BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Dalam
kehidupan bermasyarakat, kita tidak akan terlepas dari peranan satu kelompok
kecil yang sangat penting yaitu rumah tangga. Kehidupan
rumah tangga adalah urusan yang bersifat personal karena siapapun tidak dapat
dengan mudah melakukan intervensi atau ikut campur atas kehidupan suatu rumah
tangga. Sehingga segala urusan
dalam rumah tangga menjadi tanggung jawab seorang kepala rumah tangga. Kemudian
seorang kepala kelaurga akan berusaha dan berharap agar terwujud suatu rumah
tangga yang harmonis, damai sejahtera dan bahagia selamanya. Namun
tidak dapat kita pungkiri bahwa hal
tersebut tidaklah mudah
untuk diwujudkan karena
dalam beberapa kasus kita temukan bahwa banyak rumah
tangga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan
dalam rumah tangga terkait erat dengan kekuasaan dan kontrol. Meskipun istilah
kekerasan berkonotasi fisik, kekerasan dalam rumah tangga atau penyiksaan dapat
terjadi melalui cara-cara non fisik. Misalnya, pelaku memanipulasi korbannya
melalui perasaan ataupun ekonomi. Bentuk lain bisa berupa penyiksaan lisan
maupun seksual. Seseorang dari segala usia, jenis kelamin, kelas
sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, atau agama dapat terkena dampak dari
kekerasan dalam rumah tangga.
Penyiksaan
dalam rumah tangga biasa berlangsung melalui satu “siklus kekerasan.”
Ketegangan terbentuk; korban kemudian mencoba meredakan kemarahan pelaku; tapi
akhirnya insiden tetap terjadi. Pelaku meminta maaf dan mencoba berbaikan
dengan korban; berjanji hal itu tidak akan pernah terjadi lagi atau dengan
melimpahi korban hadiah. Lalu datang masa tenang sebelum ketegangan kemudian
terjadi lagi.
Setiap
tahapan dalam siklus ini bisa terjadi hanya dalam menit maupun bertahun-tahun.
Tanpa campur tangan, tahapan “berbaikan” dan “masa tenang” sering hilang.
Dengan demikian, Seharusnya setiap rumah tangga bisa mencerminkan kasih Allah untuk
saling menghargai dan menghormati setiap anggota rumah tangga. Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap terhadap kekerasan
dalam rumah tangga menurut pandangan Iman Kristen. Untuk
itu kita perlu mencari tahu mengenai
faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi kekerasan dalam rumah tangga, bagaimana
cara membangun keluarga yang bahagia dan harmonis
dan dan bagaimana pandangan iman kristen terhadap kekerasan
dalam rumah tangga. Dan pada akhirnya
diharapkan setiap rumah
tangga bisa mengambil tindakan nyata
agar bisa memilki kehidupan rumah tangga yang bahagia di dalam kristus.
B.
Fokus
Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membuat
fokus penelitian dalam karya ilmiah ini adalah membahas mengenai Faktor-faktor
yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga, cara membangun rumah tangga yang
bahagia dan harmonis serta Pandangan iman kristen terhadap kekerasan dalam rumah
tangga.
C.
Pertanyaan
Penelitian
Berdasarkan focus penelitian di atas maka pertanyaan
penelitian didalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan
dalam rumah tangga?
2. Bagaimana
cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis?
3. Bagaimana pandangan iman Kristen terhadap kekerasan
dalam rumah tangga?
D.
Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan
kekerasan dalam rumah tangga
2. Untuk
mengetahui cara membangun rumah
tangga yang bahagia dan harmonis
3. Untuk mengetahui pandangan iman Kristen terhadap
kekerasan dalam rumah tangga
E.
Manfaat
Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka manfaat
dalam penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1.
Untuk memberikan
sumbangsih pengetahuan mengenai pentingnya memutus rantai kekerasan dalam rumah
tangga.
2.
Sebagai pembelajaran dan
menambah wawasan bagi penulis untuk belajar membuat sebuah karya Ilmiah yang
berdasar pada kebenaran
F.
Metode
Penelitian
Dalam Penulisan Karya Ilmiah ini, penulis menggunakan
metode Penelitian Literatur, dimana penulis mencari sumber-sumber informasi
melalui media buku-buku di perpustakaan.
BAB II
TEORI
DAN PEMBAHASAN
Beberapa
faktor penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga antara lain :
1.
Pernikahan
usia muda
adalah memang benar bahwa dapat dibuktikan sebagian
pernikahan di usia muda cukup berhasil, tapi tetap tidak semua berhasil. Dalam
kebanyakan hal, kaum muda belasan tahun itu masih kekanak-kanakan. Cara emosi
mereka belum dewasa dan jauh dari siap menghadapi beraneka ragam masalah
kehidupan berumah tangga yang rumit seluk beluknya.
2.
Tidak
ada kecocokan
Sebelum menikah harus tersedia waktu cukup yang
dapat dimanfaatkan oleh kedua belah pihak untuk mencari tahu benarkah di antara
keduanya terdapat kecocokan cita rasa dan minat.
3.
Kesukaran
ekonomi
Dapat diketahui bahwa salah satu penyebab
terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah karena kesukaran ekonomi. Oleh
sebab itu, dalam rumah tangga harus mempertimbangkan jumlah penghasilan dan
mengatur pengeluarannya tanpa melampaui jumlah penghasilan itu.
4.
Keadaan
di dalam rumah tangga yang serba berantakan
Hal ini dikarenakan keadaan di dalam rumah dapat memberikan
sumbangan yang besar dalam kesuksesan dalam berumah tangga. Kalau seorang istri
jorok, maka akan ada sindirin-sindiran yang tidak sedap didengar. Seorang suami
mungkin akan terpaksa membiarkan rumahnya yang semerawut itu dan bahkan memicu
emosi yang berdampak pada awal mulanya kekerasan dalam rumah tangga.
5.
Cerewet
Cerewet dalah sifat buruk yang melekat tanpa
pandang bulu, baik terhadap wanita maupun pria. Tetapi wanitalah yang mempunyai
kecenderungan untuk bersifat bawel itu. Seharusnya kesopanan yang kita
peragakan di luar rumah, harus pula kita peragakan kepada orang seisi rumah
sendiri. Dengan terang-terangan, Salomo berbicara tentang kejelekan seorang
istri pencerewet yang suka bertengkar : “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh
rumah, daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar” (Ams 21:9).
6.
Cemburu
Hal ini bukan lagi rahasia karena sudah ada
banyak keluarga yang hancur berantakan sebagai akibat ulah suami atau istri
yang cemburu secara berlebihan. Oleh sebab itu pasangan hidup harus menjauhkan
diri dari kemungkinan membangkitkan kecemburuan sandingannya. Sudah pasti bukan
tempatnya seorang Kristen keluar makan berduaan beresama seseorang dari jenis
kelamin lain entahkah karena urusan bisnis atau urusan apapun juga.
7.
Gangguan
sanak saudara
Tidak sedikit kekerasan rumah tangga karena
adanya gangguan dari sanak saudara sepihak atau keduanya ikut campur tangan
mengurusi permasalahan yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga. Oleh karena
itu diperlukan perhitungan dan persiapan untuk mencegahnya. Kalau tidak, semua
kelancangan sanak saudara itu dapat berkembang menjadi duri hingga menimbulkan
kekerasan dalam rumah tangga dan berakhir pada kesukaran yang besar. Contoh :
campur tangan mertua yang tidak menyukai menantunya.
8.
Pasangan
hidup yang sakit-sakitan dan suka merengek
Seorang yang dengan sabar dan setia mau merawat
pasangan hidupnya yang telah menjadi penyandang cacat karena digerogoti
penyakit yang parah, patut dipuji setinggi langit. Namun demikian, pada pihak lain
salahlah orang yang telah terjatuh dan terjerat ke dalam kebiasaan hidup yang
suka merengek dan mengeluh minta dikasihani. Dan karena kebiasaan tersebut jika
pasangannya tidak tahan lagi maka dapat menjadi pemicu timbulkan kekerasan
dalam rumah tangga.
9.
Pemikiran
dan kehidupan yang keliru
Bagaimana mungkinkah dalam suatu rumah tangga
yang akalnya telah dirusak oleh pemikirian yang keliru dapat hidup bahagia?
Kenajisan adalah sesuatu yan sifatnya merusak, dan lama-kelamaan mengerogoti
sifat baik serta mengacaukan segenap rumah tangga.
10.
Pandangan
rohani yang berlainan
Dalam kebanyakan kasus, para insan yang telah
keburu terjerumus kedalam pernikahan yang tidak bahagia karena duluna memasuki
jenjang pernikahan dalam keadaan yang belum diselamatkan Tuhan. Kemudian salah
seorang diantara keduanya bertobat, sementara yan satu tidak mau. Maka keadaan
yang demikian telah menimbulkan permasalahan yang benar-benar pelik. Sering
kali itu telah mengakibatkan munculnya kesalahpahaman yang mendalam, kekerasan
dalam rumah tangga bahkan juga perpisahan.
11.
Lalai
mengadakan saat teduh sekeluarga
Pada akhirnya alasan yang menjadi penyebab
kandasnya hubungan sebuah rumah tangga sebagain orang Kristen adalah karena
dalam keluarga mereka tidak dibangun mezbah
keluarga. Artinya, mereka tidak mengadakan saat teduh secara rutin, yaitu
secara tetap dan teratur. Oleh sebab itu, janganlah anda melalaikan atau
mengabaikan perintah membesarkan anak-anak dalam lingkungan suasana yang takut
dan menghormati Tuhan dan dalam ajaran-Nya. Kalau hal yang demikian sampai
dibiarkan terjadi, mudah dipahami mengapa kerohanian keluarga anda mungkin
kandas. Hal ini juga yang menjadi pemicu munculnya kekerasan dalam rumah
tangga.
Bagaimana
cara membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis? Hal Ini adalah sebuah
pertanyaan yang sederhana, sangat gamblang, dan sering kali terlontar di
kalangan keluarga kristen. Rumah tangga yang bahagia bukanlah karena mujizat
kebahagiaan yang tercipta begitu saja dan rumah tangga yang bahagia bukanlah
sekedar hasil dari sebuah doa. Hal tersebut bukan berarti bahwa kita tidak
percaya akan kuasa doa, tetapi maksudnya bahwa bukan hanya berdoa saja yang
membuat rumah tangga menjadi bahagia, tetapi kita harus melalui perjuangan
untuk membangun kebahagiaan dalam rumah tangga.
Sebagai
contoh ada seorang suami yang tidak pulang-pulang ke rumah karena tidak tahan
dengan mulut istrinya yang cerewet. Kalaupun suami tersebut pulang dan kemudian
melihat tingkah istrinya yang masih seperti itu, pasti dia akan pergi lagi.
Selain itu ada juga seorang bapak yang memohon doa kepada pendetanya supaya
rumah tangganya menjadi bahagia. Namun, bapak ini tidak menyadari bahwa
mulutnya sangat jahat bagaikan pedang tajam yang setiap kali berbicara kepada
istrinya membuat hati sang istri terasa perih, seperti diiris-iris. Dari contoh
tersebut, dapat kita simpulkan bahwa suami maupun istri mempunyai kewajiban
yang sama, yakni harus bersama-sama berjuang bagi terciptanya sebuah kehidupan
rumah tangga yang bahagia.
Perjuangan
yang dapat dilakukan adalah perjuangan untuk mengenal firman Tuhan, perjuangan
untuk mengendalikan diri, perjuangan untuk memahami rencana Tuhan dan
perjuangan untuk menyadari betapa kita harus menjadi berkat di tengah-tengah rumah
tangga. Sejatinya, rumah tangga yang bahagia atau tidak bahagia bukan
tergantung kepada siapapun, tetapi tergantung pada suami dan istrinya. Tetapi
tidak dapat kita pungkiri bahwa akan selalu ada orang lain yang ikut campur
dalam setiap rumah tangga seperti contohnya mertua, kerabat atau pihak lainnya.
Namun, apapun alasannya kebahagiaan setiap rumah tangga tetap bergantung kepada
rumah tangga itu sendiri baik suami maupun istri.
Dalam
Yosua 24:14 berkata “Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah
kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek
moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan
beribadahlah kepada Tuhan”. Betapa Yosua dapat berkata seperti ini dalam ayat
15 “ ....Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”. Dari
ayat tersebut membahas tentang pilihan pribadi yang termasuk dalam keselamatan
yang disedikan Allah. Setiap orang percaya harus senantiasa memilih siapa yang
akan dilayaninya. Termasuk keputusan Yosua yang memilih untuk beribadah kepada
Tuhan dengan seisi rumah tangganya untuk tetap takut akan Tuhan, setia kepada
kebenaran dan taat dengan hati yang sunguh-sungguh untuk melayani dan mengasihi
Tuhan.
Selain
itu, rumah tangga yang bahagia harus diperjuangkan oleh suami istri dengan cara
belajar untuk tetap sabar, belajar mengerti suami, belajar mengerti istri,
belajar memahami situasi dan belajar bersyukur dalam segala perkara. Dan
terakhir dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan istri janganlah saling
menaruh kecemburuan, menaruh kedendaman, menaruh ketidak setiaan dan jangan
menuntut secara berlebihan. Namun hal ini tidak bisa dilakukan sendiri saja,
tetapi harus dilakukan dengan sehati antara suami dan istri sebagai satu
kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika hal ini dilakukan dengan konsisten dan
sunguh-sungguh maka akan tercipta sebuah rumah tangga yang bahagia dan
harmonis.
Oleh
karena itu, Hendaklah kita menyadari bahwa di dalam kehidupan ini tidak ada
kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan rumah tangga. Artinya, kita
boleh saja menjadi orang yang sukses, tenar dimanapun dan punya banyak uang.
Akan tetapi, kalau rumah tangga kita hancur, maka sukses itu tidak ada artinya
lagi bahkan semuanya menjadi sia-sia. Oleh karena itu, membangun rumah tangga
yang bahagia perlu perjuangan yang sungguh-sunguh karena rumah tangga adalah
harta yang tak terhingga nilainya, dan bagai butiran-butiran mutiara yang
paling bermakna.
C.
Pandangan
Iman Kristen terhadap Kekerasan dalam rumah tangga
Dalam
kehidupan kekristenan kita tidak akan terlepasa dengan yang namanya Iman.
Pandangan iman Kristen terhadap kekerasan dalam rumah tangga akan dibahas secara
sederhana dibawah ini :
Iman
berhubungan dengan setiap bagian kehidupan Kristen kita. Oleh Iman kita
menerima keselamatan ( Ef. 2:8-9). Iman juga tidak statis tetapi merupakan
interaksi dinamis roh manusia dengan Tuhan. Tuhan juga memperingatkan kita
untuk mengenakan Iman (1 Tes 5:8), bertumbuh dalam Iman ( 2Kor 10:15), dan
mempunyai iman yang besar (1Kor 15:58). Tuhan adalah pribadi yang paling dapat
dipercaya. Karena itu, kita harus sepenuhnya mempunyai hubungan yang baik dengan
Tuhan.
Hal
ini sangat bertentangan dengan rencana Allah bagi keluarga. Kitab Kejadian
pasal 1 dan 2 menggambarkan pernikahan sebagai satu daging, sebagai satu
hubungan yang saling membantu. Surat Efesus pasal 5:21 meminta pasangan suami
istri untuk “rendahkan diri seorang kepada yang lain.” Surat Efesus 5:22-24
mengajarkan istri supaya tunduk kepada suaminya, sementara ayat 25-33 berbicara
tentang kasih yang rela berkorban dari seorang suami bagi istrinya. Surat 1
Petrus 3:1-7 memberikan perintah serupa. 1 Korintus 7:4 juga mengatakan,
“Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula
suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya.” Keduanya saling
memiliki dan dipanggil untuk saling mengasihi satu sama lainnya, sebagaimana
Kristus telah mengasihi kita. Pernikahan adalah gambaran Kristus dan Gereja.
Kekerasan dalam rumah tangga sungguh jauh berbeda dengan karakter Yesus.
Kekerasan
dalam rumah tangga yang melibatkan anak-anak juga dikutuk oleh Allah. Mazmur 127:3
mengatakan, “anak-anak adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan
adalah suatu upah.” Allah mempercayakan anak-anak kepada para orangtua. Mereka
harus dengan penuh kasih merawat dan mendidik anak-anak. Sebagai orang tua,
harus mendidik anak-anaknya untuk menaati orangtua mereka (Efe 6:1-3).
Sikap kedisiplinan memang merupakan hal
yang penting. Tetapi, disiplin jelas berbeda dengan kekerasan dan siksa.
Perintah-Nya
kepada kita ialah “saling mengasihi” (Yoh 13:34). Surat Efesus 5:1-2 menyatakan,
“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan
hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kamu dan
telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum
bagi Allah.” Orang Kristen dipanggil untuk berkorban dengan mengasihi orang
lain, terutama bagi keluarga mereka sendiri. Mereka yang saat ini sedang
menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga harus mencoba melakukan segala
upaya supaya bisa keluar dari situasi ini dengan aman. Saudara bisa menghubungi
polisi atau aparat penegak hukum yang dapat membantu.
Kekerasan
rumah tangga mendukakan hati Allah. Dia bukannya tidak peduli terhadap sang
korban, apalagi meninggalkannya. Rencana-Nya bagi hubungan manusia, khususnya
bagi keluarga, adalah gambaran indah akan Allah. Keluarga dimaksudkan
mencerminkan kasih Allah. Kekerasan dalam rumah tangga akan membuat-Nya sedih,
karena keluarga justru menjadi tempat merasakan sakit. Allah menginginkan
mereka yang terlibat kekerasan dalam rumah tangga, baik si korban maupun
pelaku, menjadi sembuh dan pulih kembali.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan diatas maka penulis menarik sebuah kesimpulan agar para pembaca
dapat mamahami lebih dalam mengenai karya ilmiah ini. Bahwa faktor –faktor yang
mempengaruhi dari kekerasan rumah tangga adalah karena kesalahan pernikahan di
usia muda, karena tidak adanya kecocokan di dalam rumah tangga, adanya
kesukaran ekonomi, keadaan rumah tangga yang serba berantakan, sikap cerewet,
perasaan yang dibakar oleh api cemburu, gangguan oleh sanak saudara, Pasangan
hidup yang sakit-sakitan dan suka merengek, pemikiran dan kehidupan yang
keliru, pandangan rohani yan berlainan dan lalai mengadakan saat teduh
sekeluarga. Oleh karena itu, Setiap rumah tangga harus belajar memahami
faktor-faktor penyebab tersebut dan berusaha menghilangkan faktor-faktor
tersebut dalam kehidupan masing-masing rumah tangga.
Kemudian
dalam menciptakan kehidupan rumah tangga yang bahagia, kita tidak lagi hanya sekedar
berdoa ataupun permintaan begitu saja kepada Tuhan. Tetapi, untuk membangun
rumah tangga yang bahagia harus ada perjuangan yakni: perjuangan untuk tetap
sabar, perjuangan mengerti suami, belajar memahami situasi dan belajar
bersyukur dalam segala perkara. Kesemuanya itu membutuhkan komitmen bersama
–sama untuk berjuang.
Selanjutnya
dalam kehidupan kekristenan sangat bertentangan dengan rencana Allah. Bahkan
kekerasan dalam rumah tangga sangat mendukakan hati Allah. Rencana-Nya bagi
hubungan manusia, khususnya bagi keluarga, adalah gambaran indah akan Allah.
Keluarga dimaksudkan mencerminkan kasih Allah. Kekerasan dalam rumah tangga
akan membuat-Nya sedih, karena keluarga justru menjadi tempat merasakan sakit.
Allah menginginkan mereka yang terlibat kekerasan dalam rumah tangga, baik si
korban maupun pelaku, menjadi sembuh dan pulih kembali.
B.
Saran
Kemudian
penulis juga akan memberikan berupa saran- saran untuk pembaca sekalian
terutama mengenai judul pembahasan tentang pandangan iman Kristen terhadap
kekerasan dalam rumah tangga. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Berusahalah
untuk menghilangkan faktor-faktor pemicu kekerasan dalam rumah tangga.
2. Ciptakanlah
kehidupan yang bahagia dan harmonis di dalam keluarga dan lakukan hal ini
secara bersama-sama baik suami maupun istri.
3. Sebagai
umat percaya kita harus memiliki iman yang kuat dalam Tuhan terutama dalam
membangun kehidupan rumah tangga.
4. Teruslah
belajar dan berjuang untuk menjadi pribadi yang baik dengan hidup takut akan
Tuhan dan melakukan setiap perintah-Nya, hingga kedatangan Tuhan Yesus yang
kedua kalinya.
[1] Gordon Lindsay, Pernikahan
Perceraian Dan Pernikahan Ulang, (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Imanuel,
2000),
[2] Gilbert Lumoindong. Keluagaku
adalah sorga. (Jakarta: Glow Media. 2009), 77.
[3] Chuck D. Pierce dan Robert Heidler, Mengembalikan Perisai Iman Anda, (Ventura: Imanuel publishing house, 2005), 27.
[4] Diakses dari https://www.gotquestions.org/indonesia/kekerasan-dalam-rumah-tangga.html,
pada tanggal 25 November 2017 pukul 07:59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar