Rabu, 28 November 2018

Karya Ilmiah Kekerasan Dalam Rumah Tangga

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak akan terlepas dari peranan satu kelompok kecil yang sangat penting yaitu rumah tangga. Kehidupan rumah tangga adalah urusan yang bersifat personal karena siapapun tidak dapat dengan mudah melakukan intervensi atau ikut campur atas kehidupan suatu rumah tangga. Sehingga segala urusan dalam rumah tangga menjadi tanggung jawab seorang kepala rumah tangga. Kemudian seorang kepala kelaurga akan berusaha dan berharap agar terwujud suatu rumah tangga yang harmonis, damai sejahtera dan bahagia selamanya. Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa hal tersebut tidaklah mudah untuk diwujudkan karena dalam beberapa kasus kita temukan bahwa banyak rumah tangga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga terkait erat dengan kekuasaan dan kontrol. Meskipun istilah kekerasan berkonotasi fisik, kekerasan dalam rumah tangga atau penyiksaan dapat terjadi melalui cara-cara non fisik. Misalnya, pelaku memanipulasi korbannya melalui perasaan ataupun ekonomi. Bentuk lain bisa berupa penyiksaan lisan maupun seksual. Seseorang dari segala usia, jenis kelamin, kelas sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, atau agama dapat terkena dampak dari kekerasan dalam rumah tangga.
Penyiksaan dalam rumah tangga biasa berlangsung melalui satu “siklus kekerasan.” Ketegangan terbentuk; korban kemudian mencoba meredakan kemarahan pelaku; tapi akhirnya insiden tetap terjadi. Pelaku meminta maaf dan mencoba berbaikan dengan korban; berjanji hal itu tidak akan pernah terjadi lagi atau dengan melimpahi korban hadiah. Lalu datang masa tenang sebelum ketegangan kemudian terjadi lagi.

Setiap tahapan dalam siklus ini bisa terjadi hanya dalam menit maupun bertahun-tahun. Tanpa campur tangan, tahapan “berbaikan” dan “masa tenang” sering hilang.
Dengan demikian, Seharusnya setiap rumah tangga bisa mencerminkan kasih Allah untuk saling menghargai dan menghormati setiap anggota rumah tangga. Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap terhadap kekerasan dalam rumah tangga menurut pandangan Iman Kristen. Untuk itu kita perlu mencari tahu mengenai faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi kekerasan dalam rumah tangga, bagaimana cara membangun keluarga yang bahagia dan harmonis dan dan bagaimana pandangan iman kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Dan pada akhirnya diharapkan setiap rumah tangga bisa mengambil tindakan nyata agar bisa memilki kehidupan rumah tangga yang bahagia di dalam kristus.

B.    Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membuat fokus penelitian dalam karya ilmiah ini adalah membahas mengenai Faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga, cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis serta Pandangan iman kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga.
C.   Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan focus penelitian di atas maka pertanyaan penelitian didalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.     Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga?
2.     Bagaimana cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis?
3.     Bagaimana pandangan iman Kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga?

D.   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.     Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga
2.     Untuk mengetahui cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis
3.     Untuk mengetahui pandangan iman Kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga

E.    Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka manfaat dalam penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1.     Untuk memberikan sumbangsih pengetahuan mengenai pentingnya memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga.
2.     Sebagai pembelajaran dan menambah wawasan bagi penulis untuk belajar membuat sebuah karya Ilmiah yang berdasar pada kebenaran

F.    Metode Penelitian
Dalam Penulisan Karya Ilmiah ini, penulis menggunakan metode Penelitian Literatur, dimana penulis mencari sumber-sumber informasi melalui media buku-buku di perpustakaan.






BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN

A.   [1]Faktor-faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga
Beberapa faktor penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga antara lain :
1.      Pernikahan usia muda
adalah memang benar bahwa dapat dibuktikan sebagian pernikahan di usia muda cukup berhasil, tapi tetap tidak semua berhasil. Dalam kebanyakan hal, kaum muda belasan tahun itu masih kekanak-kanakan. Cara emosi mereka belum dewasa dan jauh dari siap menghadapi beraneka ragam masalah kehidupan berumah tangga yang rumit seluk beluknya.
2.      Tidak ada kecocokan
Sebelum menikah harus tersedia waktu cukup yang dapat dimanfaatkan oleh kedua belah pihak untuk mencari tahu benarkah di antara keduanya terdapat kecocokan cita rasa dan minat.
3.      Kesukaran ekonomi
Dapat diketahui bahwa salah satu penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah karena kesukaran ekonomi. Oleh sebab itu, dalam rumah tangga harus mempertimbangkan jumlah penghasilan dan mengatur pengeluarannya tanpa melampaui jumlah penghasilan itu.
4.      Keadaan di dalam rumah tangga yang serba berantakan
Hal ini dikarenakan  keadaan di dalam rumah dapat memberikan sumbangan yang besar dalam kesuksesan dalam berumah tangga. Kalau seorang istri jorok, maka akan ada sindirin-sindiran yang tidak sedap didengar. Seorang suami mungkin akan terpaksa membiarkan rumahnya yang semerawut itu dan bahkan memicu emosi yang berdampak pada awal mulanya kekerasan dalam rumah tangga.
5.      Cerewet
Cerewet dalah sifat buruk yang melekat tanpa pandang bulu, baik terhadap wanita maupun pria. Tetapi wanitalah yang mempunyai kecenderungan untuk bersifat bawel itu. Seharusnya kesopanan yang kita peragakan di luar rumah, harus pula kita peragakan kepada orang seisi rumah sendiri. Dengan terang-terangan, Salomo berbicara tentang kejelekan seorang istri pencerewet yang suka bertengkar : “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah, daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar” (Ams 21:9).
6.      Cemburu
Hal ini bukan lagi rahasia karena sudah ada banyak keluarga yang hancur berantakan sebagai akibat ulah suami atau istri yang cemburu secara berlebihan. Oleh sebab itu pasangan hidup harus menjauhkan diri dari kemungkinan membangkitkan kecemburuan sandingannya. Sudah pasti bukan tempatnya seorang Kristen keluar makan berduaan beresama seseorang dari jenis kelamin lain entahkah karena urusan bisnis atau urusan apapun juga.
7.      Gangguan sanak saudara
Tidak sedikit kekerasan rumah tangga karena adanya gangguan dari sanak saudara sepihak atau keduanya ikut campur tangan mengurusi permasalahan yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga. Oleh karena itu diperlukan perhitungan dan persiapan untuk mencegahnya. Kalau tidak, semua kelancangan sanak saudara itu dapat berkembang menjadi duri hingga menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga dan berakhir pada kesukaran yang besar. Contoh : campur tangan mertua yang tidak menyukai menantunya.
8.      Pasangan hidup yang sakit-sakitan dan suka merengek
Seorang yang dengan sabar dan setia mau merawat pasangan hidupnya yang telah menjadi penyandang cacat karena digerogoti penyakit yang parah, patut dipuji setinggi langit. Namun demikian, pada pihak lain salahlah orang yang telah terjatuh dan terjerat ke dalam kebiasaan hidup yang suka merengek dan mengeluh minta dikasihani. Dan karena kebiasaan tersebut jika pasangannya tidak tahan lagi maka dapat menjadi pemicu timbulkan kekerasan dalam rumah tangga.
9.      Pemikiran dan kehidupan yang keliru
Bagaimana mungkinkah dalam suatu rumah tangga yang akalnya telah dirusak oleh pemikirian yang keliru dapat hidup bahagia? Kenajisan adalah sesuatu yan sifatnya merusak, dan lama-kelamaan mengerogoti sifat baik serta mengacaukan segenap rumah tangga.
10.   Pandangan rohani yang berlainan
Dalam kebanyakan kasus, para insan yang telah keburu terjerumus kedalam pernikahan yang tidak bahagia karena duluna memasuki jenjang pernikahan dalam keadaan yang belum diselamatkan Tuhan. Kemudian salah seorang diantara keduanya bertobat, sementara yan satu tidak mau. Maka keadaan yang demikian telah menimbulkan permasalahan yang benar-benar pelik. Sering kali itu telah mengakibatkan munculnya kesalahpahaman yang mendalam, kekerasan dalam rumah tangga bahkan juga perpisahan.
11.   Lalai mengadakan saat teduh sekeluarga
Pada akhirnya alasan yang menjadi penyebab kandasnya hubungan sebuah rumah tangga sebagain orang Kristen adalah karena dalam keluarga mereka tidak dibangun mezbah keluarga. Artinya, mereka tidak mengadakan saat teduh secara rutin, yaitu secara tetap dan teratur. Oleh sebab itu, janganlah anda melalaikan atau mengabaikan perintah membesarkan anak-anak dalam lingkungan suasana yang takut dan menghormati Tuhan dan dalam ajaran-Nya. Kalau hal yang demikian sampai dibiarkan terjadi, mudah dipahami mengapa kerohanian keluarga anda mungkin kandas. Hal ini juga yang menjadi pemicu munculnya kekerasan dalam rumah tangga.
B.    [2]Cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis
Bagaimana cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis? Hal Ini adalah sebuah pertanyaan yang sederhana, sangat gamblang, dan sering kali terlontar di kalangan keluarga kristen. Rumah tangga yang bahagia bukanlah karena mujizat kebahagiaan yang tercipta begitu saja dan rumah tangga yang bahagia bukanlah sekedar hasil dari sebuah doa. Hal tersebut bukan berarti bahwa kita tidak percaya akan kuasa doa, tetapi maksudnya bahwa bukan hanya berdoa saja yang membuat rumah tangga menjadi bahagia, tetapi kita harus melalui perjuangan untuk membangun kebahagiaan dalam rumah tangga.
Sebagai contoh ada seorang suami yang tidak pulang-pulang ke rumah karena tidak tahan dengan mulut istrinya yang cerewet. Kalaupun suami tersebut pulang dan kemudian melihat tingkah istrinya yang masih seperti itu, pasti dia akan pergi lagi. Selain itu ada juga seorang bapak yang memohon doa kepada pendetanya supaya rumah tangganya menjadi bahagia. Namun, bapak ini tidak menyadari bahwa mulutnya sangat jahat bagaikan pedang tajam yang setiap kali berbicara kepada istrinya membuat hati sang istri terasa perih, seperti diiris-iris. Dari contoh tersebut, dapat kita simpulkan bahwa suami maupun istri mempunyai kewajiban yang sama, yakni harus bersama-sama berjuang bagi terciptanya sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Perjuangan yang dapat dilakukan adalah perjuangan untuk mengenal firman Tuhan, perjuangan untuk mengendalikan diri, perjuangan untuk memahami rencana Tuhan dan perjuangan untuk menyadari betapa kita harus menjadi berkat di tengah-tengah rumah tangga. Sejatinya, rumah tangga yang bahagia atau tidak bahagia bukan tergantung kepada siapapun, tetapi tergantung pada suami dan istrinya. Tetapi tidak dapat kita pungkiri bahwa akan selalu ada orang lain yang ikut campur dalam setiap rumah tangga seperti contohnya mertua, kerabat atau pihak lainnya. Namun, apapun alasannya kebahagiaan setiap rumah tangga tetap bergantung kepada rumah tangga itu sendiri baik suami maupun istri.
Dalam Yosua 24:14 berkata “Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada Tuhan”. Betapa Yosua dapat berkata seperti ini dalam ayat 15 “ ....Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”. Dari ayat tersebut membahas tentang pilihan pribadi yang termasuk dalam keselamatan yang disedikan Allah. Setiap orang percaya harus senantiasa memilih siapa yang akan dilayaninya. Termasuk keputusan Yosua yang memilih untuk beribadah kepada Tuhan dengan seisi rumah tangganya untuk tetap takut akan Tuhan, setia kepada kebenaran dan taat dengan hati yang sunguh-sungguh untuk melayani dan mengasihi Tuhan.
Selain itu, rumah tangga yang bahagia harus diperjuangkan oleh suami istri dengan cara belajar untuk tetap sabar, belajar mengerti suami, belajar mengerti istri, belajar memahami situasi dan belajar bersyukur dalam segala perkara. Dan terakhir dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan istri janganlah saling menaruh kecemburuan, menaruh kedendaman, menaruh ketidak setiaan dan jangan menuntut secara berlebihan. Namun hal ini tidak bisa dilakukan sendiri saja, tetapi harus dilakukan dengan sehati antara suami dan istri sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika hal ini dilakukan dengan konsisten dan sunguh-sungguh maka akan tercipta sebuah rumah tangga yang bahagia dan harmonis.
Oleh karena itu, Hendaklah kita menyadari bahwa di dalam kehidupan ini tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan rumah tangga. Artinya, kita boleh saja menjadi orang yang sukses, tenar dimanapun dan punya banyak uang. Akan tetapi, kalau rumah tangga kita hancur, maka sukses itu tidak ada artinya lagi bahkan semuanya menjadi sia-sia. Oleh karena itu, membangun rumah tangga yang bahagia perlu perjuangan yang sungguh-sunguh karena rumah tangga adalah harta yang tak terhingga nilainya, dan bagai butiran-butiran mutiara yang paling bermakna.
C.   Pandangan Iman Kristen terhadap Kekerasan dalam rumah tangga
Dalam kehidupan kekristenan kita tidak akan terlepasa dengan yang namanya Iman. Pandangan iman Kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga akan dibahas secara sederhana dibawah ini :
1.     [3]Pentingnya Iman
Iman berhubungan dengan setiap bagian kehidupan Kristen kita. Oleh Iman kita menerima keselamatan ( Ef. 2:8-9). Iman juga tidak statis tetapi merupakan interaksi dinamis roh manusia dengan Tuhan. Tuhan juga memperingatkan kita untuk mengenakan Iman (1 Tes 5:8), bertumbuh dalam Iman ( 2Kor 10:15), dan mempunyai iman yang besar (1Kor 15:58). Tuhan adalah pribadi yang paling dapat dipercaya. Karena itu, kita harus sepenuhnya mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan.
2.     [4]Pandangan iman kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga
Hal ini sangat bertentangan dengan rencana Allah bagi keluarga. Kitab Kejadian pasal 1 dan 2 menggambarkan pernikahan sebagai satu daging, sebagai satu hubungan yang saling membantu. Surat Efesus pasal 5:21 meminta pasangan suami istri untuk “rendahkan diri seorang kepada yang lain.” Surat Efesus 5:22-24 mengajarkan istri supaya tunduk kepada suaminya, sementara ayat 25-33 berbicara tentang kasih yang rela berkorban dari seorang suami bagi istrinya. Surat 1 Petrus 3:1-7 memberikan perintah serupa. 1 Korintus 7:4 juga mengatakan, “Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya.” Keduanya saling memiliki dan dipanggil untuk saling mengasihi satu sama lainnya, sebagaimana Kristus telah mengasihi kita. Pernikahan adalah gambaran Kristus dan Gereja. Kekerasan dalam rumah tangga sungguh jauh berbeda dengan karakter Yesus.
Kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan anak-anak juga dikutuk oleh Allah. Mazmur 127:3 mengatakan, “anak-anak adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.” Allah mempercayakan anak-anak kepada para orangtua. Mereka harus dengan penuh kasih merawat dan mendidik anak-anak. Sebagai orang tua, harus mendidik anak-anaknya untuk menaati orangtua mereka (Efe 6:1-3). Sikap  kedisiplinan memang merupakan hal yang penting. Tetapi, disiplin jelas berbeda dengan kekerasan dan siksa.
Perintah-Nya kepada kita ialah “saling mengasihi” (Yoh 13:34). Surat Efesus 5:1-2 menyatakan, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Orang Kristen dipanggil untuk berkorban dengan mengasihi orang lain, terutama bagi keluarga mereka sendiri. Mereka yang saat ini sedang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga harus mencoba melakukan segala upaya supaya bisa keluar dari situasi ini dengan aman. Saudara bisa menghubungi polisi atau aparat penegak hukum yang dapat membantu.
Kekerasan rumah tangga mendukakan hati Allah. Dia bukannya tidak peduli terhadap sang korban, apalagi meninggalkannya. Rencana-Nya bagi hubungan manusia, khususnya bagi keluarga, adalah gambaran indah akan Allah. Keluarga dimaksudkan mencerminkan kasih Allah. Kekerasan dalam rumah tangga akan membuat-Nya sedih, karena keluarga justru menjadi tempat merasakan sakit. Allah menginginkan mereka yang terlibat kekerasan dalam rumah tangga, baik si korban maupun pelaku, menjadi sembuh dan pulih kembali.
BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka penulis menarik sebuah kesimpulan agar para pembaca dapat mamahami lebih dalam mengenai karya ilmiah ini. Bahwa faktor –faktor yang mempengaruhi dari kekerasan rumah tangga adalah karena kesalahan pernikahan di usia muda, karena tidak adanya kecocokan di dalam rumah tangga, adanya kesukaran ekonomi, keadaan rumah tangga yang serba berantakan, sikap cerewet, perasaan yang dibakar oleh api cemburu, gangguan oleh sanak saudara, Pasangan hidup yang sakit-sakitan dan suka merengek, pemikiran dan kehidupan yang keliru, pandangan rohani yan berlainan dan lalai mengadakan saat teduh sekeluarga. Oleh karena itu, Setiap rumah tangga harus belajar memahami faktor-faktor penyebab tersebut dan berusaha menghilangkan faktor-faktor tersebut dalam kehidupan masing-masing rumah tangga.
Kemudian dalam menciptakan kehidupan rumah tangga yang bahagia, kita tidak lagi hanya sekedar berdoa ataupun permintaan begitu saja kepada Tuhan. Tetapi, untuk membangun rumah tangga yang bahagia harus ada perjuangan yakni: perjuangan untuk tetap sabar, perjuangan mengerti suami, belajar memahami situasi dan belajar bersyukur dalam segala perkara. Kesemuanya itu membutuhkan komitmen bersama –sama untuk berjuang.
Selanjutnya dalam kehidupan kekristenan sangat bertentangan dengan rencana Allah. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga sangat mendukakan hati Allah. Rencana-Nya bagi hubungan manusia, khususnya bagi keluarga, adalah gambaran indah akan Allah. Keluarga dimaksudkan mencerminkan kasih Allah. Kekerasan dalam rumah tangga akan membuat-Nya sedih, karena keluarga justru menjadi tempat merasakan sakit. Allah menginginkan mereka yang terlibat kekerasan dalam rumah tangga, baik si korban maupun pelaku, menjadi sembuh dan pulih kembali.
B.    Saran
Kemudian penulis juga akan memberikan berupa saran- saran untuk pembaca sekalian terutama mengenai judul pembahasan tentang pandangan iman Kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut :
1.     Berusahalah untuk menghilangkan faktor-faktor pemicu kekerasan dalam rumah tangga.
2.     Ciptakanlah kehidupan yang bahagia dan harmonis di dalam keluarga dan lakukan hal ini secara bersama-sama baik suami maupun istri.
3.     Sebagai umat percaya kita harus memiliki iman yang kuat dalam Tuhan terutama dalam membangun kehidupan rumah tangga.
4.     Teruslah belajar dan berjuang untuk menjadi pribadi yang baik dengan hidup takut akan Tuhan dan melakukan setiap perintah-Nya, hingga kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.





[1] Gordon Lindsay, Pernikahan Perceraian Dan Pernikahan Ulang, (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Imanuel, 2000),
[2] Gilbert Lumoindong. Keluagaku adalah sorga. (Jakarta: Glow Media. 2009), 77.
[3] Chuck D. Pierce dan Robert Heidler, Mengembalikan Perisai Iman Anda, (Ventura: Imanuel                 publishing house, 2005), 27.
[4] Diakses dari https://www.gotquestions.org/indonesia/kekerasan-dalam-rumah-tangga.html, pada tanggal 25 November 2017 pukul 07:59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar