Senin, 14 Agustus 2017

Penginjilan Lintas Budaya

PERUBAHAN KEBUDAYAAN 


Perubahan kebudayaan ditandai oleh terjadinya perubahan bentuk atau arti. Perubahan kebudayaan yang dimaksudkan bisa dapat berbentuk perubahan kecil (minor change), atau perubahan besar (major change) atau modifikasi bentuk dengan arti baru dan fungsi juga baru, atau perubahan dalam bentuk yang lainnya.
            Dalam antoropologi kebudayaan, perubahan yang terjadi menyentuh dua elemen penting. Elemen yang pertama, elemen sivilisasi, yakni perubahan menyangkut hal-hal yang diciptakan oleh manusia termasuk mekanisme untuk menguasai kondisi kehidupan guna memenuhi kebutuhannya sebagai dasar terjadinya perubahan itu. Perubahan ini juga menyangkut seluruh tatanan dan mekanisme kehidupan yang diperoleh manusia di dalam masyarakat di mana ia hidup.
            Elemen yang kedua adalah elemen cultural, yang mencakup world view, asumsi, paradigma, perspektif, dan cara berpikir, pergaulan, seni-sastra, agama.[1]

LOKUS PERUBAHAN KEBUDAYAAN
            Perubahan kebudayaan pasti diawali dari manusia atau kebudayaannya. Perubahan ini pertama terjadi dalam “pikiran” manusia. Perubahan yang berawal dari pikiran manusia ini kemudian berkembang karena kreativitas berpikir. Kreativitas berpikir inilah yang menyebabkan perubahan dapat berkembang dengan pasti.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lokus atau tempat di mana perubahan yang sesungguhnya terjadi ialah di dalam pikiran manusia.
            Lokus perubahan ini menyentuh aspek individu, kepercayaan, etika-moral, karir, sosial (keluarga, kelompok, marga, suku, bangsa, ras), kultural, ekonomi, politik, kenegaraan, dan semua aspek tatanan dan akibatnya yang kompleks.
Lokus perubahan ini terjadi karena beberapa dasar:
1.     Pikiran manusia sebagai lokus perubahan. PIKIRAN adalah lokus utama bagi seluruh perubahan. Perubahan pikiran (paradigma) dengan sendirinya mempengaruhi perubahan asumsi yang tertampung.
2.     Perubahan internal dan eksternal sebagai fokus perubahan. Dari perubahan pikiran itu lah, dapat ditelusuri fokus dari perubahan itu, yaitu perubahan internal yang menyentuh kadar spiritual, etika, dan moral (kematangan rohani), kadar psikologis (kematangan psikologis), dan kadar kemajuan berpikir (kematangan kognitif). Perubahan internal ini merupakan transformasi yang terjadi dalam pikiran manusia, yang membawa kebaruan hakikat, iisi, dan cara berpikir,sehingga menjadi baru. Perubahan internal ini yang menjadi dasar perubahan eksternal.
3.     Perubahan pikiran sebagai dasar perubahan pribadi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apabila pikiran seseorang berubah, maka ia telah berubah secara pribadi, di mana perubahan pikiran berimbas kepada perubahan kehidupan pribadi (perubahan kehidupan kemanusiaan) secara menyeluruh, dari sisi dan tatanan ekonomi, sosial, kultural, dan sebagainya.
4.     Perubahan pikiran dan pengaruhnya terhadap lingkungan kehidupan. Perubahan paradigma seseorang individu akan berimbas, bukan hanya kepada pribadinya, tetapi sudut pandangnya berubah terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Perubahan dimaksud akan mempengaruhi cara ia memandang sesuatu, di ana ia memandangnya secara baru, dan dapat terjadi, ia mengambil sikap baru terhadap apa yang dihadapinya. Dengan demikian, dapat saja dikatakan bahwa perubahan yang terjadi pada individu, akan turut mempengaruhi perubahan perspektif terhadap lingkungan di mana ia berada.[2]

 

FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Sebuah kebudayaan dapat berubah juga karena faktor-faktor penyebab perubahan yang meliputi pengaruh dan elemen berikut:[3]
1.     Pengaruh alkulturasi dan enkulturasi. Alkuturasi adalah pengaruh yang datang dari luar kebudayaan, baik dalam bentuk elemen, maupun prises, sehingga akan membawa perubahan suatu kebudayaan. Sedangkan, enkulturasi pada sisi lain adalah pendidikan dalam kebudayaan, yang bertanggung jawab atas pernerusan nilai-nilai intrinsic kebudayaan yang luhur, tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan.
2.     Key person yang merencanakan perubahan. Perubahan kebudayaan juga dapat tetrjadi karena faktor Key Person atau Orang Kunci dalam kebudayaan yang merencanakan sesuatu yang dengan sendirinya akan membawa perubahan. Dalam skala local, seorang peimpin sebagai key person, katakanlah “kepala adat” dapat melakukan sesuatu yang menjelaskan bahwa ia menginisiasi perubahan.
3.     Kematangan situasi untuk berubah pada tataran masyrakat. Perubahan dalam kebudayaan dapat terjadi karena faktor kematangan situasi internal dalam suatu masyarakat. Faktor kematangan situasi ini menunjuk bahwa perubahan yang terjadi selalu berhubungan dengan adanya “cultural drift” (pertemuan aspek kultural?) baik akrena pengaruh alkulturasi maupun karena enkulturasi, yang terjadi secara perlahan-lahan, karena adanya suatu pengaruh kebudayaan yang dominan.
4.     Ketidak-sengajaan dan keteledoran. Perubahan bentuk dalam kebudayaan dapat terjadi dalam masyarakat adalah karena ketidak-sengajaan atau keteledoran. Model atau bentuk perubahan ini lebih berhubungan dengan proses enkulturasi, di mana generasi tua secara tidak sengaja atau teledor mengajarkan sesuatu kepada generasi muda. Keteledoran ini menyentuh pikiran, yang kemudian menjadi alasan bagi timbulnya perubahan pandangan yang membawa akibat perubahan kebudayaan.  Perubahan seperti ini sering dipompa oleh pengaruh orang kunci, yang olehnya terjadi inisiasi dan penyebaran pengaruh perubahan yang mengubah salah satu, sebagian atau pun aspek total dari suatu kebudayaan. Dalam kondisi sepreti ini, perubahan yang terjadi bisa terwujud dengan pola “efek bola salju” yang semakin hari semakin mempengaruhi lebih banyak orang dalam masyarakat.
5.     Krisis sosial-politik, dan atau alam. Bentuk perubahan lain dalam kebudayaan ialah perubahan yang ditimbulkan oleh krisis, baik krisis yang berbentuk sosial politik,maupun krisis yang disebabkan oleh terjadinya bencana alam. Krisis sosial politik merupakan suatu proses panjang, yang kemudian berujung pada puncak terjadinya revolusi atau ledakan sosial yang menimbulkan kekacauan sosial. Kekacauan sosial seperti ini biasanya merusak sendi dan struktur serta hubungan-hubungan kemasyarakatan, bahkan dapat mengubah wajah peta kependudukan. Dalam keadaan seperti ini biasanya terjadinya kegoncangan budaya, yang kemudian disusul oleh tahap pemulihan (recovery) dan perkembangan baru (new development) yang dapat mewujudkan suatu tatanan kebudayaanbaru di tempat baru.


AKIBAT PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Perubahan kebudayaan dapat terjadi karena berbagai macam faktor dan bentuk penyebab. Perubahan yang terjadi ini basanya menyisakan berbagai akibat dalam masyarakat, dan mencipta derajat perubahan itu sendiri. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa setiap perubahan yang terjadi dapat membawa akibat yang berbentuk positif, misalnya terjadi perumbuhan (growth) yaitu perubahan maju, atau akibat negatif yaitu kemunduran (decay). Perubahan mundur ini dapat terwujud secara cepat (rapid), lambat (slow) maupun bertahap (gradual). Apapun jenis perubahan yang terjadi, akibatnya akan selalu menyentuh tiga aspek antara lain:[4]

1.     Perubahan kehidupan pribadi. Setiap perubahan kebudayaan selalu membawa akibat bagi terjadinya perubahan kehidupan pribadi, yang menyangkut  perubahan kehidupan kemanusiaan dari sisi dan tatanan ekonomi, sosial, kultural, dan sebagainya. Katakanlah, perubahan kebudayaan yang disebabkan oleh keterbukaan terhadap alkulturasi (pengaruh kebudayaan luar) membawa akibat positif, yaitu kemajuan. Perubahan ini akan mempengaruhi setiap individu dalam masyarakat, yang olehnya akan mengubah tatanan dan sistem serta kebiasaan budaya. Ambil sebagai contoh positif, dengan berkembangnya teknologi komunikasi-informasi telepon celluler, semua orang memiliki peluang yang sama untuk menggunakannya, mulai dari kota-kota besar, sampai ke pedalaman, menyentuh masyarakat radisional. Dalam kaitan ini terlihat bahwa struktur hubungan sosial turut berubah, batas kaya miskin bergeser, dan tatanan lain turut berpengaruh.
2.     Perubahan lingkungan, situasi dan kondisi masyarakat dengan kompleksitasnya. Perubahan kebudayaan juga turut mempengaruhi keadaan lingkungan, situasi, dan kondisi masyarakat secara umum. Apabila terjadi perubahan akibat seorang key person atau karena akulturasi atau karena terjadinya krisis sosial-politik maupun alam, semuanya akan mempengaruhi lingkungan kemasyarakatan dengan berbagai aspeknya yang kompleks.
3.     Perubahan yang akibatnya menyentuh banyak aspek kehidupan dengan akibat beragam. Perubahan kebudayan yang terjadi, sesungguhnya menyentuh banyak aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang disertai oleh akibat yang bervariasi. Akibat yang bervariasi atau beragam dari perubahan kebudayaan ini dapat dilihat seperti berikut:
a.     Akibat yang membawa perkembangan maju (growth, atau development). Akibat perubahan kebudayaan dapat membawa perubahan yang mengakibatkan adanya kemmajuan atau perkembangan maju yang positif. Sebagai contoh, penemuan mesin pemintal mengubah kebiasaan menenun kain secara tradisional, dan membawa akibat maju, karena kain untuk pakaian dapat diproduksi secara cepat dalam jumlah yang besar, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Belum lagi ada penggunaan tenaga kerja yang semakin meningkat, sehingga dapat diduga bahwa akibat dari perubahan ini ialah kesejahteraan masyarakat juga turut meningkat. Kondisi ini dapat menunjukkan bahwa ada perubahan maju dan perkembangan yang positif yang menciptakan keseimbangan atau balance dalam kehiduapan masyarakat.
b.     Perubahan kebudayaan juga dapat membawa akibat terjadinya kemunduran, penurunan atau pengurangan secara negative (decline, decay) yang mengarah kepada kerusakan. Akibat perubahan yang positif juga memiliki pengaruh yang negative yang bisa disebut sebagai mundur bahkan merusak karena terjadinya demoralisasi. Demoralisasi bisa dijelaskan dengan digunakannyya teknologi traktor yang memiliki kekuatan “seratus daya kuda” dalam masyarakat tradisional, maka pekerjaan pengolahan lahan pertanian memang cepat, tetapi ada akibat lain, yaitu sang petani yang menggunakannya akan memperoleh banyak waktu kosong, yang mengakibatkan terjadinya kesenjangan penggunaan waktu dan lagi, tenaga kerja manusia akan diistirahatkan untuk waktu yang lama. Dengan demikian, akan terjadi sejenis kegoncangan moral (demoralisasi) dalam masyarakat yang menggunakan traktor besar tanpa menghitungkan kondisi masyarakat setempat, yang mana membawa akibat ketidakseimbangan hidup dalam masyarakat.
c.     Perubahan kebudayaan yang menyempurnakan apa yang ada. Perubahan kebudayaan juga  dapat membawa akibat penyempurnaan apa yang ada atau elaborasi. Proses elaborasi ini menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi karena akulturasi atau enkulturasi,membuat apa yang ada menjadi semakin lengkap dan semakin sempurna. Sebagai contoh, kebiasaan mengeringkan padi dengan panas mata hari dikembangkan dengan teknologi pengeringan padi yang menggunakan tenaga matahari dengan hasil yang lebih sempurna. Dalam kaitan ini perubahan kebudayaan ternyata membawa keseimbangan bagi masyarakat, yang menandakan kemajuan positif.
d.     Akibat perubahan yang dapat menyebabkan penyederhanaan (simplification) apa yang ada atau menjadi spesialisasi maupun generaliisasi. Akibat perubahan seperti ini dapat berarti elemen kebudayaan yang ada, yang terlihat rumit menjadi sederhana, akibat adanya akulturasi. Contoh, mahar atau mas kawin yang dituntut adalah dua puluh ekor kerbau, tetapi akibat perubahan, maka adat-istiadat tetap dijalankan, namun tuntutan mas kawin tersebut dapat digani dengan “uang” yang jumlahnya dapat tidak sebanding dengan harga dua puluh ekor kerbau.
e.     Perubahan yang mewujudkan yang baru dengan mengganti apa yang ada. Perubahan kebudayaan juga dapat berakibat terjadinya suatu kebudayaan yang baru, yang lain sama sekali dengan yang pernah ada. Elemen kebudayaan pengganti ini dappat berupa kebiasaan baru, yang tadinya tidak pernah ada, atau alat baru yang tidak pernah diguunakan sebelumnya. Contoh, kampak batu di Papua yang diganti dengan kampak besi, atau alat potong msin gergaji tangan.
f.      Perubahan kebudayaan yang menenggelamkan yang lama. Perubahan kebudayaan juga dapat berakibat tenggelamnya kebudayaan lama, di mana kebiasaan baru yang terlihat di permukaan akan efektif secara sementara, dan elemen yang tenggelam akan muncul secara dominan, membawa peserta kebudayaan kepada kebiasaan lama. Namun, elemen kebudayaan baru ini ternyata bersifat temporer, dan tidak bertahan lama oleh berbagai macam sebab. Akibanya, kebiasaan kebudayaan yang lama muncul lagi dengan satu dan lain alasan, tetapi menampakkan kehadirannya secara dominan lagi dala masyarakat.

PEKABARAN INJIL DAN GEREJA DI IRIAN JAYA

·      Keadaan Umum
Lapangan P.I Protestan di Irian pada masa yang dibahas dalam bagian ini ialah pantai utara beserta pulau-pulaunya, pulau-pulau di barat (Raja Ampat dan lain-lain), dan daerah pantai selatan bagian barat. Daerah Selatan bagian timur menjadi tempat misi bekerja. Daerah-daerah tersebut berpenduduk jarang sekali, apalagi dalam abad yang lampau, disebabkan keadaan alam serta perang antar-suku yang berkecamuk terus menerus. Beberapa suku yang penting dalam sejarah P.I sampai tahun 1930an ialah suku Numfor (di pulau Numfor dan di pantai timur daerah Kepala Burung) dan orang Biak (di pulau Biak dan berbagai tempat perantauan). Suku-suku yang relatif besar ini pun jumlahnya paling banyak hanya beberapa puluh ribu orang saja, yang hidup berserak, sehingga kampung-kampung sangat kecil. Meninggalkan daerah suku sendiri, malah kampung sendiri, sangat berbahaya.
·      Keadaan Agama
Dalam abad ke 19, orang Irian masih menganut agama asli, kecuali beberapa kelompok di daerah Raja Ampat dan sekitarnya, yang telah masuk Islam akibat pengaruh pendatang dari Maluku. Pada umumnya corak agama Irian asli itu tidak berbeda dengan corak umum agama-agama asli Indonesia. Tetapi ada beberapa istilah dan gejala khusus yang kiranya perlu untuk dibahas, diantaranya:
Patung  anggota keluarga yang sudah meninggal disebut Korwar. Dikampung-kampung orang Biak dan Numfor terdapat gedung-gedung besar, yang bertiang patung-patung nenek moyang, yaitu Rumsram. Gedung itu menjadi tempat tinggal dan pusat pendidikan bagi para pemuda, sekaligus pusat sakral. Di beberapa daerah terdapat himpunan laki-laki yang bersifat rahasia, yang banyak menarik perhatian dalam kehidupan beragama orang Irian ialah gerakan-gerakan Koreri. Gerakan ini tertolak dari mitos tentang Manseren Mangundi. Manseren Manggundi ini merupakan tokoh di zaman purbakala, yang telah memiliki rahasia kehidupan sejahtera yang bebas dari penyakit dan maut, tetapi karena sakit hati berangkat ke Barat. Penduduk Irian yakin bahwa pada suatu waktu Manseren Manggundi akan kembali dan sewaktu-waktu, khususnya pada saat yang genting, mereka terjun ke dalam kegiatan menghimpun makanan, lalu menari-nari dengan maksud mengusahakan kedatangannya, dibawah pimpinan seorang Konoor. Para zendeling tidak menyukai gerakan-gerakan itu, bahkan penjajag belanda pun dimasa itu juga tidak menyukai hal ini.
·      Permulaan Usaha P.I
Yang metintis usaha P.I di Irian ialah dua orang Jerman, hasil didikan Gossner, yang kemudian diutus oleh Heldring. Namun C.W. Ottow dan J.G. Geissler, pada tahun 1852 mereka tiba di Batavia, tetapi karena mereka bukan orang Belanda, mereka lama sekali harus menantikan izin menetap di Irian. Pada tahun 1854 mereka berada di Ternate, disana terdapat seorang pendeta GPI dan seorang Residen Belanda, pulau itu untuk beberapa waktu menjadi pangkalan bagi pekerjaan di Irian. Setelah memperoleh izin dari Sultan Tidore, mereka mengadakan pelayaran tiga minggu dengan sebuah kapal dagang dan mendarat di pulau Mansinam, yang didiami suku Numfor (5 Februari 1855). Pulau itu letaknya di hadapan kota Manokwari yang sekarang, tetapi yang ada pada waktu itu hanya beberapa kampung kecil, contohnya Doreh. Penduduk kampung-kampung itu juga orang Numfor, tetapi daerah pedalaman di huni oleh suku-suku Arfak.
·      Berbagai Metode dan Hasil Dari Para Penginjil
Ottow dan Geissler menempuh pekerjaan dengan cara yang sesuai dengan metode yang telah dianjurkan kepada mereka oleh Grossner dan Heldring. Mereka adalah Penginjil sekaligus tukang, maka mereka dengan segera mulai bekerja dengan tangan sendiri seperti menebang pohon, membangun rumah sendiri. Di kemudian hari mereka berdagang untuk menghidupi diri, disamping mendapat tunjangan dari pemerintah sebagai imbalan jasa meyelamatkan awak kapal Eropa yang terdampar. Sesuai dengan asas metode Grossner-Heldring mereka tidak digaji. Tetapi di samping berdagang mereka berupaya sekuat tenaga untuk mengikuti panggilan menyebarkan Injil dan memerangi agama kafir.
Dalam penginjilan yang pertama bagi pekabaran Injil itu adalah berupa kebaktian yang diadakan pada hari minggu pagi di rumah sendiri. Caranya secara asasi sama seperti di jemaat yang sudah lama berdiri: ada doa, ada nyanyian, dan ada kotbah. Kotbah itu berpokok pada penawaran keselamatan kekal bagi orang yang mau bertobat dan pengancaman kebinasaan kekal kepada mereka yang tetap berpegang pada kebiasaan kekafirannya.
Agar orang Irian tertarik maka sehabis kebaktian mereka disuguhi dengan tembakau atau gambir. Mula-mula bahasa pengantar ialah bahasa Melayu, tetapi pada tahun 1859 kebaktian mulai diadakan dalam bahasa Numfor. Pada tahun 1861 sudah dapat diterbitkan sebuah kumpulan lagu-lagu Kristen dalam bahasa itu dan sebelum 1870 beberapa kitab PB sudah berhasil di terjemahkan.
Akan tetapi disamping menyebarkan Injil, para zendling juga berupaya memerangi agama kafir. Dalam upaya itu mereka sama sekali tidak membedakan unsur-unsur keagamaan dengan unsur-unsur kemasyarakatan. Mereka terpukau oleh upacara-upacara orang Irian yang pada hematnya bersifat menyanjung-nyanjung tindakan pembunuhan serta perampasan budak-budak. Karena orang Numfor dan suku-suku disekitarnya hidup dalam keadaan perang gerilya yang terus-menerus terjadi. Kalau ada orang tewas atau mati karena suatu penyakit, maka diadakan upacara menari yang adalah merupakan persiapan membalas dendam, sebab kalau tidak terjadi pembalasan, roh dari orang yang mati itu dianggap akan marah dan musuh akan menduga kalau mereka itu lemah.
Para zendling menyebut upacara itu “pesta” dan menganggapnya sebagai perangsang untuk kejahatan semata-mata, maka mereka merasa sebagai kewajiban menganggu upacara itu seraya menegur para peserta. Tetapi mereka menganggu pula upacara lain, misalnya upacara menyongsong Koreri, bahkan juga upacara inisiasi atau yang bermaksud menjamin keselamatan anggota suku yang sedang dalam perjalanan.
Jika ada satu dua orang lebih dari orang Irian dewasa yang ternyata tidak dapat ditarik dengan metode-metode tersebut, maka para zendling melakukan pendekatan melalui generasi muda. Caranya yang digunakan ada dua: mereka mendirikan sekolah-sekolah, supaya disana ada anak-anak, disamping belajar “tiga” (membaca, menulis, menghitung), mereka juga diajarkan cerita-cerita Alkitab dan belajar menyanyi lagu-lagu Kristen.
Selain itu para Zendling menebus anak-anak yang telah diperbudak, lalu mendidik mereka dalam rumah mereka sendiri. Mereka mengharapkan anak-anak itu bisa tumbuh tanpa mengalami pengaruh jahat masyarakat Numfor, sehingga setelah dewasa bisa menjadi kelompok inti dari jemaat Kristen, bahkan membantu dalam karya Misi dan P.I. setelah menjadi dewasa, orang-orang tebusan ini, bersama dengan orang Irian merdeka yang sudah dibaptis, diharuskan tinggal dalam sebuah kampung Kristen. Meskipun pada metode ini melekat keberatan-keberatan tetapi dikemudian hari olehnya dihasilkan juga beberapa tenaga bermutu, seperti Filipus dan guru Petrus Kafiar ( +  1875-1926 ).


METODE JAFFRAY
Robert Alexander Jaffray (R. A. Jaffray), seorang perintis misionaris The Christian and Missionary Alliance (CMA),  dari Amerika. Lahir dalam keluarga petani, hidup dalam kesederhanaan dan keluarganya dikenali sebagai keluarga Kristen yang saleh.
Jaffray ke Indonesia pada tahun 1929 yang pertama dia tiba di Surabaya, Jaffray yang berbahasa Tionghua langsung mengkontak orang-orang Tionghua dan mereka mendapat kesempatan untuk melayani di kebaktian penginjilan di salah satu gereja Tionghua.
Jaffray memulai metodenya dalam hal penerbitan, karena Jaffray merupakan anak dari seorang pemilik surat kanar terkenal di kanada, Jaffray menyadari betapa pentingnya media cetak, karena pengalamannya di Tiongkok telah membuktikan betapa bermanfaatnya bahan bacaan bermutu untuk pertumbuhan iman dan  pembinaan hidup rohani umat Kristen. Dimulai sejak tahun 1913 ia telah menerbitkan Bible Magazine (Majalah Alkitab) yang berbahasa Tionghua yang terkenal di kalangan kaum injili. Tetapi Jaffray juga merencanakan untuk menerbitkan majalah itu dalam bahasa Melayu (Indonesia). Karena itulah Jaffray mencari sorang yang dapat menguasai 3 bahasa (Indonesia, Mandarin, Inggris). Dan pada saat Jaffray mencari itu, Tuhan sudah menyiapkan seorang yang mahir dalam ketiga bahasa itu, bahkan juga dalam bahasa Belanda yaitu seorang yang bernama P.H. Pouw, dia memegang peranan penting selama 20 tahun mengembangkan pelayanan C&MA dan GKII. Jaffray melihat P.H. Pouw itu sebagai orang yang punya potensi untuk bekerja di ladang Tuhan. Pouw membantu sebagai juru bahasa di mimbar dan ruang kelas, dia juga mempunyai karunia dalam music.
Dalam pelayanan Jaffray, banyak orang-orang yang datang ke GKI dan Sekolah Alkitab ini kebanyakan adalah dari latar belakang Gereja Protestan dan Jaffray dituduh mengambil domba dari gereja lain. Jafrray menanggapi kalau yang datang ke gereja, belum tentu sudah menerima keselamatan, dan lewat hadirnya Majalah Kalam Hidup inilah banyak orang yang mengetahui  jalan keselamatan setelah membaca itu & tidak sedikit dari mereka yang masuk Sekolah Alkitab. Majalah ini berfungsi sebagai “silent preacher” (pengkotbah tak bersuara) sampai ke seluruh pelosok tanah air bahkan bukan cuma gembala, tapi jemaat yang tidak memiliki gembala pun mendapat banyak pengajaran dan tuntunan melalui majalah ini.
Penginjilan melalui kantor pos.  Jaffray tidak pernah menyerah dan selalu berusaha sangat keras untuk menyebarluaskan Injil dengan berbagai cara. Ia juga tidak ragu untuk pergi ke tempat-tempat ramai untuk membagi-bagikan surat-surat selebaran. Dan tahun 1939 munculah gagasan lagi dari Jaffray yaitu memakai jasa Postel sebagai suatu cara lain untuk menyebarluaskan Inijl. Serta dia juga menerbitkan traktat-traktat yang disediakan khusus untuk orang-orang yang berlatar belakang agama-agama timur. Jaffray mengirimkannya melalu pos kepada kurang lebih 3000 orangpemimpin masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Penginjilan masal  melalui pos ini juga mendapat kritik kerena dianggap pemborosan , namun Jaffray mereasa damai dan puas hatinya. Menurutnya, pemborosan yang sesungguhnya adalah kita hanya menyimpan “benih-benih yang baik itu dalam gudang” sehingga menjadi rusak. Ia sadar ada tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau oleh media cetak, karena memang tidak muda sehingga untuk mendapat hasilnya diperlukan kesabaran.
Penerbitan dan pemasaran buku-buku rohani, penerbitan ini merupakan usaha yang akan terlihat hasil di kemudian hari. Kalam Hidup termasuk salah satu penerbit injili yang terbesar di Indonesia.
Penginjilan yang dilakukan Jaffray, masih ada usaha yang mnunjukkan betapa terbebannya Kalam Hidup dalam pengkabaran Injil. Misalnya:
1.     Kursus Alkitab Terang Hidup
2.     Penjualan buku keliling
3.     Operasi baji
4.     Kios buku
5.     Operasi mata rantai
6.     Dompet penginjilan
7.     Majalah sahabat gembala
8.     Peroustakaan
9.     Majalah pelangi
10.  Siaran radio

PENDIDIKAN
Pendidikan ini menjadi penggerak penginilan yaitu dimulai dengan berdirinya Sekolah Alkitab Makasar yang mempunyai tujuan yaitu:
1.     Menyiapkan para pembimbing bagi orang-orang kristen yang baru dimenangkan di daerah non-kristen.
2.     Menyiapkan para penginjil yang dapat membuka tempat-tempat baru.
3.     Meneguhkan iman kaum awam yang ingin belajar di Sekolah Alkitab tetapi tdk bermaksud menjadi pengerja gereja
4.     Menginjili siswa-siswi sendiri yaitu mereka yang mengaku dirinya Kristen, tapi belum lahir baru.
Mahasiswa STT Jaffray aktif menginjili.
            Mereka mngumpulkan dana dgn janji iman, dana yang terkmpul beberapa tim mahasiswa dapat dikirim ke berbagai tempat untuk mengabarkan Injil, serta mengadakan kebaktian kebangunan rohani.

KESIMPULAN
Perubahan kebudayaan yang terjadi di Irian Jaya pertama terjadi dalam “pikiran” manusia. Perubahan yang berawal dari pikiran manusia ini kemudian berkembang karena kreativitas berpikir. Kreativitas berpikir inilah yang menyebabkan perubahan. Seperti yang kita sudah pelajari, orang Irian masih menganut agama asli (pada abad ke- 19).


[1] DR. Yakob Tomatala, Dasar Pendekatan Pelayanan Lintas Budaya, hal. 247
[2] Ibid, hal. 249-253
[3] Ibid, hal 258-262
[4] Ibid, hal. 263-270

Tidak ada komentar:

Posting Komentar