
5.
Jelaskan
syarat seorang pengkhotbah yang efektif!
Seorang pengkhotbah adalah
seorang yang menjadi menyambung lidah Allah. Pekerjaan ini adalah pekerjaan
yang suci sebab yang disampaikan adalah Firmn Allah. Untuk itu perlu
diperhatikan beberapa syarat menjeadi pengkhotbh yang baik, yaitu:
a. Lahir
baru
Seorang pengkhotbh harus lahir
baru dan sudah harus bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan
Juruslamat pribadi, dan memiliki sifat dan karakter Ilahi yang terus bertumbuh
kearah Kristus. Seperti anak rajawali yang menetas dan bertumbuh semakin hari
semakin nampak menuju kepada rajwali dewasa. Adapun beberapa ciri mutlak seorang
yang telah baru lahir.
· Sadar
bahwa ia telah menjadi anak Allah. (Yoh 1: 12; Rom 8:14-16)
· Mengakui
Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi (dengan mulut dan hati, Roma
10:9-10)
· Meninggalkan
sifat manusia lama, memiliki pandangan baru (iman), tujuan baru (menetap
bersama Allah), motivasi baru (berkenan kepada Allah), dasar hidup baru
(Kasih), cita-cita baru (hidup untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri),
penilaian baru (ukuran ilahi) (II Kor 5: 17).
· Bebas
dari ikatan okultisme dll, ( Rom. 5:1)
· Buah
Roh yang terus-menerus nampak. (Gal 55:22-23)
b. Kedewasaan
Rohani
· Seorang
pelayanan pengkhotbah harus memiliki standart moral, kesalehan, kesucian dan
punya pergaulan karib dengan Allah, yang lebih dari jemaatnya, harus memiliki
buah roh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga mencpai kedewavaan
rohani.
· Harus
menjadi teladan kehidupan secara konkrit bagi jemaat. (Flp 3:17 “ikutilah
teladanku”) yang akan menjadi mimbar hidup, suara mimbar hidup kita harus lebih
keras dari mimbar di gereja.
· Harus
memiliki hidup yang benar di hadapan Tuhan agar dapat diterima oleh jemaat. Dan
juga memiliki integritas diri dan juga kecakapan hidup dan kontrol hidup dalam
setiap keadan hidup.
· Seorang
yang dewasa rohani pastinya harus dipenuhi oleh Roh Kudus adalah buah kesucian
dari hidup dan juga harus memiliki kepekaan hati sehingga tetap dalam tuntunan
Roh Kudus.
c. Panggilan
khusus sebagai pembuicara
d. Pengetahuan
dan ketrampilan
e. Kepercayaan
diri yang positif
· Memberi
pengaruh kepada jemaat
· Terhadap
penghotbah sendiri
· Dapat
menyampaikan firman Tuhan dengan auntisias
1) Kerendahan
hati
2) Sikap
yang berdiri tegak
3) Gerakan
yang rileks
4) Berani
menatap jemaat
5) Berani
berbicara dengan tidak berbuat-buat.
6) Gunakan
kata-kata dan gerakan yang harmonis
7) Mampu
menguasai kata dengan situasi yang ada
6.
Bagaimana
langkah-langkah untuk mengatasi kegugupan ?
Untuk nmengatasi kegugupan
neruasvous ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pengkhotbah yaitu
1. Memilih
tema khotbah yang menarik bagi pengkhotbah maupun jemaat
2. Mengusai
dan mempelajari sedalam-dalamnya pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan
kepada jemaat.
3. Meningkatkan
jam terbang dengan sering tampil berbicara saat diberi kesempatan untuk tampil.
4. Fokuskan
perhtian kepada jemaat
5. Menerima
ketegangan sebagai hal yang wajar (biasa) bagi seorang pengkhotbah
6. Tidak
menyerah ketik menghadapi situasi yang sulit.
7.
Bagaimana
seharusnya kehidupan seorang pengkhotbah? Jika ia jatuh bagaimana bangkit kembali?
Suatu khotbah tergantung pada
si pengkhotbahnya; bagaimana hidupnya apa yang dibuatnya , pa yang dipirkannya
dan dirasakannya, antara lain;
1. Kebiasaan
cara kerja pengkhotbah
a. Terimalah
kenyataan bahwa sebagai pengkhotbah, pekerjaan memerlukan banyak waktu.
b. Sediakan
waktu yang teratur untuk belajar
c. Kita
harus belajar secara sistematis
d. Jangan
menunda-nunda tugas
e. Delegasikan
tugas yang dapat di laksanakan orang lain
f. Belajarlah
untuk berkata tidak
2. Kebiasaan
mental dan kesehatan tubuhnya
3. Charakter
yang terus menerus dibangun
4. Pengalaman
pribadi yang semakin bertumbuh
5. Dedikasi
dan sukacita dalam panggilan
8.
Apa
saja dan bagaimana memperoleh benih khotbah yang baik?
1. Tujuan
khotbah haruslah terbangun dari
sebuah kebenaran Alkitab
2. Tujuan
khotbah harus khusus dan tajam
3. Tujuan
khotbah harus relevan dengan kebutuhan jemaat yang dihadapi.
9.
Buatlah
garis besar khotbah dari lukas 19:1-10, kemampun homileika yang anda miliki.
10. Buatlah garis besar khotbah
dari lukas 19:1-10, kemampun homileika yang anda miliki.
judul : Pertobatan Zakheus
Pendahuluan
ada
banyak orang yang mengalami pertobatan dalam iman kepada Kristus namun tidak terdapat dalam Alkitab, namun ada
beberapa orang yang mengalami pertobatan yang sangat luar biasa seperti
peristiwa yang di alami oleh Zakheus. Dapat dilihat di ayat 1 bahwa Yesus masuk
ke kota itu, kota itu dibanggun dibawah kutukkan, namun Yesus menghargai kota
itu dengan kehadirannya di kota itu karena lewat injil dapat melenyapkan kutuk
tersebut. Walaupun kota itu sebenarnya tidak boleh dibangun, tetpai tidak
menjadi masalah kalau tinggal di dalamnya. Dalam perjalanan Yesus dari seberang
sungai Yordan menuju ke Betani, yang dekat dengan Yerusalem dengfan tujuan
untuk membengkitkan Lazarus yng sudah mati. Namun dalam perjalanan dengann
tujuan melakukan hal yang baik, sehingga Yesus ingin setiap perjalanan-Nya. Ia
melakukan kebaikan kepada jiwa dan raga orang-orang, saat itu yang dapat
dilihat dari satu contoh yang mengenai kebaikan-Nya terhadap jiwa yaitu:
I.
Perlunya
kita mengetaui siapa dan apa pekerjaan Zakheus
Namanya
menunjukkan bahwa ia adalah seorang Yahudi. Zaccai adalah sebuah nama yang umum
dipakai di antara orang-orang Yahudi. Ada juga seorang rabbi Yahudi terkenal
yang hidup kira-kira pada masa yang sama dengan nama yang sama. Panggilan
hidupnya dan kedudukan yang dipegangnya: Ia seorang kepala pemungut cukai,
seorang pimpinan, yang mengepalai semua pemungut-pemungut cukai yang lain. Dia
adalah seorang pemungut cukai, seperti kata sebagian orang. Kita sering membaca
mengenai pemungut cukai yang datang kepada Yesus namun yang ada di sini adalah
seorang kepala pemungut cukai, yang berkuasa, yang datang mencari-Nya. Allah
memang memiliki sisa-sisa umat-Nya dari berbagai macam orang. Yesus datang
bahkan untuk menyelamatkan seorang kepala pemungut cukai.
Keadaannya
di dunia ini sungguh terhormat: Ia seorang yang kaya. Para pemungut cukai
umumnya adalah orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dan statusnya rendah
di dunia ini. Namun, si kepala pemungut cukai ini telah mengumpulkan harta yang
banyak. Belum lama berselang Yesus menunjukkan betapa sukarnya bagi orang yang
beruang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, namun sekarang Ia memberikan
contoh mengenai seorang kaya yang tersesat namun ditemukan kembali, bukan
sebagai seorang anak hilang yang jatuh miskin.
Bagaimana
ia menemui Kristus di jalan-Nya, dan apa yang terjadi ketika ia bertemu
dengan-Nya.
Ia
mempunyai rasa keingintahuan yang besar untuk melihat Yesus, untuk mengetahui
orang seperti apakah Dia, karena telah mendengar banyak hal yang hebat mengenai
diri-Nya (ay. 3). Bukanlah hal yang aneh bagi kita untuk bertemu, jika bisa,
dengan orang-orang terkenal yang sering kita dengar karena kita cenderung
berpikir bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam penampilan mereka. Setidaknya
setelah itu kita dapat berkata bahwa kita telah melihat orang-orang besar yang
seperti ini atau itu. Akan tetapi, mata tidak dipuaskan dengan melihat.
Sekarang ini kita harus berusaha melihat Yesus dengan mata iman, untuk melihat
siapa Dia sebenarnya. Dengan kudus kita harus mengarahkan diri kita kepada Dia,
dan kita akan melihat Yesus.
II.
Ia
tidak dapat memuaskan rasa penasarannya karena badannya pendek, dan orang-orang
sangat ramai di situ.
Kristus tidak mencoba untuk menarik perhatian,
Ia tidak dipikul di atas pundak orang supaya semua orang dapat melihat-Nya.
Baik Dia maupun kerajaan-Nya datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Ia tidak
menunggangi kereta kuda yang terbuka layaknya pangeran-pangeran, namun, sebagai
salah satu dari kita, Ia membaur dalam kerumunan orang, karena hari itu adalah
hari ketika Ia akan mendapat penghinaan. Zakheus badannya pendek dan dihalangi
oleh orang-orang yang lebih tinggi darinya sehingga ia tidak dapat melihat
Yesus. Banyak orang yang badannya kecil mempunyai jiwa yang besar dan semangat
yang hidup. Siapa yang tidak ingin lebih menjadi seperti Zakheus daripada Saul,
walaupun dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya?
Janganlah mereka yang badannya kecil ingin menambahkan sehasta ke atas diri
mereka.
Karena
ia tidak ingin rasa penasarannya tidak terpuaskan, ia melupakan harga dirinya
sebagai kepala pemungut cukai, dan berlarilah ia mendahului orang banyak,
seperti seorang anak kecil, dan memanjat pohon ara, untuk melihat Yesus.
Perhatikanlah, mereka yang dengan tulus ingin melihat Kristus akan menggunakan
cara yang tepat untuk melihat-Nya dan akan menerjang segala kesulitan dan
tantangan dan rela menderita untuk melihat-Nya. Mereka yang merasa dirinya
kecil harus menggunakan segala kesempatan yang mereka dapatkan untuk
meninggikan diri mereka agar dapat melihat Kristus, dan tidak merasa malu untuk
mengakui bahwa mereka membutuhkan-Nya, dan sekecil apa pun yang kita lakukan,
cukuplah itu. Janganlah kita berputus asa, karena dengan pertolongan yang
tepat, kita harus menentukan tujuan-tujuan yang tinggi supaya dapat mencapai
tempat-tempat yang tinggi.
III.
Kristus
melihatnya dan memanggilnya untuk berkenalan lebih jauh dengannya (ay. 5) dan
hasil dari panggilan tersebut (ay. 6).
Kristus
mengundang diri-Nya sendiri untuk berkunjung ke rumah Zakheus, tanpa meragukan
kesediaan Zakheus untuk menyambut-Nya dengan hati yang terbuka. Ya, ke mana pun
Kristus pergi, Ia membawa serta penghiburan bersama diri-Nya, dan juga sambutan
atas diri-Nya sendiri. Ia membuka hati orang dan mencondongkannya untuk
menerima Dia. Kristus memandang ke atas pohon, dan melihat Zakheus. Ia datang
untuk melihat Kristus dan bertekad untuk secara khusus memperhatikan Dia, namun
tidak pernah menyangka bahwa Kristus akan memperhatikannya. Ini suatu
kehormatan yang terlalu besar dan jauh melebihi apa yang layak ia dapatkan, jauh
melebihi apa yang pernah dipikirkannya. Lihatlah bagaimana Kristus mendahului
Zakheus dengan berkat-berkat kebaikan-Nya dan bertindak melampaui
harapan-harapannya. Lihatlah juga bagaimana Ia membesarkan hati orang-orang
yang baru mulai dan membantu mereka untuk maju. Mereka yang berniat untuk
mengenal Kristus akan dikenal oleh-Nya. Mereka yang hanya sekadar ingin
melihat-Nya akan disambut untuk berbincang-bincang dengan-Nya. Perhatikanlah,
mereka yang setia dalam perkara kecil, akan dipercayakan dengan sesuatu yang
lebih besar lagi. Kadang-kadang mereka yang datang untuk mendengar firman
Kristus sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka, seperti yang dilakukan
Zakheus, tanpa pernah mereka duga, hati nurani mereka malah dibangunkan, dan
hati mereka diubahkan. Kristus memanggilnya dengan namanya, Zakheus, karena Ia
mengenal orang-orang pilihan-Nya dengan nama mereka; bukankah semuanya sudah
dicatat? Zakheus mungkin bertanya, seperti halnya Nathanel (Yoh. 1:48),
"Bagaimana Engkau mengenal aku?" Akan tetapi, sebelum ia memanjat
pohon ara, Kristus sudah melihatnya dan mengenalnya. Ia menyuruhnya segera
turun. Mereka yang dipanggil oleh Kristus harus turun, harus merendahkan diri
mereka, dan tidak berpikir untuk naik ke sorga dengan mengandalkan kebenaran mereka
sendiri. Mereka harus bergegas untuk turun, karena bahaya jika ditunda-tunda.
Zakheus tidak boleh ragu-ragu, tetapi bergegas. Ia tahu bahwa tidak perlu
menimbang-nimbang apakah mau menyambut tamu yang demikian atau tidak ke dalam
rumahnya. Ia harus turun, karena Kristus pada hari tersebut berniat untuk
menumpang di rumahnya, dan berada di situ satu atau dua jam lamanya. Lihat, Aku
berdiri di depan pintu dan mengetok.
Zakheus
sangat bersukacita mendapat kehormatan sedemikian besar atas rumahnya (ay. 6):
Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Sambutan yang
diberikan Zakheus kepada Kristus untuk masuk ke dalam rumahnya merupakan awal
dan tanda bahwa ia menerima Kristus ke dalam hatinya. Perhatikanlah, ketika
Kristus memanggil kita, kita harus bergegas menjawab panggilan-Nya dan ketika
Ia datang kepada kita, kita harus menerima-Nya dengan sukacita. Angkatlah
kepalamu, hai pintu-pintu gerbang. Kita dapat menerima-Nya dengan suka cita
karena Ia membawa serta segala kebaikan dalam diri-Nya, dan ketika Ia
memenangkan satu jiwa, mata air sukacita akan terbuka dan terus mengalir tanpa
putus. Betapa seringnya Kristus memberi tahu kita, Bukalah pintu, karena kita
selalu banyak alasan dengan kekasih kita! (Kid. 5:2-3). Keterbukaan Zakheus
dalam menerima Kristus akan membuat kita malu. Memang sekarang kita tidak
memiliki Kristus lagi untuk menjamu Dia di dalam rumah kita, namun kita
memiliki murid-murid-Nya, dan apa yang kita lakukan bagi mereka akan
diperhitungkan Kristus sebagai sesuatu yang dilakukan bagi diri-Nya sendiri.
IV.
Rasa
tidak senang orang-orang akan sambutan hangat yang diberikan Kristus kepada
Zakheus.
Orang-orang
Yahudi yang berhati picik dan suka menghakimi itu bersungut-sungut dan berkata
bahwa Ia telah menumpang di rumah orang berdosa, para hamartōlō andri -- dengan
orang yang berdosa. Namun, bukankah mereka sendiri juga orang-orang berdosa?
Bukankan tujuan Kristus datang ke dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan
manusia yang adalah orang-orang berdosa? Akan tetapi, Zakheus dianggap sebagai
pendosa besar di antara semua yang tinggal di Yerikho, seorang pendosa yang
bahkan tidak layak untuk disapa. Dalam hal ini, sangatlah tidak adil untuk
menyalahkan Kristus karena pergi ke rumahnya, sebab:
Walaupun
ia adalah seorang pemungut cukai, dan banyak dari mereka adalah orang-orang
yang busuk, tidaklah berarti bahwa dengan demikian mereka semua sama. Kita
harus waspada agar jangan sampai mengecam orang menurut kelompoknya, atau
menurut pandangan umum, karena dalam pengadilan Allah semua orang akan diadili
sesuai dengan keadaan dirinya masing-masing.
Walaupun
Zakheus dulu seorang pendosa, tidak berarti bahwa sekarang ia sama busuknya
dengan keadaannya yang sebelumnya. Walaupun orang-orang mengetahui bahwa
kehidupan masa lalunya jelek, Kristus bisa mengetahui bahwa tabiatnya yang
sekarang baik. Allah memberikan ruang untuk pertobatan, sehingga kita juga
harus berbuat demikian.
Walaupun
Zakheus sekarang seorang pendosa, mereka tidak boleh menyalahkan Kristus karena
datang kepadanya, karena Ia tidak terancam bahaya disakiti oleh seorang
pendosa, sebaliknya Ia memiliki harapan yang besar untuk melakukan kebaikan
kepada seorang pendosa. Kepada siapakah seorang tabib akan pergi selain kepada
orang sakit? Namun lihatlah bagaimana niat yang baik sering direka-reka menjadi
hal yang jelek.
1. Kesaksian
yang Zakheus perlihatkan secara terbuka adalah bahwa, walaupun dulunya ia
seorang pendosa, ia kini menyesal dan benar-benar bertobat \\
2. (ay.
8). Ia tidak berharap untuk mendapat pembenaran melalui perbuatannya layaknya
orang Farisi yang selalu menyombongkan apa yang telah ia lakukan. Sebaliknya,
melalui pekerjaan-pekerjaan baik, dengan anugerah Allah, ia akan membuktikan
ketulusan iman dan pertobatannya. Dan, memang ia menyatakan kebulatan hatinya
itu. Ia berdiri dan membuat pernyataannya itu, supaya dapat dilihat dan
didengar oleh mereka yang bersungut-sungut kepada Kristus karena datang ke
rumahnya. Dengan mulut orang mengakui pertobatan dan iman mereka. Ia berdiri,
yang berarti bahwa ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan khusyuk,
seperti bersumpah di hadapan Allah. Ia mengarahkan dirinya kepada Kristus
ketika berbuat demikian, bukan kepada orang banyak (mereka bukan hakimnya),
namun kepada Tuhan. Ia berdiri seakan-akan di hadapan pengadilan-Nya. Apa pun perbuatan
baik kita, harus kita lakukan layaknya bagi-Nya. Kita harus memohon kepada-Nya
dan membuktikan diri untuk mendapat perkenanan-Nya dalam keutuhan atau
integritas kita, dalam segala niat dan tekad baik kita. Zakheus memperlihatkan
bahwa ada perubahan dalam hatinya (dan inilah pertobatan itu), karena ada
perubahan dalam cara hidupnya. Tekadnya adalah untuk menaati perintah-perintah
Allah pada loh batu kedua, karena Kristus dalam segala kesempatan selalu
menegaskan hal-hal tersebut. Perintah-perintah ini sangat cocok dengan
keadaannya dan tabiatnya, karena dengan memenuhi perintah-perintah tersebut
akan tampak sekali kesungguhan pertobatan kita.
Zakheus
mempunyai banyak harta. Jika ia sebelumnya mengumpulkan harta untuk dirinya
sendiri sehingga membawa penderitaan bagi dirinya, sekarang ia bertekad bahwa
ke depan ia hanya akan mencari Allah dan melakukan kebaikan bagi orang lain
dengan hartanya: Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang
miskin. Ia tidak berkata, "Aku akan memberikannya nanti ketika aku
meninggal," tetapi, "Aku akan memberikannya sekarang juga."
Mungkin ia telah mendengar mengenai perintah dalam ujian yang Kristus berikan
kepada seorang kaya yang lain agar ia menjual apa yang dimilikinya dan
memberikannya kepada orang miskin (Mat. 19:21), dan bagaimana ia meninggalkan
Kristus dalam hal tersebut. "Tetapi aku tidak akan berbuat demikian,"
kata Zakheus; "Aku setuju semuanya, walaupun sampai saat ini aku tidak
berbelas kasih kepada mereka yang miskin, sekarang aku akan memberikan kelegaan
kepada mereka dan memberikan lebih banyak lagi karena telah mengabaikan
kewajibanku begitu lama, bahkan setengah dari milikku." Ini adalah jumlah
yang sangat besar untuk digunakan bagi perbuatan saleh dan amal. Dulu
orang-orang Yahudi biasanya berkata bahwa seperlima dari pendapatan tahunan
seseorang sangat pantas diberikan untuk hal-hal saleh, dan hukum Taurat juga
menyebut jumlah yang kira-kira sebanyak itu. Akan tetapi, Zakheus berbuat lebih
jauh lagi dengan memberikan setengah hartanya kepada orang miskin, yang akan
membuatnya mengurangi segala pengeluarannya yang boros, karena dengan begitu ia
akan lebih dapat memberikan kelegaan bagi banyak orang melalui kelimpahannya.
Jika saja kita hidup lebih sederhana dan dapat menyangkal diri, kita akan dapat
lebih beramal, dan jika kita dapat merasa puas dengan tidak hidup berlebihan,
kita akan punya lebih banyak lagi untuk diberikan kepada mereka yang
membutuhkan. Zakheus menyebutkan hal ini sebagai buah pertobatannya.
Perhatikanlah, orang yang benar-benar bertobat kepada Allah adalah mereka yang
berbuat amal kepada orang yang miskin.
Zakheus
sadar sendiri bahwa ia tidak memperoleh semua hartanya dengan jujur dan adil,
tetapi sebagiannya diperoleh dengan cara-cara yang curang dan melawan hukum.
Mengenai apa yang ia dapatkan dengan cara-cara demikian, ia berjanji untuk
menggantinya: "Jika ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, atau jika aku
telah merugikan siapa pun dalam pekerjaanku sebagai pemungut cukai, mengambil
lebih dari apa yang seharusnya, aku berjanji untuk mengganti empat kali
lipat." Ini adalah ganti rugi yang harus diberikan oleh seorang pencuri
(Kel. 22:1). Zakheus sadar sendiri bahwa ia tidak memperoleh semua hartanya
dengan jujur dan adil, tetapi sebagiannya diperoleh dengan cara-cara yang
curang dan melawan hukum. Mengenai apa yang ia dapatkan dengan cara-cara
demikian, ia berjanji untuk menggantinya: "Jika ada sesuatu yang kuperas
dari seseorang, atau jika aku telah merugikan siapa pun dalam pekerjaanku
sebagai pemungut cukai, mengambil lebih dari apa yang seharusnya, aku berjanji
untuk mengganti empat kali lipat." Ini adalah ganti rugi yang harus
diberikan oleh seorang pencuri (Kel. 22:1).
(1) Zakheus tampaknya dengan terbuka mengakui
bahwa ia telah berbuat salah. Jabatannya sebagai seorang pemungut cukai
memberinya kesempatan untuk berlaku tidak adil dengan mengambil keuntungan dari
para pedagang untuk menyenangkan hati penguasa. Mereka yang sungguh-sungguh
menyesal tidak hanya akan mengakui kesalahan-kesalahan umum yang mereka lakukan
di hadapan Allah, namun akan secara khusus bercermin dari pelanggaran yang
mereka sendiri lakukan, karena alasan tugas dan pekerjaan mereka di dunia ini
mudah memberikan masalah bagi mereka.
(2) Bahwa
ia telah berbuat tidak adil dengan memeras. Inilah hal yang sering menjadi
godaan bagi pemungut cukai, yang secara khusus telah diperingatkan kepada
mereka oleh Yohanes Pembaptis (Luk. 3:14). Mereka adalah telinga bagi penguasa
dan apa pun akan dilakukan demi meningkatkan pemasukan, sehingga memberikan
mereka kesempatan untuk memuaskan dendam mereka jika mereka punya niat jahat
tertentu terhadap seseorang.
(3) Ia
berjanji untuk mengganti empat kali lipat, sejauh ia dapat mengingat atau
menemukan dalam catatannya bahwa ia telah berbuat tidak adil kepada seseorang.
Ia tidak berkata, "Jika aku dituntut dan terpaksa membayar, aku akan
menggantinya" (sebagian orang menjadi jujur ketika mereka tidak dapat
menghindar), sebaliknya, ia akan melakukannya dengan sukarela: Ini akan menjadi
tindakanku dan perbuatanku sendiri. Perhatikanlah, mereka yang sudah diyakinkan
telah berbuat curang tidak tahan untuk memperlihatkan ketulusan pertobatan
mereka itu kecuali dengan memberikan ganti rugi. Perhatikanlah, Zakheus tidak
menganggap bahwa memberikan sebagian hartanya kepada orang miskin akan menebus
kesalahan yang telah ia perbuat. Tuhan membenci perampasan dan kecurangan,
sehingga kita harus pertama-tama bertindak adil, baru kemudian mencintai
kesetiaan. Jika kita memberikan apa yang bukan milik kita, itu bukanlah amal,
melainkan kemunafikan. Kita tidak boleh menganggap hal-hal yang kita peroleh
dengan tidak jujur sebagai milik kita sendiri. Tidak juga selama semua
utang-utang kita dibayar dan ganti rugi diberikan atas segala ketidakadilan
kita.
V.
Pujian
dan penerimaan Kristus terhadap pertobatan Zakheus.
Dengan
tindakan ini pula Kristus membersihkan segala tuduhan yang dialamatkan
kepada-Nya dengan menjadi tamunya (ay. 9-10).
Zakheus
sekarang dinyatakan sebagai orang yang berbahagia. Ia sekarang telah berpaling
dari dosa kepada Allah. Ia telah mengundang Kristus masuk ke dalam rumahnya,
dan menjadi orang yang jujur, penuh amal, dan baik hati: Hari ini telah terjadi
keselamatan kepada rumah ini. Sekarang setelah ia dipertobatkan, ia juga dengan
demikian diselamatkan; diselamatkan dari dosa-dosanya, dari rasa bersalah
akibat dosa-dosa tersebut, dan dari kuasa dosa. Segala manfaat dari keselamatan
telah menjadi miliknya. Kristus telah datang ke rumahnya, dan ke mana pun
Kristus datang, Ia membawa serta keselamatan dengan-Nya. Ia adalah, dan akan selalu
menjadi Sumber keselamatan kekal bagi semua yang mengakui-Nya, seperti yang
dilakukan Zakheus. Namun semua ini belumlah cukup. Hari ini telah terjadi
keselamatan kepada rumah ini.
1. Ketika
Zakheus bertobat, ia akan menjadi berkat bagi rumahnya, lebih dari yang
sudah-sudah. Ia akan membawa sumber anugerah dan keselamatan ke dalam rumahnya,
karena ia sekarang benar-benar anak Abraham. Oleh karena itu, seperti halnya
Abraham, ia akan mengajar rumah tangganya untuk hidup menurut jalan yang
ditunjukkan Tuhan. Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk
keperluan rumahnya, dan membawa kutukan ke atasnya (Hab. 2:9), namun ia yang
bermurah hati kepada yang miskin membawa kebaikan ke atas rumahnya sendiri,
serta berkat ke atasnya dan keselamatan ke dalamnya, setidaknya untuk sementara
selama di dunia ini (Mzm. 112:3).
2. Ketika
Zakheus sendiri berpaling kepada Kristus, keluarganya juga menjadi bagian dalam
Kristus, dan anak-anaknya diakui sebagai anggota jemaat-Nya, sehingga
keselamatan terjadi kepada rumahnya. Oleh karena ia adalah anak Abraham, ia
juga menjadi bagian dari kovenan Allah dengan Abraham, yaitu bahwa berkat
Abraham akan turun ke atas para pemungut cukai, ke atas orang-orang
bukan-Yahudi melalui iman, bahwa Allah akan menjadi Allah bagi mereka dan
keturunan mereka. Oleh karena itu, ketika ia percaya, keselamatan datang ke
atas rumahnya, seperti yang dikatakan kepada si kepala penjara itu: Percayalah
kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu
(Kis. 16:31). Menurut kelahiran, Zakheus adalah anak Abraham, namun dengan
menjadi seorang pemungut cukai, dia dipandang sebagai orang kafir, sehingga
diberi cap tertentu (Mat. 18:17). Oleh karena itulah, orang-orang Yahudi malu
untuk berbicara dengannya, dan berharap bahwa Kristus juga hendaknya berbuat
demikian. Namun Ia menunjukkan bahwa, dengan menjadi seorang yang benar-benar
menyesal, Zakheus telah menjadi rectus in curia -- benar di hadapan hukum, sama
baiknya sebagai anak Abraham, seakan-akan ia tidak pernah menjadi seorang
pemungut cukai, sebutan yang hendaknya tidak dilontarkan lagi kepadanya.
Apa
yang telah dilakukan Kristus secara khusus untuk menjadikannya seorang yang
berbahagia adalah sesuai dengan rencana besar-Nya dan maksud kedatangan-Nya ke
dunia (ay. 10). Dengan dasar yang sama ini pula Kristus sebelumnya telah
membenarkan pergaulan-Nya dengan para pemungut cukai (Mat. 9:13). Pada waktu
itu Ia mengimbau bahwa Ia datang untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat,
sekarang ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
PENUTUP
Kemalangan
anak-anak manusia: mereka tersesat. Di sini seluruh umat manusia dibicarakan
sebagai satu tubuh. Perhatikanlah, dunia manusia secara keseluruhan, setelah
kejatuhan dalam dosa, telah menjadi dunia yang tersesat, seperti kota yang
hilang yang jatuh ke dalam tangan pemberontak, seperti seorang pengelana yang
kehilangan arah di padang belantara, seperti seorang sakit yang hilang karena
penyakitnya tidak dapat disembuhkan, seperti seorang penjahat yang hilang
ketika hukuman dijatuhkan ke atasnya.
Rencana
Anak Allah yang penuh anugerah: Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan,
mencari untuk menyelamatkan. Ia datang dari sorga ke bumi (sebuah perjalanan
yang jauh), untuk mencari yang tersesat (yang sudah berkelana jauh dan sesat)
dan membawanya kembali (Mat. 18:11-12), serta menyelamatkan yang hilang, yang
sedang binasa, yang hancur dan dicampakkan. Kristus rela menanggung akibat bagi
yang tersesat: Ia berusaha membawa mereka kembali kepada diri mereka sendiri,
yang telah tersesat dan kehilangan Allah dan segala kebaikan. Perhatikanlah,
Kristus datang ke dunia yang tersesat ini untuk mencari dan menyelamatkannya.
Rancangan-Nya adalah untuk menyelamatkan, ketika keselamatan tidak ada di dalam
siapa pun. Dalam menjalankan rancangan-Nya tersebut, Ia mencari, menggunakan
segala cara yang mungkin untuk mewujudkan keselamatan tersebut. Ia mencari
mereka yang tidak layak dicari, Ia mencari mereka yang tidak mencari-Nya dan
tidak mengharapkan-Nya, seperti halnya Zakheus di sini.
Renungan
: anugerah Allah yang besar itu juga diberikan identitas kepada kita yang sama
juga diberikan kepada Zakheus, dapat disimpulkan bahwa ada banyak orang di muka
bumi ini yang mengalami hal yang sama seperti Zakheus namun akan tetap ada
keberhasilan yang akan tuntaskan di muka bumi ini.
11. Apa yang anda dapat pelajari
dari khotbah gembala anda, di mana anda melayani?
1. Kehidupan
gembala yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan lewat doa dan pujian,
penyembahan.
2. Persiapan
khotbahnya mengarahkan kepada kehidupan jemaat.
3. Penampilannya
disesuaikan dengan situasi yang ada dan tidak terlalu mencolok tetapi sederhana
atau apa adanya.
4. Isi
khotbahnya benar-benar dapat dimengerti dan dipahami oleh setiap orang yang
mendengarkannya.
5. Gairah
yang dimilikinya yaitu semangat yang tak terpdampakan.
6. Kepercayaan
dirinya ketika berdiri di depan umum sangat menyakinkan
7. Suara
dan bahasa yang digunakannya sangat
jelas dan dapat dimengerti
8. Memiliki
urapan yang penuh kuasa dari Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar