PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Perubahan kebudayaan
ditandai oleh terjadinya perubahan bentuk
atau arti. Perubahan kebudayaan yang dimaksudkan bisa
dapat berbentuk perubahan kecil (minor
change), atau perubahan besar (major change) atau modifikasi bentuk dengan
arti baru dan fungsi juga baru, atau perubahan dalam bentuk yang lainnya.
Dalam
antoropologi kebudayaan, perubahan yang terjadi menyentuh dua elemen penting.
Elemen yang pertama, elemen sivilisasi,
yakni perubahan menyangkut hal-hal yang diciptakan oleh manusia termasuk
mekanisme untuk menguasai kondisi kehidupan guna memenuhi kebutuhannya sebagai
dasar terjadinya perubahan itu. Perubahan
ini juga menyangkut seluruh tatanan dan mekanisme kehidupan yang diperoleh
manusia di dalam masyarakat di mana ia hidup.
Elemen
yang kedua adalah elemen cultural, yang
mencakup world view, asumsi, paradigma, perspektif, dan cara berpikir,
pergaulan, seni-sastra, agama.[1]
LOKUS PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Perubahan kebudayaan pasti diawali dari
manusia atau kebudayaannya. Perubahan ini pertama terjadi dalam “pikiran” manusia. Perubahan yang
berawal dari pikiran manusia ini kemudian berkembang karena kreativitas
berpikir. Kreativitas berpikir inilah yang menyebabkan perubahan dapat
berkembang dengan pasti. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa lokus atau tempat di mana perubahan yang sesungguhnya
terjadi ialah di dalam pikiran manusia.
Lokus perubahan ini menyentuh aspek individu,
kepercayaan, etika-moral, karir, sosial (keluarga, kelompok, marga, suku,
bangsa, ras), kultural, ekonomi, politik, kenegaraan, dan semua aspek tatanan
dan akibatnya yang kompleks.
Lokus perubahan ini terjadi
karena beberapa dasar:
1.
Pikiran manusia sebagai lokus perubahan. PIKIRAN adalah lokus utama bagi seluruh perubahan. Perubahan pikiran (paradigma) dengan sendirinya
mempengaruhi perubahan asumsi yang
tertampung.
2.
Perubahan internal dan eksternal sebagai fokus perubahan. Dari perubahan
pikiran itu lah, dapat ditelusuri
fokus dari perubahan itu, yaitu perubahan
internal yang menyentuh kadar spiritual, etika, dan moral (kematangan
rohani), kadar psikologis (kematangan psikologis), dan kadar kemajuan berpikir
(kematangan kognitif). Perubahan internal ini merupakan transformasi yang terjadi
dalam pikiran manusia, yang membawa
kebaruan hakikat, iisi, dan cara berpikir,sehingga menjadi baru. Perubahan
internal ini yang menjadi dasar perubahan
eksternal.
3.
Perubahan pikiran sebagai
dasar perubahan pribadi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apabila pikiran seseorang berubah, maka ia
telah berubah secara pribadi, di mana perubahan pikiran berimbas kepada perubahan kehidupan pribadi (perubahan
kehidupan kemanusiaan) secara menyeluruh, dari sisi dan tatanan ekonomi,
sosial, kultural, dan sebagainya.
4.
Perubahan pikiran dan
pengaruhnya terhadap lingkungan kehidupan. Perubahan paradigma seseorang
individu akan berimbas, bukan hanya kepada pribadinya, tetapi sudut pandangnya
berubah terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Perubahan dimaksud akan
mempengaruhi cara ia memandang sesuatu, di ana ia memandangnya secara baru, dan
dapat terjadi, ia mengambil sikap baru terhadap apa yang dihadapinya. Dengan
demikian, dapat saja dikatakan bahwa perubahan yang terjadi pada individu, akan
turut mempengaruhi perubahan perspektif terhadap lingkungan di mana ia berada.[2]
FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Sebuah kebudayaan dapat
berubah juga karena faktor-faktor penyebab perubahan yang meliputi pengaruh dan
elemen berikut:[3]
1.
Pengaruh alkulturasi dan enkulturasi. Alkuturasi
adalah pengaruh yang datang dari luar kebudayaan, baik dalam bentuk elemen,
maupun prises, sehingga akan membawa perubahan suatu kebudayaan. Sedangkan, enkulturasi pada sisi lain adalah
pendidikan dalam kebudayaan, yang bertanggung jawab atas pernerusan nilai-nilai
intrinsic kebudayaan yang luhur, tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya
perubahan kebudayaan.
2. Key person yang merencanakan perubahan. Perubahan kebudayaan juga dapat tetrjadi
karena faktor Key Person atau Orang Kunci dalam kebudayaan yang merencanakan
sesuatu yang dengan sendirinya akan membawa perubahan. Dalam skala local,
seorang peimpin sebagai key person, katakanlah “kepala adat” dapat melakukan
sesuatu yang menjelaskan bahwa ia menginisiasi perubahan.
3. Kematangan situasi untuk berubah pada tataran masyrakat. Perubahan dalam kebudayaan dapat terjadi
karena faktor kematangan situasi internal dalam suatu masyarakat. Faktor
kematangan situasi ini menunjuk bahwa perubahan yang terjadi selalu berhubungan
dengan adanya “cultural drift” (pertemuan
aspek kultural?) baik akrena pengaruh alkulturasi maupun karena enkulturasi,
yang terjadi secara perlahan-lahan, karena adanya suatu pengaruh kebudayaan
yang dominan.
4. Ketidak-sengajaan dan keteledoran. Perubahan bentuk dalam kebudayaan dapat terjadi dalam
masyarakat adalah karena ketidak-sengajaan atau keteledoran. Model atau bentuk
perubahan ini lebih berhubungan dengan proses enkulturasi, di mana generasi tua
secara tidak sengaja atau teledor mengajarkan sesuatu kepada generasi muda.
Keteledoran ini menyentuh pikiran,
yang kemudian menjadi alasan bagi timbulnya perubahan pandangan yang membawa
akibat perubahan kebudayaan. Perubahan
seperti ini sering dipompa oleh pengaruh orang kunci, yang olehnya terjadi
inisiasi dan penyebaran pengaruh perubahan yang mengubah salah satu, sebagian
atau pun aspek total dari suatu kebudayaan. Dalam kondisi sepreti ini,
perubahan yang terjadi bisa terwujud dengan pola “efek bola salju” yang semakin
hari semakin mempengaruhi lebih banyak orang dalam masyarakat.
5. Krisis sosial-politik, dan atau alam. Bentuk perubahan lain dalam kebudayaan ialah perubahan
yang ditimbulkan oleh krisis, baik krisis yang berbentuk sosial politik,maupun
krisis yang disebabkan oleh terjadinya bencana alam. Krisis sosial politik
merupakan suatu proses panjang, yang kemudian berujung pada puncak terjadinya
revolusi atau ledakan sosial yang menimbulkan kekacauan sosial. Kekacauan sosial seperti ini biasanya merusak
sendi dan struktur serta hubungan-hubungan kemasyarakatan, bahkan dapat
mengubah wajah peta kependudukan. Dalam keadaan seperti ini biasanya terjadinya
kegoncangan budaya, yang kemudian disusul oleh tahap pemulihan (recovery) dan
perkembangan baru (new development) yang dapat mewujudkan suatu tatanan
kebudayaanbaru di tempat baru.
AKIBAT PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Perubahan kebudayaan dapat
terjadi karena berbagai macam faktor dan bentuk penyebab. Perubahan yang
terjadi ini basanya menyisakan berbagai akibat dalam masyarakat, dan mencipta
derajat perubahan itu sendiri. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa setiap
perubahan yang terjadi dapat membawa akibat yang berbentuk positif, misalnya terjadi perumbuhan (growth) yaitu perubahan maju,
atau akibat negatif yaitu kemunduran
(decay). Perubahan mundur ini dapat terwujud secara cepat (rapid), lambat
(slow) maupun bertahap (gradual). Apapun jenis perubahan yang terjadi,
akibatnya akan selalu menyentuh tiga aspek antara lain:[4]
1.
Perubahan kehidupan pribadi. Setiap perubahan kebudayaan selalu membawa
akibat bagi terjadinya perubahan kehidupan pribadi, yang menyangkut perubahan kehidupan kemanusiaan dari sisi dan
tatanan ekonomi, sosial, kultural, dan sebagainya. Katakanlah, perubahan
kebudayaan yang disebabkan oleh keterbukaan terhadap alkulturasi (pengaruh
kebudayaan luar) membawa akibat positif, yaitu kemajuan. Perubahan ini akan
mempengaruhi setiap individu dalam masyarakat, yang olehnya akan mengubah
tatanan dan sistem serta kebiasaan budaya. Ambil sebagai contoh positif, dengan
berkembangnya teknologi komunikasi-informasi telepon celluler, semua orang memiliki peluang yang sama untuk
menggunakannya, mulai dari kota-kota besar, sampai ke pedalaman, menyentuh
masyarakat radisional. Dalam kaitan ini terlihat bahwa struktur hubungan sosial
turut berubah, batas kaya miskin bergeser, dan tatanan lain turut berpengaruh.
2.
Perubahan lingkungan, situasi dan kondisi
masyarakat dengan kompleksitasnya. Perubahan kebudayaan juga turut mempengaruhi keadaan
lingkungan, situasi, dan kondisi masyarakat secara umum. Apabila terjadi
perubahan akibat seorang key person
atau karena akulturasi atau karena terjadinya krisis sosial-politik maupun
alam, semuanya akan mempengaruhi lingkungan kemasyarakatan dengan berbagai
aspeknya yang kompleks.
3.
Perubahan yang akibatnya menyentuh banyak
aspek kehidupan dengan akibat beragam. Perubahan kebudayan yang terjadi, sesungguhnya menyentuh
banyak aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang disertai oleh akibat yang
bervariasi. Akibat yang bervariasi atau beragam dari perubahan kebudayaan ini
dapat dilihat seperti berikut:
a.
Akibat yang membawa perkembangan maju
(growth, atau development). Akibat perubahan kebudayaan dapat membawa perubahan yang mengakibatkan
adanya kemmajuan atau perkembangan maju yang positif. Sebagai contoh, penemuan
mesin pemintal mengubah kebiasaan menenun kain secara tradisional, dan membawa
akibat maju, karena kain untuk pakaian dapat diproduksi secara cepat dalam
jumlah yang besar, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Belum lagi ada
penggunaan tenaga kerja yang semakin meningkat, sehingga dapat diduga bahwa
akibat dari perubahan ini ialah kesejahteraan masyarakat juga turut meningkat.
Kondisi ini dapat menunjukkan bahwa ada perubahan maju dan perkembangan yang
positif yang menciptakan keseimbangan atau balance
dalam kehiduapan masyarakat.
b.
Perubahan kebudayaan juga dapat membawa
akibat terjadinya kemunduran, penurunan atau pengurangan secara negative
(decline, decay) yang mengarah kepada kerusakan. Akibat perubahan yang positif juga memiliki
pengaruh yang negative yang bisa disebut sebagai mundur bahkan merusak karena
terjadinya demoralisasi. Demoralisasi bisa dijelaskan dengan digunakannyya
teknologi traktor yang memiliki kekuatan “seratus daya kuda” dalam masyarakat
tradisional, maka pekerjaan pengolahan lahan pertanian memang cepat, tetapi ada
akibat lain, yaitu sang petani yang menggunakannya akan memperoleh banyak waktu
kosong, yang mengakibatkan terjadinya kesenjangan penggunaan waktu dan lagi,
tenaga kerja manusia akan diistirahatkan untuk waktu yang lama. Dengan
demikian, akan terjadi sejenis kegoncangan moral (demoralisasi) dalam
masyarakat yang menggunakan traktor besar tanpa menghitungkan kondisi
masyarakat setempat, yang mana membawa akibat ketidakseimbangan hidup dalam
masyarakat.
c.
Perubahan kebudayaan yang menyempurnakan apa
yang ada.
Perubahan kebudayaan juga dapat membawa
akibat penyempurnaan apa yang ada atau elaborasi. Proses elaborasi ini
menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi karena akulturasi atau enkulturasi,membuat
apa yang ada menjadi semakin lengkap dan semakin sempurna. Sebagai contoh,
kebiasaan mengeringkan padi dengan panas mata hari dikembangkan dengan
teknologi pengeringan padi yang menggunakan tenaga matahari dengan hasil yang
lebih sempurna. Dalam kaitan ini perubahan kebudayaan ternyata membawa
keseimbangan bagi masyarakat, yang menandakan kemajuan positif.
d.
Akibat perubahan yang dapat menyebabkan
penyederhanaan (simplification) apa yang ada atau menjadi spesialisasi maupun
generaliisasi. Akibat
perubahan seperti ini dapat berarti elemen kebudayaan yang ada, yang terlihat
rumit menjadi sederhana, akibat adanya akulturasi. Contoh, mahar atau mas kawin yang
dituntut adalah dua puluh ekor kerbau, tetapi akibat perubahan, maka
adat-istiadat tetap dijalankan, namun tuntutan mas kawin tersebut dapat digani dengan “uang” yang jumlahnya dapat
tidak sebanding dengan harga dua puluh ekor kerbau.
e.
Perubahan yang mewujudkan yang baru dengan
mengganti apa yang ada. Perubahan kebudayaan juga dapat berakibat terjadinya suatu kebudayaan
yang baru, yang lain sama sekali dengan yang pernah ada. Elemen kebudayaan
pengganti ini dappat berupa kebiasaan baru, yang tadinya tidak pernah ada, atau
alat baru yang tidak pernah diguunakan sebelumnya. Contoh, kampak batu di Papua
yang diganti dengan kampak besi, atau alat potong msin gergaji tangan.
f.
Perubahan kebudayaan yang menenggelamkan yang
lama.
Perubahan kebudayaan juga dapat berakibat tenggelamnya kebudayaan lama, di mana
kebiasaan baru yang terlihat di permukaan akan efektif secara sementara, dan
elemen yang tenggelam akan muncul secara dominan, membawa peserta kebudayaan
kepada kebiasaan lama. Namun, elemen kebudayaan baru ini ternyata bersifat
temporer, dan tidak bertahan lama oleh berbagai macam sebab. Akibanya, kebiasaan
kebudayaan yang lama muncul lagi dengan satu dan lain alasan, tetapi
menampakkan kehadirannya secara dominan lagi dala masyarakat.
PEKABARAN INJIL DAN GEREJA DI IRIAN
JAYA
· Keadaan Umum
Lapangan P.I Protestan di Irian pada masa
yang dibahas dalam bagian ini ialah pantai utara beserta pulau-pulaunya,
pulau-pulau di barat (Raja Ampat dan lain-lain), dan daerah pantai selatan
bagian barat. Daerah Selatan bagian timur menjadi tempat misi bekerja.
Daerah-daerah tersebut berpenduduk jarang sekali, apalagi dalam abad yang
lampau, disebabkan keadaan alam serta perang antar-suku yang berkecamuk terus
menerus. Beberapa suku yang penting dalam sejarah P.I sampai tahun 1930an ialah
suku Numfor (di pulau Numfor dan di pantai timur daerah Kepala Burung) dan orang
Biak (di pulau Biak dan berbagai tempat perantauan). Suku-suku yang relatif
besar ini pun jumlahnya paling banyak hanya beberapa puluh ribu orang saja,
yang hidup berserak, sehingga kampung-kampung sangat kecil. Meninggalkan daerah
suku sendiri, malah kampung sendiri, sangat berbahaya.
· Keadaan Agama
Dalam abad ke 19, orang Irian masih menganut
agama asli, kecuali beberapa kelompok di daerah Raja Ampat dan sekitarnya, yang
telah masuk Islam akibat pengaruh pendatang dari Maluku. Pada umumnya corak
agama Irian asli itu tidak berbeda dengan corak umum agama-agama asli Indonesia.
Tetapi ada beberapa istilah dan gejala khusus yang kiranya perlu untuk dibahas,
diantaranya:
Patung
anggota keluarga yang sudah meninggal disebut Korwar. Dikampung-kampung orang Biak
dan Numfor terdapat gedung-gedung
besar, yang bertiang patung-patung nenek moyang, yaitu Rumsram. Gedung itu menjadi tempat tinggal dan pusat pendidikan
bagi para pemuda, sekaligus pusat sakral. Di beberapa daerah terdapat himpunan
laki-laki yang bersifat rahasia, yang banyak menarik perhatian dalam kehidupan
beragama orang Irian ialah gerakan-gerakan
Koreri. Gerakan ini tertolak dari mitos tentang Manseren Mangundi. Manseren
Manggundi ini merupakan tokoh di zaman purbakala, yang telah memiliki
rahasia kehidupan sejahtera yang bebas dari penyakit dan maut, tetapi karena
sakit hati berangkat ke Barat. Penduduk Irian yakin bahwa pada suatu waktu Manseren Manggundi akan kembali dan
sewaktu-waktu, khususnya pada saat yang genting, mereka terjun ke dalam kegiatan
menghimpun makanan, lalu menari-nari dengan maksud mengusahakan kedatangannya,
dibawah pimpinan seorang Konoor. Para zendeling tidak menyukai gerakan-gerakan
itu, bahkan penjajag belanda pun dimasa itu juga tidak menyukai hal ini.
· Permulaan Usaha P.I
Yang metintis usaha P.I di Irian ialah dua
orang Jerman, hasil didikan Gossner, yang kemudian diutus oleh Heldring. Namun
C.W. Ottow dan J.G. Geissler, pada tahun 1852 mereka tiba di Batavia, tetapi
karena mereka bukan orang Belanda, mereka lama sekali harus menantikan izin
menetap di Irian. Pada tahun 1854 mereka berada di Ternate, disana terdapat
seorang pendeta GPI dan seorang Residen Belanda, pulau itu untuk beberapa waktu
menjadi pangkalan bagi pekerjaan di Irian. Setelah memperoleh izin dari Sultan
Tidore, mereka mengadakan pelayaran tiga minggu dengan sebuah kapal dagang dan
mendarat di pulau Mansinam, yang didiami suku Numfor (5 Februari 1855). Pulau
itu letaknya di hadapan kota Manokwari yang sekarang, tetapi yang ada pada
waktu itu hanya beberapa kampung kecil, contohnya Doreh. Penduduk
kampung-kampung itu juga orang Numfor, tetapi daerah pedalaman di huni oleh
suku-suku Arfak.
· Berbagai Metode dan Hasil Dari Para Penginjil
Ottow dan Geissler menempuh pekerjaan dengan
cara yang sesuai dengan metode yang telah dianjurkan kepada mereka oleh
Grossner dan Heldring. Mereka adalah Penginjil sekaligus tukang, maka mereka
dengan segera mulai bekerja dengan tangan sendiri seperti menebang pohon,
membangun rumah sendiri. Di kemudian hari mereka berdagang untuk menghidupi
diri, disamping mendapat tunjangan dari pemerintah sebagai imbalan jasa
meyelamatkan awak kapal Eropa yang terdampar. Sesuai dengan asas metode
Grossner-Heldring mereka tidak digaji. Tetapi di samping berdagang mereka
berupaya sekuat tenaga untuk mengikuti panggilan menyebarkan Injil dan
memerangi agama kafir.
Dalam penginjilan yang pertama bagi pekabaran
Injil itu adalah berupa kebaktian yang diadakan pada hari minggu pagi di rumah
sendiri. Caranya secara asasi sama seperti di jemaat yang sudah lama berdiri:
ada doa, ada nyanyian, dan ada kotbah. Kotbah itu berpokok pada penawaran
keselamatan kekal bagi orang yang mau bertobat dan pengancaman kebinasaan kekal
kepada mereka yang tetap berpegang pada kebiasaan kekafirannya.
Agar orang Irian tertarik maka sehabis
kebaktian mereka disuguhi dengan tembakau atau gambir. Mula-mula bahasa
pengantar ialah bahasa Melayu, tetapi pada tahun 1859 kebaktian mulai diadakan
dalam bahasa Numfor. Pada tahun 1861 sudah dapat diterbitkan sebuah kumpulan
lagu-lagu Kristen dalam bahasa itu dan sebelum 1870 beberapa kitab PB sudah
berhasil di terjemahkan.
Akan tetapi disamping menyebarkan Injil, para
zendling juga berupaya memerangi agama kafir. Dalam upaya itu mereka sama
sekali tidak membedakan unsur-unsur keagamaan dengan unsur-unsur
kemasyarakatan. Mereka terpukau oleh upacara-upacara orang Irian yang pada
hematnya bersifat menyanjung-nyanjung tindakan pembunuhan serta perampasan
budak-budak. Karena orang Numfor dan suku-suku disekitarnya hidup dalam keadaan
perang gerilya yang terus-menerus terjadi. Kalau ada orang tewas atau mati
karena suatu penyakit, maka diadakan upacara menari yang adalah merupakan
persiapan membalas dendam, sebab kalau tidak terjadi pembalasan, roh dari orang
yang mati itu dianggap akan marah dan musuh akan menduga kalau mereka itu
lemah.
Para zendling menyebut upacara itu “pesta”
dan menganggapnya sebagai perangsang untuk kejahatan semata-mata, maka mereka
merasa sebagai kewajiban menganggu upacara itu seraya menegur para peserta.
Tetapi mereka menganggu pula upacara lain, misalnya upacara menyongsong Koreri,
bahkan juga upacara inisiasi atau yang bermaksud menjamin keselamatan anggota
suku yang sedang dalam perjalanan.
Jika ada satu dua orang lebih dari orang
Irian dewasa yang ternyata tidak dapat ditarik dengan metode-metode tersebut,
maka para zendling melakukan pendekatan melalui generasi muda. Caranya yang
digunakan ada dua: mereka mendirikan sekolah-sekolah, supaya disana ada anak-anak,
disamping belajar “tiga” (membaca, menulis, menghitung), mereka juga diajarkan
cerita-cerita Alkitab dan belajar menyanyi lagu-lagu Kristen.
Selain itu para Zendling menebus anak-anak
yang telah diperbudak, lalu mendidik mereka dalam rumah mereka sendiri. Mereka
mengharapkan anak-anak itu bisa tumbuh tanpa mengalami pengaruh jahat
masyarakat Numfor, sehingga setelah dewasa bisa menjadi kelompok inti dari
jemaat Kristen, bahkan membantu dalam karya Misi dan P.I. setelah menjadi
dewasa, orang-orang tebusan ini, bersama dengan orang Irian merdeka yang sudah
dibaptis, diharuskan tinggal dalam sebuah kampung Kristen. Meskipun pada metode
ini melekat keberatan-keberatan tetapi dikemudian hari olehnya dihasilkan juga
beberapa tenaga bermutu, seperti Filipus dan guru Petrus Kafiar ( + 1875-1926 ).
METODE JAFFRAY
Robert
Alexander Jaffray (R. A. Jaffray), seorang perintis misionaris The Christian
and Missionary Alliance (CMA), dari Amerika. Lahir dalam keluarga petani, hidup dalam
kesederhanaan dan keluarganya dikenali sebagai keluarga Kristen yang saleh.
Jaffray ke Indonesia pada tahun 1929 yang
pertama dia tiba di Surabaya, Jaffray yang berbahasa Tionghua langsung
mengkontak orang-orang Tionghua dan mereka mendapat kesempatan untuk melayani
di kebaktian penginjilan di salah satu gereja Tionghua.
Jaffray
memulai metodenya dalam hal penerbitan,
karena Jaffray merupakan anak dari seorang pemilik surat kanar terkenal di
kanada, Jaffray menyadari betapa pentingnya media cetak, karena pengalamannya
di Tiongkok telah membuktikan betapa bermanfaatnya bahan bacaan bermutu untuk
pertumbuhan iman dan pembinaan hidup
rohani umat Kristen. Dimulai sejak tahun 1913 ia telah menerbitkan Bible
Magazine (Majalah Alkitab) yang berbahasa Tionghua yang terkenal di kalangan
kaum injili. Tetapi Jaffray juga merencanakan untuk menerbitkan majalah itu
dalam bahasa Melayu (Indonesia). Karena itulah Jaffray mencari sorang yang
dapat menguasai 3 bahasa (Indonesia, Mandarin, Inggris). Dan pada saat Jaffray
mencari itu, Tuhan sudah menyiapkan seorang yang mahir dalam ketiga bahasa itu,
bahkan juga dalam bahasa Belanda yaitu seorang yang bernama P.H. Pouw, dia memegang
peranan penting selama 20 tahun mengembangkan pelayanan C&MA dan GKII. Jaffray
melihat P.H. Pouw itu sebagai orang yang punya potensi untuk bekerja di ladang Tuhan.
Pouw membantu sebagai juru bahasa di mimbar dan ruang kelas, dia juga mempunyai
karunia dalam music.
Dalam
pelayanan Jaffray, banyak orang-orang yang datang ke GKI dan Sekolah Alkitab
ini kebanyakan adalah dari latar belakang Gereja Protestan dan Jaffray dituduh
mengambil domba dari gereja lain. Jafrray menanggapi kalau yang datang ke
gereja, belum tentu sudah menerima keselamatan, dan lewat hadirnya Majalah
Kalam Hidup inilah banyak orang yang mengetahui
jalan keselamatan setelah membaca itu & tidak sedikit dari mereka
yang masuk Sekolah Alkitab. Majalah ini berfungsi sebagai “silent preacher”
(pengkotbah tak bersuara) sampai ke seluruh pelosok tanah air bahkan bukan cuma
gembala, tapi jemaat yang tidak memiliki gembala pun mendapat banyak pengajaran
dan tuntunan melalui majalah ini.
Penginjilan melalui kantor pos. Jaffray tidak pernah menyerah dan selalu
berusaha sangat keras untuk menyebarluaskan Injil dengan berbagai cara. Ia juga
tidak ragu untuk pergi ke tempat-tempat ramai untuk membagi-bagikan surat-surat
selebaran. Dan tahun 1939 munculah gagasan lagi dari Jaffray yaitu memakai jasa
Postel sebagai suatu cara lain untuk menyebarluaskan Inijl. Serta dia juga
menerbitkan traktat-traktat yang disediakan khusus untuk orang-orang yang
berlatar belakang agama-agama timur. Jaffray mengirimkannya melalu pos kepada kurang
lebih 3000 orangpemimpin masyarakat di berbagai tempat di Indonesia.
Penginjilan masal melalui pos ini juga
mendapat kritik kerena dianggap pemborosan , namun Jaffray mereasa damai dan
puas hatinya. Menurutnya, pemborosan yang sesungguhnya adalah kita hanya
menyimpan “benih-benih yang baik itu dalam gudang” sehingga menjadi rusak. Ia
sadar ada tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau oleh media cetak, karena
memang tidak muda sehingga untuk mendapat hasilnya diperlukan kesabaran.
Penerbitan
dan pemasaran buku-buku rohani, penerbitan ini merupakan usaha yang akan terlihat
hasil di kemudian hari. Kalam Hidup termasuk salah satu penerbit injili yang
terbesar di Indonesia.
Penginjilan
yang dilakukan Jaffray, masih ada usaha yang mnunjukkan betapa terbebannya
Kalam Hidup dalam pengkabaran Injil. Misalnya:
1.
Kursus Alkitab Terang Hidup
2.
Penjualan buku keliling
3.
Operasi baji
4.
Kios buku
5.
Operasi mata rantai
6.
Dompet penginjilan
7.
Majalah sahabat gembala
8.
Peroustakaan
9.
Majalah pelangi
10. Siaran
radio
PENDIDIKAN
Pendidikan
ini menjadi penggerak penginilan yaitu dimulai dengan berdirinya Sekolah
Alkitab Makasar yang mempunyai tujuan yaitu:
1.
Menyiapkan para pembimbing bagi orang-orang
kristen yang baru dimenangkan di daerah non-kristen.
2.
Menyiapkan para penginjil yang dapat membuka tempat-tempat
baru.
3.
Meneguhkan iman kaum awam yang ingin belajar
di Sekolah Alkitab tetapi tdk bermaksud menjadi pengerja gereja
4.
Menginjili siswa-siswi sendiri yaitu mereka
yang mengaku dirinya Kristen, tapi belum lahir baru.
Mahasiswa
STT Jaffray aktif menginjili.
Mereka mngumpulkan dana dgn janji
iman, dana yang terkmpul beberapa tim mahasiswa dapat dikirim ke berbagai
tempat untuk mengabarkan Injil, serta mengadakan kebaktian kebangunan rohani.
KESIMPULAN
Perubahan
kebudayaan yang terjadi di Irian Jaya pertama terjadi dalam “pikiran” manusia. Perubahan yang berawal dari
pikiran manusia ini kemudian berkembang karena kreativitas berpikir.
Kreativitas berpikir inilah yang menyebabkan perubahan. Seperti yang kita sudah
pelajari, orang Irian masih menganut
agama asli (pada abad ke- 19).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar